alexametrics
Selasa, 09 Mar 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Banjir Mojoagung dalam Catatan Lawas

21 Februari 2021, 08: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Foto tahun 1920, terlihat kebun bibit tebu hancur tersapu oleh banjir.

Foto tahun 1920, terlihat kebun bibit tebu hancur tersapu oleh banjir. (delpher.nl)

Share this      

TAK hanya Bandarkedungmulyo yang punya sejarah banjir sejak puluhan tahun lalu. Di Kecamatan Mojoagung, banjir juga kerap kali menghampiri sejak era kolonial. Bahkan di kecamatan ini banjir masih terus datang setiap tahun.

Catatan paling lama dari banjir Mojoagung, ditemukan tahun 1856. Data ini didapat dari potongan berita pada Soerat Kabar Bahasa Melaijoe yang terbit 15 Maret 1856. Dalam salah satu beritanya, mengabarkan wilayah Mojokerto dan perkebunan tebu Mojoagung sempat terendam banjir.

“Sawah-sawah di sebelah kulonnya (baratnya, Red) Mojoagung dan beberapa tegal tebu penuh air. Tetapi air sudah surut kembali, menjadi orang tidak usah takut akan kerugian dan kerusakan yang lebih banyak. Dari tiga orang yang di bawa air (hanyut, Red) sudah mati dua orang, maka yang ketiga, satu orang (seorang, Red) muda, umurnya 14 tahun, ketulungan (terselamatkan, Red), sebab dia (ber)pegangan alang-alang yang ada di pinggirnya kali (sungai, Red),” dikutip dalam koran itu.

Banjir menggenangi wilayah Kecamatan Mojoagung beberapa waktu lalu.

Banjir menggenangi wilayah Kecamatan Mojoagung beberapa waktu lalu. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Sementara ada pula catatan banjir yang terjadi pada 1920 silam. Bentuknya berupa foto yang menggambarkan putusnya jembatan lori akibat terjangan banjir. “Foto itu, menggambarkan kerusakan yang diakibatkan arus sungai Gunting yang berdampak pada SF Soekodono Mojoagung,” terang Alfian Widi Santoso, penelusur sejarah Kecamatan Mojoagung.

Ia juga memiliki bukti berupa koran De Korier yang terbit tahun 1928 yang menggambarkan kondisi banjir besar di Mojoagung. Ia menjelaskan, dalam koran berbahasa Belanda dari laman delper.nl, digambarkan banjir menggenang hingga empat hari hingga merendam pabrik gula Soekodono Mojoagung. “Berita ini ditayangkan empat koran di sejumlah daerah, misal Priangan, Sumatra dan beberapa lainnya,” lanjutnya.

Dan yang menarik, banjir itu berbarengan dengan tanggal 14 Februari 1928. “Dan kalau kita ingat, itu tanggal banjir terakhir tahun ini, jadi seperti 93 tahun kemudian banjir terulang,” tambahnya.

Hingga sekarang, banjir di Mojoagung belum sepenuhnya hilang. Meskipun air lebih cepat surut. Di tahun 2021 ini saja, banjir setidaknya sudah tiga kali menggenangi wilayah Kecamatan Mojoagung. Yakni (27/1), (2/2) dan terakhir (14/2) kemarin.

“Mojoagung memang bisa dibilang langganan, khususnya beberapa desa seperti Kademangan, saya kira mustahil wilayah itu bebas banjir sampai kapanpun,” terang Imam Bustomi Kabid SDA Dinas PUPR Jombang.

Hal itu menurutnya sangat masuk akal karena secara umum desa itu dikepung tiga sungai besar, yakni Sungai Gunting, Pancir dan Catakbanteng. Secara topografi, desa itu memiliki ketinggian yang jauh lebih rendah dari muka air banjir. “Jadi bisa diprediksi, bila elevasi air di Dam sebelum desa itu sudah di fiscal 360, Kademangan pasti terendam,” lanjutnya.

Kendati demikian, upaya yang dilakukan pemerintah dengan menambah ketinggian tanggul dengan parapet di beberapa sungai yang mengitari desa, sejak tiga tahun lalu, disebutnya cukup membantu. “Minimal banjir sedikit tertunda, dengan penguatan tanggul, kita menghindari jebolan, karena kalau cuma luberan, air biasanya cenderung cepat surut,” pungkas dia.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP