alexametrics
Selasa, 09 Mar 2021
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Pagi Pulang, Malam Balik ke Pengungsian

Hari Ke-15 Banjir di Bandarkedungmulyo

20 Februari 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

LELAH: Seorang ibu dan anak terlihat berjalan dari tenda pengungsian tanggul Afvoer Besuk.

LELAH: Seorang ibu dan anak terlihat berjalan dari tenda pengungsian tanggul Afvoer Besuk. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Hingga hari ke-15, banjir yang melanda wilayah Kecamatan Bandarkedungmulyo sudah  hampir seluruhnya surut. Meski begitu, air masih kerap meluap ke permukiman saat debit aliran sungai naik. Terlebih di sejumlah titiknya kondisi tanggul belum selesai diperbaiki. Karenanya sebagian warga masih tetap memilih tinggal di pengungsian.

Pantauan di lokasi, sejumlah tenda masih terlihat berdiri (19/2), baik di tanggul Afvoer Besuk dan juga tanggul sungai Brantas. Umumnya mereka berasal dari warga Dusun kedunggabus, Desa Bandarkedungmulyo.

Terlihat aktivitas sejumlah pengungsi tengah berada di dalam tanggul beratapkan terpal. Sengatan panas matahari siang itu menjadikan sebagian mereka sibuk mengibaskan kipas untuk melawan hawa panas dalam tenda. Di antara mereka terlihat dari kelangan anak-anak, termasuk lansia.

Mereka terlihat cukup nyaman beristirahat dengan memanfaatkan alas tikar seadanya. Sementara itu, beberapa warga lainnya terlihat hilir mudik membawa sak berisi pasir.

Maklum, penanganan tanggul jebol di dusun setempat mulai dilakukan. Sejak pagi air yang sempat menggenangi permukiman cenderung surut. Namun, warga masih waswas meninggalkan tenda pengugsian di tanggul. ”Kadang pagi surut, sore air naik lagi,” terang M Shulton, salah satu pengungsi tanggul  Avfoer Besuk.

Sulthon menerangkan, sebenarnya dia dan keluarganya tidak nyaman mengungsi di tanggul Afvoer Besuk. Namun demikian, dia tak punya pilihan lain kecuali bertahan meski saat ini genangan air di permukiman sudah hampir seluruhnya surut. ”Pagi ini tadi airnya surut, saya pulang bersih-bersih rumah yang kondisinya porak-poranda. Tapi malam balik lagi ke tenda,’’ kata Shulton.

Selain waswas banjir susulan, salah satu alasan dia mengungsi di tanggul afvoer Besuk aksesnya lebih dekat dengan rumah. Sementara jika mengungsi ke balai desa, lokasinya terlalu jauh. ”Kalau di sini lebih dekat dengan rumah, jadi sekalian bisa mantau,’’ imbuh dia.

Untuk kebutuhan makan lanjut dia, meski masih mendapat suplai. Tak jarang dia masak sendiri. Beberapa peralatan masak nampak di dekat tenda pengungsian. Tandon air berwarna kuning dengan kapasitas 1.100 liter juga diletakkan dekat tenda. ’’Alhamdulillah sudah ada,’’ sambung Sulthon.

Menurutnya, warga masih dilanda rasa khawatir ketika tanggul belum ditangani. ’’Lebih baik di sini, dari pada balik ke rumah banjir lagi. Paling ke rumah kalau pagi bersih-bersih itu saja,’’ pungkas Sulthon.

Pemandangan serupa juga nampak di tangul Sungai Brantas. Puluhan tenda terpal dengan beragam warna masih menghiasi area itu. Hingga kini ratusan warga masih bertahan. ’’Jadi sampai hari ini pengungsi masih ada. Untuk di balai desa ini pagi mereka pulang, malam hari balik lagi,’’ kata Zainal dikonfirmasi.

Tidak hanya di area posko balai desa, untuk tanggul Brantas juga demikian. ’’’Di tanggul masih ada, rata-rata mereka juga balik balik malam hari. Paginya bersih-bersih, karena tanggul belum terkunci,’’ pungkas Zainal.

Sementara itu, Mahmudi Camat Bandarkedungmulyo mengakui, penananganan jebolnya tanggul Avfoer Besuk dan Mekikis di dusun setempat mulai dikerjakan. Hanya saja, warga tetap memilih mengungsi. ’’Tanggul sudah mulai dibenahi, tetapi pengungsi masih ada dan belum balik lagi,’’ kata Mahmudi. Menurutnya, karena sebagian warga masih ketar-ketir banjir susulan. ’’Hari ini (kemarin, Red) masih ada ya kira-kira 100 orang lebih yang menungsi,’’ pungkas Mahmudi.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP