alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Gurih Renyah Kerupuk Rambak Sambirejo

Punya Resep Khusus, Bentuk Kotak Mirip Tahu

15 Februari 2021, 17: 18: 09 WIB | editor : Rojiful Mamduh

GURIH: Proses penjemuran krecek rambah mengandalkan panas matahari. Irisan kerecek rambak dibuat ke bentuk persegi panjang.

GURIH: Proses penjemuran krecek rambah mengandalkan panas matahari. Irisan kerecek rambak dibuat ke bentuk persegi panjang.

Share this      

JOMBANG - Jika kerupuk rambak identik dibuat dari bahan kulit sapi, di Desa Sambirejo, Kecamatan Jogoroto, kerupuk rambak dibuat dengan bahan tepung. Bentuknya mirip dengan kerupuk rambak yang dibuat dengan kulit sapi.

Seperti pembuat kerupuk di Dusun Pelengkung, Desa Sambirejo ini. Di dusun ini, sedikitnya ada tujuh unit usaha hingga kini masih aktif membuat camilan renyah nan gurih ini.

Salah satunya adalah Ulaifah, 45. ”Dulu banyak yang membuat kerupuk rambak atau kerupuk tahu begini, sekarang tinggal tujuh saja, sisanya ada yang tutup, ada juga yang beralih ke pembuatan kerupuk lain,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Ia menyebut, kerupuk buatanya seringkali disebut kerupuk rambak karena bentuknya yang mirip dengan kerupuk rambak dari kulit sapi. Ada juga yang menyebutnya kerupuk tahu, nama ini berasal dari bentuk kerupuk yang memang kotak-kotak dan saat digoreng menyerupai tahu. ”Yang kotak juga ada dua biasanya, ada yang kotak pendek kayak tahu beneran, ada juga yang kotak panjang berbentuk balok seperti kerupuk produksi saya,” lanjutnya.

Pembuatan kerupuk ini, disebutnya juga membutuhkan waktu yang lumayan panjang. Diawali dari mencampur tepung beras dan tepung terigu sebagai bahan utamanya. Tepung ini, harus dicampur dengan air kemudian digiling hingga kalis. ”Ditambahi bumbu juga biar makin gurih, tapi bumbunya ini rahasia perusahaan,” imbuh ibu empat anak ini.

Setelah kalis (tidak lengket), adonan harus didiamkan dulu satu malam agar benar-benar pas kepadatannya. Barulah keesokan harinya, adonan itu dipotong sesuai bentuk kerupuk dan dijemur. ”Penjemuran ini kita mengandalkan matahari, paling cepat dua hari biasanya, kalau musim hujan begini malah bisa lebih lama,” tambah Ulifah.

Setelah kering sempurna, krecek siap digoreng. Proses penggorengannya juga harus menggunakan minyak yang benar-benar panas agar kerupuk mengembang sempurna. ”Jadi menggorengnya ini kita pakai tungku, tapi ditiup pakai mesin, biar apinya terjaga, tidak udah mati,” lontarnya.

Dibantu empat pekerjanya di rumah, Ulifah mengaku bisa memproduksi satu hingga empat kuintal adonan krecek setiap harinya.

Namun, ia menyebut tak pernah menjual krecek, ia lebih memilih menjual siap konsumsi, karena harganya yang bisa lebih tinggi. ”Yang dibungkus kecil harganya biasanya Rp 500, kalau ukuran besar, menyesuaikan  biasanya Rp 14 ribu itu ukuran setengah kilogram,” pungkasnya.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP
Artikel Lainya