alexametrics
Kamis, 28 Jan 2021
radarjombang
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan
Genjot Produktivitas Pertanian Jombang

Disperta Fokus Kembalikan kualitas Tanah dan Penanggulangan Hama

23 November 2020, 19: 26: 48 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Priadi Kepala Disperta Jombang

Priadi Kepala Disperta Jombang (Istimewa)

Share this      

JOMBANG – Dinas Pertanian (Disperta) Jombang punya dua program prioritas untuk tahun depan. Masing-masing mengembalikan tingkat kesuburan tanah dan menanggulangi organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Priadi Kepala Disperta Jombang menerangkan, menyongsong 2021, pihaknya saat ini sudah mulai melakukan persiapan.

Rencananya kedua program tersebut masuk dalam program yang diprioritaskan. ’’Jadi 2021 hanya ada dua program prioritas, mengembalikan tingkat kesuburan tanah dan mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan,’’ kata Priadi kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Dijelaskan, alasan pihaknya memprioritaskan dua program itu lantaran untuk tingkat kesuburan tanah berdampak pada produktivitas.

Hj Mundjidah Wahab bersama Priadi Kepala Disperta Jombang meninjau Sub terminal agro bisnis di Ngoro.

Hj Mundjidah Wahab bersama Priadi Kepala Disperta Jombang meninjau Sub terminal agro bisnis di Ngoro. (Istimewa)

Dijelaskan, tren sejak 2017 tidak bisa diangkat karena kondisi tanah yang sakit. ’’Itu berdasarkan hasil penelitin laboratorium kita, kandungan bahan organik di dalam tanah hanya 1,17 persen,’’ imbuh dia.

Untuk saat ini, lanjut dia, 1,2 persen, padahal yang dibutuhkan dan bisa normal yakni 3 persen. ’’Artinya masih kurang 1,8 persen.

Itu yang menjadi program kita tahun depan menaikkan persentase itu,’’ sambung Priadi. Dikatakan, ada beberapa cara yang bakal disiapkan. Pertama petani diminta menggunakan pupuk bokashi (vermentasi dari bagan organik) organik.

’’Atau mengembalikan semua bahan organik sisa tumbuhan, kotoran hewan ke sawah,’’ terang dia. Hanya saja,  hasil dari penggunaan pupuk organik itu baru bisa dirasakan tahun depan.

’’Tetapi kalau ingin langsung bisa menyediakan unsur hara, maka sisa itu harus di-fermentasi terlebih dahulu, baru kemudian dimasukkan ke sawah. Atau pakai pupuk bokashi itu,’’ terang Priadi lagi.

Dikatakan, hasil penelitian itu juga sudah muncul berapa luas sawah hingga pupuk bokashi yang dibutuhkan. ’’Untuk sawah banon 100 itu perlu 1,2 ton atau 1 hektare butuh 10 ton selama tiga tahun, baru bisa subur,’’ terang dia lagi.

Kedua lanjut dia dengan melihat ph atau keasaman tanah. ’’Harusnya tanah kita ini sudah 7, setelah kita ambil 107 titik ternyata ph 5, berarti tanahnya sakit dan rusak,’’ beber dia.

Untuk menaikkan itu, menurut Priadi perlu dilakukan langkah-langkah, misal pemberian pupuk dolomit atau kapur tani. ’’Memang tidak bisa serta merta langsung, karena dinggap petani ini semua merepotkan. Tapi terus kita upayakan agar tingkat kesuburan tanah bisa naik,’’ terang Priadi.

Nantinya lanjut dia, petani bakal dibantu disperta terkait keperluan itu. ’’Jadi dinas pertanian akan membantu 339 ton pupuk bokashi untuk 1.823 hektare, diberikan kepada petani yang bahan organiknya sangat rendah.

Sementara untuk kapur tani atau dolomit 826 ton dari total 2.000 hektare,’’ sebut dia. Bantuan itu lanjut dia diberikan pada petani yang sawahnya tingkat kesuburan sangat rendah. ’’Úntuk dolomit kita berikan pada tanah yang kadar ph sangat rendah misal 4 atau 5. Sementara yang 6 ini dikasih sendiri petani,’’ pungkas Priadi.

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP