alexametrics
Jumat, 22 Jan 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

775 Hektare Areal Sawah Tergenang

13 Januari 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

MASIH TERGENANG: Hektarean sawah milik warga Dusun Beluk, Desa Jombok, Kesamben masih tergenang banjir beberapa waktu yang lalu. Hingga kemarin masih terendam banjir.

MASIH TERGENANG: Hektarean sawah milik warga Dusun Beluk, Desa Jombok, Kesamben masih tergenang banjir beberapa waktu yang lalu. Hingga kemarin masih terendam banjir. (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Selain harus menangangi banjir yang menerjang permukiman warga, Pemkab Jombang juga harus memikirkan nasib petani di Kecamatan Kesamben. Pasalnya,  dari data sementara, total areal sawah yang tergenang mencapai 775 hektare.

Agus Santoso, Camat Kesamben mengatakan, banjir yang menggenangi areal sawah di Kecamatan Kesamben sangat masif. Dari data yang dia himpun, sampai dengan 8 Januari tercatat total luasan areal sawah terendam banjir mencapai 775 hektare. ”Sebanyak 735 lahan sudah tanam, 40 hektare sisanya lahan persemaian,” imbuhnya.

Luasan areal sawah tersebar di 10 desa. Masing-masing desa Jombok 55 hektare, Carangrejo 30 haktare, Watudakon 178 hektare, Kedungmlati 95 hektare, Kedungbetik 120 hektare, Jombatan 50 hektare, Podoroto 130 hektare, Pojokrejo 25 hektare, Pojokkulon tujuh 7 hektare, dan Desa Kesamben 85 hektare.

”Jadi total keseluruhan mencapai 775 hektare yang tergenang, mayoritas sudah tanam. ’’Paling parah ini di Desa Watudakon datanya 178 hektare dengan umur tanaman rata-rata satu sampai dua minggu,’’ pungkas Agus.

Terpisah, Sustiyo Budiyanto, Kasun Beluk, Desa Jombok mengatakan, sampai Selasa (12/1) banjir yang melanda wilayah permukiman warga belum surut. Sebaliknya di sejumlah titik, ketinggian air justru naik. ”Belum surut, ini malah cenderung naik airnya,” bebernya.

Selain menghadapi banjir di permukiman yang tak kunjung surut, beban warga juga bertambah. Pasalnya, banjir juga menggenangi puluhan haktera areal sawah yang mayoritas sudah ditanami padi. ”Perkiraan sekitar 80 hektare lebih,’’ kata Sustiyo kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Dikatakan, mayorita areal pertanian sudah tertanami padi. ’’Mayoritas padi, baru tanam umur sekitar 1-2 mingguan,” bebernya.

Lantaran sudah sepekan lebih tergenang, besar kemungkinan seluruh tanaman rusak. ”Ini sudah lebih dari satu minggu kena banjir, kemungkinan besar tanaman mati semua, harus tanam ulang, itupun menunggu banjir surut,’’ imbuh dia.

Jika dirata-rata per hektare biaya tanam mencapai Rp 6 juta, maka jika diakumulasi kerugian material bisa mencapai ratusan juta. ’’Ya sekitar Rp 480 juta, itu kalau 80 hektare. Katakan satu hektare biaya tanam kemarin sekitar Rp 6 juta,’’ rinci Sustiyo.

Kendati demikian, untuk saat ini para petani tak bisa berbuat banyak. Mengingat air belum sepenuhnya surut. ’’Serba repot, sekarang yang permukiman belum surut. Apalagi sawah,’’ sambung dia.

Dia berharap nantinya ada perhatian dari dinas terkait. ’’Harapannya nanti ada tindakan dari pertanian langkahnya bagaimana. Soalnya yang kena luas dan banjirnya tidak satu atau dua hari saja,’’ pungkas Sustiyo.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP