alexametrics
Kamis, 28 Jan 2021
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Dewan Agendakan Sidak Sentra Industri Tahu

Dugaan Pencemaran Limbah

01 Desember 2020, 17: 40: 05 WIB | editor : Rojiful Mamduh

CEK RICEK: Rapat dengar pendapat kemarin menghadirkan Satpol PP, DLH dan Kecamatan Jogoroto membahas tentang dugaan pencemaran limbah produksi tahu di wilayah kecamatan Jogoroto.

CEK RICEK: Rapat dengar pendapat kemarin menghadirkan Satpol PP, DLH dan Kecamatan Jogoroto membahas tentang dugaan pencemaran limbah produksi tahu di wilayah kecamatan Jogoroto. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Keluhan sejumlah petani dugaan pencemaran limbah produksi tahu di wilayah kecamatan Jogoroto menjadi atensi serius kalangan dewan. Para wakil rakyat berencana turun mengecek ke lokasi.

”Rencananya kita juga ajak tim ahli untuk mengetahui apakah karena limbah tahu jagung itu bisa rusak. Atau mungkin ada limbah lagi yang mengakibatkan kerusakan pada tanaman warga. Ini yang harus kita cari tahu juga,” ujar Choirul Anam Ketua Komisi C DPRD Jombang saat dikonfirmasi kemarin.

Selain itu, lantaran pada pertemuan sebelumnya masih belum ada titik temu, pihaknya sudah mengagendakan pembahasan ulang. ”Kemarin kita memang sudah melakukan RDP, tapi belum ada titik temu. Untuk itu, minggu depan kita akan agendakan lagi RDP dengan pengusaha, dinas terkait dan dari warga yang terdampak limbah,” imbuh Choirul.

Menurutnya, langkah yang diambil untuk mengatasi masalah ini harus hati-hati. Sehingga harus mencari solusi yang terbaik. ”Karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegasnya.

Politikus PDI P ini juga mengungkapkan, untuk pembangunan IPAL seharusnya nanti dilanjutkan. Hanya saja dengan beberapa catatan. ”Nanti bisa dipikirkan, untuk pembangunan IPAL juga dari pemerintah dan pengusaha. Dengan begitu, pengusaha juga bersedia melakukan perawatan karena disitu juga ada anggarannya,” bebernya.

Lanjut Choirul, atau bagaimana langkah lain agar pengusaha tahu bisa melakukan pengelolaan limbah terlebih dahulu sebelum membuang ke sungai. ”Jadi nanti dicarikan solusi bersama-sama untuk penanganan limbah tahu ke depannya pada saat RDP,” tegasnya.

Kabid Wasdal Gakkum Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang, Yuli Inayati mengatakan, pembangunan IPAL komunal berfungsi untuk mengurangi dampak lingkungan dari limbah cair di sentra industri tahu di Kecamatan Jogoroto.

”Dari sisi anggaran kita sudah menyiapkan selama 5 tahun (untuk pembangunan IPAL komunal, red), nanti kita bertahap. Tidak mungkin bila satu desa, misal data kami ada 67 industri lalu kita bangun semua. Jadi bertahap, gantian,” ujar nya saat dikonfirmasi.

Lebih lanjut Ina menyebut, dalam renstra dinas, pihaknya merencakan pembangunan IPAL komunal secara bertahap. ”Rencananya akan membangun 2 unit setiap tahunnya.

Di mana, bila sepanjang 5 tahun, maka akan ada 10 IPAL yang dibangun di sentra industri tahu di Kecamatan Jogoroto,” bebernya. Kawasan industri tahu ini, sambung Ina, meliputi Desa Sumbermulyo, Desa Ngumpul dan Desa Mayangan dengan 67 industri tahu.

”Kami merencanakan setiap tahunnya 2 unit IPAL komunal setiap tahunnya. Paling tidak satu unit itu untuk 3 industri. Kalau setiap tahun kita bangun dua unit, maka sudah menampung untuk 6 industri. Artinya kalau sepanjang 5 tahun, maka sudah 30 industri. Maka sudah menampung hampir 50 persen total industri tahu yang ada,” bebernya.

Ia menyebut, rencana itu tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Lantaran, pihak DLH yang baru membuat dua IPAL di Desa Sumbermulyo dan Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto dengan menghabiskan anggaran hingga Rp 1,2 miliar.

Hanya saja IPAL tidak difungsikan oleh pengusaha tahu. ”Untuk di tahun 2019 sudah kita hapus. Ya karena melihat evaluasi tadi, 2 IPAL komunal tidak difungsikan. Kalau anggarannya saya tidak tahu pasti. Karena tidak kita serap, anggarannya kita kembalikan,” pungkasnya.

(jo/yan/jif/JPR)

 TOP