alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarjombang
Home > Olahraga
icon featured
Olahraga

Hati-hati Star Syndrome

IJBC Kuatkan Karakter Pemain

21 November 2020, 09: 25: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

DRIBBLING: Pemain basket saat latihan

DRIBBLING: Pemain basket saat latihan (istimewa)

Share this      

JOMBANG – Tidak hanya melatih teknik permainan bola basket, pelatih harus membangun pemain agar tidak terkena star syndrome. Pasalnya masalah ini yang sering kali membuat kualitas pemain menurun dan cepat puas dengan apa yang didapat.

”Kita sedang menyelesaikan program akhir tahun, yaitu penguatan karakter bola basket usia muda. Karena kalau tidak diberi pondasi yang kuat, penyakit pemain basket zaman sekarang itu star syndrome,” ungkap Rizky Septian Wibisono, Pelatih Ijen Jombang Basketball Club.

Setelah menggelar sparing dengan klub pelita harapan, sampai saat ini IJBC belum menjadwalkan sparing lagi dengan tim manampun. Mengingat akhir tahun, masih banyak program latihan yang harus diselesaikan, termasuk program penguatan karakter.

Sindrom bintang menurutnya bukan masalah sepele. Karena itu bisa menghilangkan kedisiplinan, dan membuat pemain cepat puas dengan apa yang dia dapat. ”Padahal tujuan kita adalah jadi atlet yang berprestasi untuk mengharumkan nama Jombang, bukan untuk menjadi artis,” ungkap Rizky kemarin.

Postur tubuh yang identik tinggi, pemain bola basket tak jarang dianggap keren sebagian orang. Hal itu yang membuat karakter awal disiplin latihan kadang mulai luntur. Karena sudah merasa terkenal dan lupa dengan tujuan awal.

Penanaman karakter untuk mengatasi sindrom bintang ini biasanya dilakukan pelatih dengan cara berbicara dari hati ke hati. Kegiatan itu dilakukan kapan saja.

Terutama pada saat melakukan training camp sehingga bisa lebih fokus. ”Biasanya memberikan gambaran buruk jika kita sudah di atas dan lalai akan karakter dasar. Semua itu kita lakukan saat TC,” tambahnya.

Menurutnya, menjadi pelatih dengan mengajarkan teknik bermain basket saja tidak cukup. ”Pelatih harus bisa jadi teman, ayah, kakak, agar kita bisa memberikan penguatan dan mendengarkan cerita agar mereka merasa diayomi dan tidak salah langkah kedepannya, apalagi sekarang musim media sosial yang bisa jadi berbahaya dampaknya,” pungkasnya.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP