alexametrics
Minggu, 28 Feb 2021
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget
Dr Diah Puji Nali Brata

Mengabdi Tanpa Tapi

Tetap Fashionable dan Sehat

11 Februari 2021, 08: 10: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Dr Diah Puji Nali Brata

Dr Diah Puji Nali Brata

Share this      

JOMBANG - Kasih tanpa tapi. Tiga kata itu memiliki makna yang mendalam bagi Dr Diah Puji Nali Brata Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STKIP PGRI Jombang. Menjadi seorang wanita karir, ia harus mengabdi pada lembaga, juga pada suami. Semua pengabdian harus dijalani dengan ikhlas.

”Saya harus mengabdi di kampus dan di rumah tanpa tapi. Tapi saya capek, tapi saya begini, begitu. Itu yang ingin saya bangun di usia sekarang,” ucap warga Perum Kedundung Indah Kota Mojokerto ini.

Sebagai perempuan berpendidikan tinggi, Diah tak pernah melupakan kodratnya sebagai istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak.

Di kampus ia menjalankan tugas sebagai dosen. Tapi setelah pulang, semua atribut dosen ditanggalkan, ia berperan maksimal menjadi ibu. Mulai menyediakan makanan, hingga belanja kebutuhan rumah.

”Pernah suatu ketika saya pulang dari kampus, suami pegang perut sambil bilang lapar, tanpa lepas sepatu saya hanya cuci tangan langsung masak, saya tidak akan membiarkan keluarga tanpa makanan,” ulasnya.

Setelah ia menikah dan menjadi seorang ibu, berkarir juga merupakan jalan atas izin sang suami. Termasuk menempuh pendidikan hingga menjadi seorang doktor. Semua atas izin suami.

Ia selalu mengingat kalimat yang menyebut ‘Setinggi apapun jabatan seorang istri, harus paham betul tentang kewajiban utama sebagai seorang ibu.

”Itu kata bijak suami yang masih saya ugemi sampai sekarang, dan Alhamdulillah memasuki usia pernikahan ke-25, saya tidak pernah meninggalkan kodrat sebagai ibu.

Saya juga suka di dapur, dan harus bisa memenuhi kebutuhan keluarga, harus pandai bagi waktu,” ungkap Doktor jebolan Universitas Negeri Malang 2017 ini.

Baginya cantik tidak hanya dari sisi luar, tapi juga dari sisi dalam. Ia menyebutnya dengan inner beauty. Dengan menjadi pribadi yang baik, dan menempatkan diri sesuai dengan posisinya.

Di rumah ia harus bisa memberi teladan untuk anak-anaknya. Sedangkan di kampus, ia harus memberi teladan untuk mahasiswa.

”Setiap yang saya lakukan harus jadi panutan yang baik, perilaku jadi panutan, bahasa jadi panutan,etika juga jadi panutan,” ujar ibu dua anak ini.

Tahun ini, Diah memasuki usia 52 tahun. Setengah abad lebih usianya, ia terlihat masih ceria. Postur tubuhnya juga proporsional dengan berat 60 kilogram dan tinggi badan 165 sentimeter. Ditunjang penampilannya yang modis dan fashionable.

Ia mengaku tak pernah menjalani perawatan kecantikan yang berlebihan. Sesekali, ia mendatangkan tenaga kecantikan ke rumah untuk sekadar facial. ”Hanya itu, tidak pernah suntik putih atau yang lainnya,” jelasnya.

Selera make up yang dipakai juga tidak berlebihan. Hanya polesan alis berwarna cokelat, bentuknya kecil dan cenderung natural.

Ditambah dengan polesan lipstik yang tidak terlalu tebal. ”Make up sewajarnya saja, tidak bisa pasang bulu mata atau lainnya,” ungkap istri Sugeng Hariono ini.

Terkait fashion, ia tidak berlebihan. Hanya mix and match warna pakaian. Misalnya ia menggunakan baju berwarna cokelat, maka dipadukan dengan hijab warna senada.

Begitu pula tas yang ia bawa sehari-hari, warnanya juga diserasikan dengan pakaian yang ia kenakan.

Penampilan ini disempurnakan dengan aksesoris seperti kalung panjang, gelang di sisi kiri, cincin dan jam tangan di sisi kanan.

Masker yang saat ini menjadi syarat utama protokol kesehatan juga ia kreasikan. Ia tambah gantungan masker dan pengait masker yang elegan.

”Fashion saya juga tidak terlalu mahal, tidak harus branded, yang penting nyaman,” jelasnya.

Untuk semua tampilannya, ia cukup menjaga ketat kesehatan. Rahasia kulit kencang dan tubuh sehat sampai sekarang adalah banyak minum air putih.

Selain itu, di meja makan wajib ada buah. Meski pepaya mendominasi dan paling sering dihidangkan. Namun buah lain seperti apel dan melon juga ada.

”Sekarang saya juga  mengurangi konsumsi karbohidrat, Alhamdulillah tidak ada kolesterol, atau keluhan asam urat,” ungkap dia.

Untuk olahraga, yang digemarinya joging. Setiap hari, sebelum mengajar, ia menyempatkan diri jalan-jalan di sekitar rumah. Minimal satu jam sebelum menjalani aktivitas di kampus. ”Setiap habis subuh jalan-jalan, baru kemudian masak dan jam 07.00 sudah siap mengajar,” pungkasnya.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP
Artikel Lainya