alexametrics
Jumat, 22 Jan 2021
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Masjid Baitus Sujud Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek

Dibangun 1920-an, Pertahankan Bangunan Utama

01 Januari 2021, 07: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Tampak depan Masjid Baitus Sujud di Dusun Jaten, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek

Tampak depan Masjid Baitus Sujud di Dusun Jaten, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek

Share this      

JOMBANG – Masjid Baitus Sujud di Dusun Jaten, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek menjadi salah satu masjid tua. Masjid ini dibangun kisaran 1928. Bentuknya tak begitu besar. Kubahnya terlihat lain karene lebih kecil seperti kendil dan di atasnya runcing.

M Yusuf Bahrur Rozin salah seorang pengurus masjid mengungkapkan, masjid Baitus Sujud berdiri sebelum kemerdekaan. ’’Jadi sejak 1928, dibangun mbah saya,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang, Kamis kemarin (31/12).

Menurutnya, terdapat angka arab di salah satu material masjid. Dia memprediksi angka tersebut menunjukkan pembangunan masjid kala itu. ’’Di-blandar ada tulisan arab 1928, juga ada latinnya. Sekarang masih ada, tapi tertutup plafon,’’ imbuh dia.

Sejak saat itu hingga sekarang, kata Yusuf, masjid pernah tiga kali direhab. Namun, hanya bagian serambi. Tanpa menyentuh bagian utama masjid. ’’Jadi nambahi depan saja, sama bagian mimbar,’’ sambungnya.

Untuk mimbar misalnya, sebelumnya terdapat dua tempat. Masing-masing untuk imam dan tempat khutbah. Sekarang dijadikan satu. ’’Dari tiga kali rehab menambah bagian depan dan imam saja,’’ terang dia lagi.

Adapun bagian yang masih dipertahankan selain kubah masjid, juga dua tempat kanan dan kiri. ’’Ini kamar kecil juga masih asli. Sekarang yang kanan dipakai untuk tempat jamaah putri, sementara yang kiri dipakai peralatan masjid,’’ ungkapnya sembari menunjuk lokasi.

Dijelaskan, masjid itu dibangun almarhum KH Abdul Majid yang notabene kakeknya sendiri. Di area itu dulu merupakan pusat kegiatan keagamaan. ’’Setiap ada acara ngaji tetangga dusun sekitar, ke sini semua,’’ terang dia. Meski tak seperti pondok, dulu jamaahnya begitu banyak yang berasal dari desa sekitar. ’’Ngaji terpusat di sini,’’ bebernya.

Saat ini, keberadaan masjid selain digunakan jamaah salat, juga kegiatan keagamaan. ’’Ngaji rutinan dan TPQ, juga tahlilan,’’ pungkas Yusuf.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP