alexametrics
Selasa, 09 Mar 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah
Sebagian Pengungsi Afvoer Besuk Bertahan

Manfaatkan Sumur Bekas Sondiran Tanah, Tunggu Perbaikan Tanggul Tuntas

22 Februari 2021, 17: 46: 18 WIB | editor : Rojiful Mamduh

MASIH BERTAHAN: Sejumlah pengungsi di tanggul Afvoer Besuk hingga kemarin masih bertahan.

MASIH BERTAHAN: Sejumlah pengungsi di tanggul Afvoer Besuk hingga kemarin masih bertahan. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Tanggul Afvoer Besuk di Dusun Kedunggabus, Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo masih menjadi camp pengungsian warga setempat. Terutama bagi warga yang rumahnya tak jauh dari jebolnya tanggul. Warga mengaku waswas balik ke rumah sebelum perbaikan tanggul tuntas.

AINUL HAFIDZ, Bandarkedungmulyo

Keran tandon air warna kuning dibuka. Suara gemercik air langsung terdengar. Alirannya tak sederas keran pada umumnya. Maklum, di pengungsian tanggul Afvoer Besuk pengungsi mengandalkan kebutuhan air dari tandon.

(ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Tandon dengan tulisan 1.100 liter itupun terisi penuh. Terkadang hanya diisi separo. M Fatoni salah satu pengungsi menuturkan, sampai saat ini ada masih puluhan pengungsi bertahan di tanggul Afvoer Besuk.

Mereka mayoritas warga dari RT 003 RW 11 Dusun Kedunggabus, Desa Bandarkedungmulyo. ’’Pengungsi tanggul sampai hari ini (kemarin, Red) masih ada, soalnya perbaikan tanggul jebol ini belum selesai semua. Jadi warga kalau mau pulang jadi waswas,’’ kata Fatoni Minggu (21/2) kemarin.

Diakui, RT setempat rumahnya paling dekat dengan titik tanggul jebol. Sehingga, untuk sementara memilih bertahan tak pulang ke rumah. ’’Karena adatnya ini, Afvoer Besuk sampai April airnya masih besar, mau pulang tapi waswas tiba-tiba air datang lagi seperti minggu kemarin. Memang kemarin sempat ada beberapa yang pulang, ternyata dini hari air datang lagi,’’ imbuh dia.

Disebutkan, ada sekitar 30 kepala keluarga kini masih menghuni tenda beratap terpal. Mereka mayoritas kaum pria. Karena untuk ibu-ibu, anak, dan manula kata Fatoni, sengaja diungsikan ke tempat lain. ’’Jadi semua yang ada di pengungsian sini laki-laki, karena kondisinya pas di titik bedah (tanggul jebol, Red). Untuk ibu-ibu dan anak kecil serta usia lanjut ngungsi di rumah keluarga terdekat dan sebagian kemarin di pengungsian (balai desa, Red),’’ beber dia.

Diikatakan, seiring kondisi genangan di wilayah permukimannya sudah surut, banyak warga memilih balik ke rumah. sebagian masih bertahan di tenda pengungsian. ”Ada yang pulang Cuma bersih-bersih rumah pagi, sambil jaga rumah. Malam balik ke sini,” bebernya.
Karena masih mengungsi, seluruh kebutuhan terbatas. Mulai dari air bersih hingga makanan. Untuk makanan misalnya, sementara mengandalkan bantuan dari relawan. ’’Di minggu awal masih dipasok dari posko, setelah itu lebih banyak dari relawan. Sampai siang ini masih ada yang memberi bantuan,’’ sambung lelaki ini.

Kebutuhan air bersih juga demikian. Untuk keperluan mandi, cuci serba terbatas. Pengungsi memanfaatkan sumur bor bekas sondiran tanah. Terhitung sejak satu minggu lalu, tepatnya saat air berangsur surut. Terdapat satu titik sumur bor yang berada di dekat tenda pengungsian. Kemudian dimanfaatkan para pengungsi . ’’Jadi kebetulan ada sumber, ini kan bekas sondir tanah yang rencananya kemarin buat jembatan. Sekarang airnya mengandalkan dari situ saja,’’ terang dia kemudian membuka keran lagi.

Air dari sumber itu disedot menggunakan pompa listrik. Lalu dialirkan ke tandon air warna kuning. Puluhan pengungsi sampai sekarang mengandalkan air dari bekas sondiran tanah itu. ’’Tapi hanya buat mandi dan cuci saja. Kalau untuk minum kita ngandalkan air dari relawan, intinya untuk minum dan makan ini yang siap saji. Karena kalau masak ini sulit, kecuali buat kerja bakti,’’ sahut Rokhim pengungsi lainnya.

Diakui, pascabanjir warga masih belum bisa memanfaatkan air dari sumur warga. Selain kondisi airnya masih belum sepenuhnya normal, peralatan juga lebih banyak yang rusak. ’’Sementara ngandalkan ini saja, minimal untuk mandi dan wudhu. Kalaupun pulang tidak ada air bersih dan pompanya juga rusak,’’ terang Rokhim.

Pengungsi tertolong dengan adanya sumber itu. Untuk sambungan aliran listrik juga demikian, masih mengandalkan mesin genset. ’’Untuk genset ini sudah hampir dua minggu. Listrik mulai nyala lagi ini dua hari lalu, tapi tetap pakai ini,’’ sambung dia sembari memperlihatkan mesin itu.

Genset ditaruh di tempat tak jauh dari mesin pompa. Hanya difungsikan saat malam hari. Maklum, dalam semalam menghabiskan sekira Rp 70.000 untuk kebutuhan bahan bakar. ’’Warga ini mayoritas buruh tani, jadi mereka tidak bisa jauh dari rumah,’’ terang Rokhim.

Beberapa tenda terlihat masih berdiri di areal tanggul. Meski lokasinya tak jauh dari tanggul jebol, warga memilih menempati area itu. ’’Nanti baru balik ketika tanggulnya sudah ditutup. Harapannya itu saja, kalau tanggul sudah ditutup Insya Allah sudah bisa hidup normal lagi,’’ pungkas lelaki ini sembari berharap.

Terpisah Zainal Arifin Kades Bandarkedungmulyo mengakui, hingga saat ini belum seluruh warganya kembali ke rumah. Masih ada sebagian menempati tanggul Afvoer Besuk. ’’Jadi ada sebagian yang kembali ke rumah, di tanggul memang sampai sekarang ada tenda. Itu  buat jaga-jaga. Sekalian buat warga yang kepanasan saat kerja bakti nutup tanggul,’’ kata Zainal.

Tenda itu kemungkinan baru dibongkar kala kondisi sudah benar-benar aman. ’’Mungkin karena masih banyak yang kerja, kemudian bantuan juga masih mengalir. Masuknya juga ke situ,’’ imbuh Zainal.

Untuk kebutuhan air bersih lanjut dia, memang sampai sekarang masih mengandalkan bantuan, terutama di Dukuh Kalipuro, Dusun Kedunggabus. ’’Jadi ada dari relawan dan kabupaten, semua tergantung kebutuhan. Kalau awal memang banyak, akan tetapi sekarang sudah berkurang. Karena tinggal di Kalipuro saja, ya mungkin 1-2 tangki,’’ kata dia sembari menyebutkan.

Kendati demikian, untuk kebutuhan air bersih saat ini sangat dibutuhkan. ’’Beberapa hari kemarin sudah ada suplai, cuma hari ini kita minta lagi. Karena mau habis,’’ pungkas Zainal.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP