alexametrics
Jumat, 22 Jan 2021
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh
Lebih Dekat dengan dr Heri Wibowo

Rayakan Natal Sederhana Bersama Keluarga

27 Desember 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

SUPEL: Dr Heri Wibowo mantan Kadinkes Jombang yang merayakan hari raya natal kemarin.

SUPEL: Dr Heri Wibowo mantan Kadinkes Jombang yang merayakan hari raya natal kemarin. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Nama dr Heri Wibowo di Pemkab Jombang cukup familiar. Sosok dokter supel ini pernah dipercaya menjadi Kadinkes oleh Bupati Suyanto sejak 2012 hingga era Bupati Nyono Suharli Wihandoko 2017. Torehan prestasi tingkat nasional pun pernah diraihnya.

Heri Wibowo merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Sumarso Gito Wiryono dan Siti Ngabini asal Karangtalun, Karangdowo, Klaten, Jawa Tengah. Pria kelahiran 21 Agustus 1965 ini sebenarnya bernama asli Sri Wibowo. Namun karena terkesan seperti nama perempuan, sehingga diubah oleh guru SD-nya menjadi Heri Wibowo.

”Saat itu belum ada akta kelahiran, dan orang tua saya juga menyetujui,’’ kenangnya. Heri mengawali pendidikannya di SDN 1 Karangtalun lulus 1977, SMPN 1 Karangdowo lulus 1980 dan SMAN 1 Klaten lulus 1984.

Setelah lulus, ia kemudian melanjutkan kuliah di Unair Surabaya Fakultas Kedokteran lulus 1990. ”Saya berhasil menyelesaikan pendidikan tepat waktu dan mendapat beasiswa supersemar saat Presiden Soeharto,’’ terang bapak tiga anak ini.

Lulus dari Unair, Heri sempat bekerja sebagai dokter umum di RSK Mojowarno selama satu tahun. Setelah itu, ia mengikuti rekrutmen PNS Kemenkes 1990. ”Saya lolos, tugas pertama ditempatkan di Puskesmas Jogoloyo sebagai dokter umum,’’ imbuhnya. Rutinitas sebagai dokter umum dijalaninya cukup lama hampir 10 tahun.

Hingga kemudian, 2001 ia ditarik ke birokrasi dan diberi amanah baru menjadi Kasi Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan lingkungan (P2PL) Dinas kesehatan. ”Mungkin saat itu saya satu-satunya dokter umum yang dipercaya menjadi kasi,’’ terang dia.

Lantaran tak terbiasa, di awal tugasnya, ia mengaku sempat kesulitan beradaptasi. Kebiasaannya yang semula berkutat dengan jarum suntik dan rintihan pasien, harus berubah karena cenderung pada administrasi kantor. Heri kemudian mengajukan pengunduran diri. ”Namun berkali-kali saya tidak diizinkan,’’ tandasnya.

Pada 2006, Heri mengajukan izin belajar untuk menempuh pendidikan pascasarjana di Unair Surabaya. Program magister yang dipilih Managamen Kesehatan karena fokus pada managemen rumah sakit. Ia pun menempuh pendidikan tanpa meninggalkan tugasnya sebagai kasi P2PL Dinkes.

Harapannya terpenuhi, ketika di tengah-tengah studinya, pada masa Bupati Suyanto, ia  dimutasi menjadi Kepala Puskesmas Mojoagung. ”Saya lulus di Unair 2006,’’ terangnya.

Heri tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya karena dipercaya menjadi kepala puskesmas. ”Setahun kemudian, Puskesmas Mojoagung berprestasi karena terpilih sebagai puskesmas terbaik tingkat nasional,’’ tandas dia. Seiring berjalannya waktu, ia kemudian dipromosikan menjadi Kabid P2PL Dinkes 2009. Ia juga sempat dipercaya menjadi Plt Kepala Dinkes selama tiga bulan.

”Cukup lama juga, termasuk membuat gerakan Gertak Mas Berlian (gerakan serentak masyarakat bersihkan lingkungan anti nyamuk). Gerakan ini untuk memberantas DBD yang saat itu mewabah di Jombang,’’ papar dia. Perjalanan karirnya terus melejit.

Heri kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Dinkes 2011. Setahun kemudian, dipercaya Bupati Suyanto menjadi Kepala Dinkes periode 2012-2017. ”Karir saya tak lepas dari peran Bupati Suyanto waktu itu,’’ tandas suami Ririn Probowati Ketua Stikes Pemkab Jombang ini.

Setelah dijalani selama lima tahun, tepat 2017, Heri memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Kini, ia menjadi dokter fungsional di Puskesmas Jogoloyo. ”Agustus kemarin saya juga mengajukan pensiun dini dengan beberapa alasan, salah satunya sakit,’’ papar dia. Kendati sudah purna, Heri masih tetap menjadi dokter fungsional di Puskesmas Jogoloyo. Ia dikontrak seminggu dua kali untuk melayani pasien.

Selain itu, Heri juga aktif sebagai konsultan managemen di Klinik Mata Mojoagung. ”Beberapa aktifitas lain yang saya tekuni misalnya Dewan Pengawas RSK Mojowarno, Satgas Covid-19 IDI Jombang, serta Majelis Kode Etik Kedokteran IDI Jombang. Namun sebagai Dewas RSK Mojowarno bukan bisnis, melainkan sosial,’’ tandasnya.

Dalam kehidupan rumah tangganya, dr Heri Wibowo mengedepankan sikap nasionalis. Meski dia kini merayakan Natal bersama keluarga. Namun sang istri tercinta, tetap mendampingi. Dari pernikahan itu, mereka dikarunia tiga anak, yakni Bagus Kritomoyo Kristanto, Timutius Dwi Kurnianto dan Priskila Hananingrum.

Tak heran, di momentum Natal saat pandemi Covid-19 seperti ini ia merayakan secara sederhana bersama keluarga. Termasuk keluarga besar di Klaten. Apalagi sebagai mantan penyintas Covid-19, ia sangat waspada dalam menerapkan protokol kesehatan. 

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP