alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Banjir Bandarkedungmulyo, Bukan Kejadian Baru

14 Februari 2021, 08: 05: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Kondisi Jalan Nasional di Kecamatan Bandarkedungmulyo pada saat tergenang banjir di tahun 1963.

Kondisi Jalan Nasional di Kecamatan Bandarkedungmulyo pada saat tergenang banjir di tahun 1963. (FOTO DARI KANTOR DJAWATAN PENERANGAN PROVINSI JAWA TIMUR)

Share this      

JOMBANG - Masih seputar banjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Bandarkedungmulyo, dari data yang didapat Jawa Pos Radar Jombang, ternyata Bandarkedungmulyo sejak dulu telah akrab dengan bencana ini.

Setidaknya ada empat foto dari masa lampau yang bisa menggambarkan seputar banjir. Seperti foto tahun 1920 koleksi Universitas Leiden Belanda. Foto monokrom itu menggambarkan kondisi jalur utama Kertosono-Jombang yang terendam air, dengan anak-anak kecil terlihat duduk di batang tiang penanda banjir.

Foto lain, juga didapat dari Kantor Djawatan Penerangan Provinsi Jawa Timur. Setting foto ini diperkirakan tahun 1963 saat banjir besar melanda Bandarkedungmulyo. Terdapat tiga gambar yang menceritakan banjir. Mulai dari warga yang mengungsi dengan menggendong anaknya, mobil jeep yang melintasi banjir. Serta jalur kereta yang sempat terdampak banjir.

Kondisi Jalan Nasional di Kecamatan Bandarkedungmulyo pada saat tergenang banjir di tahun 2021.

Kondisi Jalan Nasional di Kecamatan Bandarkedungmulyo pada saat tergenang banjir di tahun 2021. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Hal ini diakui beberapa warga Desa Bandarkedungmulyo yang ditemui di pengungsian tanggul Brantas. Banjir disebut mereka ada sejak dulu. “Saya masih usia SD, seingat saya kondisi seperti ini pernah terjadi tahun 1963 atau 1964. Besar sekali airnya, sampai saya harus juga mengungsi ke tanggul ini,” terang Mulyadi, 70, salah seorang warga Dusun Kedunggabus, Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo.

Hal serupa juga disampaikan Mahmudi Camat Bandarkedungmulyo. Sejak dulu sembilan dari 11 desa di Kecamatan Bandarkedungmulyo adalah kawasan yang rentan banjir.

“Bahkan sejak sebelum Merdeka, kondisinya sudah begitu, sempat muncul istilah bonorowo untuk menyebut Sembilan desa yang sering jadi genangan,” terangnya.

Penyebab banjir itu lantaran lima sungai yang melintasi kecamatan, yakni Afvour Besuk, Afvour Brawijaya, Afvour Mekikis, Kali Konto dan Afvour Karangpilang. Seluruh jaringan sungai itu bermuara di sungai Brantas setelah melalui wilayah sembilan desa itu.

“Jadi kita ini di hilir, tanahnya rendah, sungainya banyak, sementara pembuangannya tidak optimal karena sumbatan sebelum masuk ke Brantas. Banjir terparah akhirnya terjadi tahun 1963,” lanjut dia.

Dari data yang ia punya, tahun 1965 atau setahun setelah banjir melanda, sejumlah kepala desa di wilayah Kecamatan Perak (sekarang ikut Bandarkedungmulyo,Red) harus membeli sebidang tanah di Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh. “Saat itu kita masih gabung Perak, kepala desa urunan membeli tanah untuk dijarikan sudetan agar air bisa mengalir lancar ke Brantas,” tambahnya.

Banjir sangat terbantu mulai tahun 1985, saat marak penggalian pasir liar di wilayah Sungai Brantas. Penggalian pasir itu membuat banyak gumuk yang menghambat hilir lima sungai ini jadi hilang. “Dari itu mulai lancar airnya, sudah jarang banjir lagi,” tegas Mahmudi.

Namun, banjir akhirnya kembali datang 36 tahun berselang. Tepatnya 4 Februari 2021, banjir besar kembali menerjang enam desa di Kecamatan Bandarkedungmulyo. Pada puncak banjir kali ini 15.000 jiwa terdampak. Ribuan orang juga harus mengungsi. Hingga kemarin (13/2), banjir belum bisa surut sepenuhnya meski genangan terus berkurang.

(jo/riz/jif/JPR)

 TOP
Artikel Lainya