alexametrics
Jumat, 22 Jan 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah
Bercocok Tanam Hidroponik

Perawatan Lebih Mudah, Hasil Melimpah di Lahan Sempit

10 Januari 2021, 16: 35: 19 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Tanaman hidroponik di kebun Adi Subiyantoro

Tanaman hidroponik di kebun Adi Subiyantoro

Share this      

Menanam dengan metode hidroponik menjadi salah satu solusi untuk bercocok tanam di lahan yang minim. Selain perawatannya mudah, tanaman yang dihasilkan cukup melimpah. Seperti apa?

WENNY ROSALINA, Diwek

”Awalnya memang hobi, sekaligus memanfaatkan lahan yang ada di belakang rumah, jadi saya bikin hidroponik untuk menambah penghasilan keluarga,” ucap Adi Subiyantoro, warga Desa Kwaron, Kecamatan Diwek.

Ia mulai menanam secara hidroponik sejak 2014 lalu. Saat itu, ia melihat lahan di belakang rumahnya seluas 10x12 meter persegi nganggur tak terpakai. Kemudian ia berinisiatif untuk menanam sayuran dengan cara hidroponik. Selain perawatannya mudah. Kapasitas tanam juga banyak dengan lahan yang tidak terlalu luas.

Hal ini dipilihnya sekaligus ingin memberi inspirasi ke anak-anak muda yang tidak bisa menanam dengan media tanah. Menggunakan cara hidroponik ternyat tanaman tetap bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. Tapi juga bersih. ”Anak-anak yang tidak mau ke sawah, bisa pakai cara hidroponik ini karena lebih bersih,” jelasnya.

Keunggulan metode tanam hidroponik lainnya adalah nutrisi dan kandungan unsur hara yang sudah terukur. Hidroponik tak jarang juga terganggu hama. Hanya saja, jika bisa merawat dengan baik, hama bukan jadi masalah serius. ”Hamanya ulat dan liur ulat, tidak fatal tapi nanti merusak daun, jadi bolong-bolong sehingga tidak terlihat bagus,” jelas dia lagi.

Keunggulan lainnya, sayuran yang ditanam dengan cara hidroponik lebih tahan lama. Bisa bertahan satu minggu dalam suhu ruangan hanya dibungkus dengan plastik. Di awal belajar, Adi masih mencari referensi melalui rekan maupun dari internet. Bahkan awal-awal, ia sempat gagal panen. ”Karena belum bisa menyesuaikan perawatan dengan cuaca,” bebernya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, pengalamannya bertambah. Tanamannya tumbuh subur hingga berhasil panen dengan hasil yang bagus. Menurutnya, menanam dengan cara hidroponik cukup mudah. Hanya perlu rutin cek air, kadar nutrisi, Ph dan keasaman air, serta kebersihan air yang perlu dijaga.

Selain sawi pak coy, banyak sayuran yang ditanam secara hidroponik ini. Seperti daun mint, seledri dan bayam Brazil. ”Saya juga tanam bayam merah, selada, tapi masih kecil-kecil,” ungkapnya.

Daun mint yang terlihat tumbuh sangat subur hingga menjuntai ke bawah. Daun mint hampir sama dengan seledri. Tidak ada batasan waktu panen.

Namun harus rutin dipotong bagian pucuk daun, agar daun tetap tumbuh subur. Berbeda dengan jenis sayuran lain yang memiliki masa panen.

Umumnya sekali cabut. Seperti sawi-sawian bisa dipanen saat usia 28-30 hari. Bayam 28 hari dan kangkung cukup 14 hari. ”Semua sistem cabut, termasuk kangkung juga sekali cabut. Kalau daun mint dan seledri hanya perlu dipotong ujungnya agar bertunas lagi, sampai mati sendiri nanti,” jelas ayah dua anak ini.

Hasil panen selama ini ia jual ke pasar-pasar. Termasuk ke komunitas vegetarian. Tidak hanya di Jombang, namun hingga Surabaya. ”Sering juga kehabisan, tapi saya sudah punya binaan dan jaringan. Jika punya saya habis, bisa ambil punya teman-teman untuk setor ke suplier,” pungkasnya bangga.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP