alexametrics
Selasa, 09 Mar 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget
Melihat Pembuatan Sabit di Pandai Besi

Diwariskan Turun-Temurun, Dikerjakan Manual

22 Februari 2021, 17: 23: 50 WIB | editor : Rojiful Mamduh

MANUAL: Sejumlah perajin dI Dusun Doro, Desa Karangdagangan, pandai besi tengah menyelesikan produk alat pertanian.

MANUAL: Sejumlah perajin dI Dusun Doro, Desa Karangdagangan, pandai besi tengah menyelesikan produk alat pertanian. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Di tengah ketatnya persaingan dengan barang pabrikan, tak menyurutkan semangat perajin pandai besi tetap bertahan. Setiap harinya mereka tetap menghasilkan karya produk alat-alat pertanian yang dibutuhkan petani secara manual. Meski begitu, hasilnya tidak kalah dengan barang pabrikan.

Salah satunya unit usaha pandai besi di Dusun Doro, Desa Karangdagangan, Kecamatan Bandarkedungmulyo yang sudah puluhan tahun masih eksis.

Lokasi bengkel pandai besi di Dusun Doro ini cukup tersembunnyi, meskipun lokasinya berada tepat di samping jalan poros desa setempat. Alunan besi beradu bisa didengar sangat nyaring dari belakang rumah salah satu warga. Di sinilah lokasi pembuatan alat-alat pertanian itu di buat. Di gang dan pekarangan kecil di samping dan belakang rumah Aminin, 51. “Ini sedang membuat sabit,” terangnya saat dikunjungi Jawa Pos Radar Jombang.

Aminin, sudah lebih dari 20 tahun menekuni mata pencaharian sebagai tukang pandai besi. Kemampuannya pun disebutnya telah diwariskan turun temurun. “Awalnya dulu kakek yang membuat sabit, terus berlanjut sampai ke saya, bahkan anak saya ini,” lanjutnya.

Pembuatan alat pertanian dimulainya dari pencarian bahan. Aminin biasa mendapatkan bahan untuk produknya ini di pasar loak. “Kalau di Jombang ya di Pasar Tunggorono, biasanya saya cari besi bagus, yang kandungan bajanya banyak, seperti per atau yang lain,” sambungnya.

Setelah didapatkan, ia pun memulai melebur besi itu. Berbekal tungku ekstra panas, ia melelehkan besi itu dan mulai menyatukannya menjadi bentuk padatan balok. Setelah terbentuk, balok itu kembali dipanaskan hingga memerah dan dikeluarkan.

Proses paling seru dari pandai besi dilakukan setelahnya, yakni memukulnya secara bergiliran. Aminin, bertugas sebagai dirijen, yang menentukan irama ketukan, sejumlah pekerjanya menyusul bergiliran. “Jadi saya yang mengawali, sekaligus membolak-balik besi untuk mengatur bagian mana yang dipukul,” imbuh Aminin.

Proses ini dilakukan berulang hingga besi mulai membentuk sabit. Setelah rampung, besi ini akan ditaruhnya di tempat terpisah untuk dilanjutkan pemolesannya hingga benar-benar tajam. “Ya kan ada empat orang, ini semuanya tugasnya masing-masing, ada yang membentuk, menajamkan juga membuat gagangnya,” tambahnya.

Dibantu tiga pekerja yang juga keluarganya, Aminin menyebut bisa memproduksi hingga puluhan sabit setiap harinya. Sabit-sabit ini biasanya di jual kembali ke pasar di sekitar Jombang. “Ada juga yang dijual ke Madiun hingga Surabaya, tapi lebih banyaknya di Jombang saja, harganya mulai Rp 30- Rp 50 ribu, tergantung ukuran dan kualitasnya,” pungkasnya.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP