alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Dibangun Pemprov, Embung Geomembran Tak Terawat

Lapisan Bocor, Air Tak Pernah Penuh

21 November 2020, 08: 30: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Embung berteknologi geomembran ini mangkrak karena rusak di sejumlah desa wilayah utara Brantas.

Embung berteknologi geomembran ini mangkrak karena rusak di sejumlah desa wilayah utara Brantas. (MARDIANSYAH TRIRAHARJO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Keberadaan embung berteknologi geomembran yang mangkrak karena rusak ditemukan di sejumlah desa wilayah utara Brantas.

Di Desa Ngampel, Kecamatan Ngusikan misalnya, embung dalam kondisi bocor dan tidak lagi mampu menampung air. Kondisi ini sangat disayangkan warga sekitar, sebab jika embung normal akan memberi banyak manfaat.

“Sudah lama sekali bocor, hampir tidak pernah ada perawatan,” kata Susanto, 45, salah satu warga sekitar embung, kemarin (20/11).

Embung yang terletak di perbatasan Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto ini disebut warga tidak pernah ada perbaikan dan pemeliharaan. Terutama pada bagian lapisan geomembran yang mengalami kebocoran.

Akibatnya, air yang masuk ke kolam penampung tak pernah bisa penuh. ”Air yang ada di dalam, sangat sedikit,” ungkapnya.

Meski hujan sudah mengguyur beberapa hari terakhir, embung tetap tidak terisi air secara penuh.

Menurutnya, hal itu terjadi karena lapisan geomembran bocor, berlubang, bahkan robek dengan panjang lebih dari satu meter.

Kolam yang seharusnya berfungsi sebagai bak penampung air hujan, menjadi tidak berguna dan akhirnya mangrak. ”Kolam ini ada plastiknya, kalau berlubang dan robek kan airnya meresap ke tanah,” imbuhnya.

Embung geomembran dengan kondisi rusak juga ditemukan di wilayah Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso. Jumlah titik kebocoran menurut warga cukup banyak. Sejak dibangun hingga sekarang, hampir tidak pernah ada upaya penambalan lapisan geomembran.

Parwoto, 55, salah satu petani mengatakan, banyak kemungkinan penyebab bocornya lapisan penahan air.

”Tanah di sini keras, kalau musim kemarau sulit dicangkul. Kalau dasar kolam tidak rata, plastik bisa mudah bocor,” ujarnya.

Dia pun berharap agar kerusakan itu dapat diperbaiki. Sebab dari sisi potensi, keberadaan embung memiliki manfaat luas. Petani yang memiliki sawah di sekitar embung, bisa mengambil air dari kolam penampung.

Selain itu, keberadaan embung juga sering digunakan para penghobi mancing untuk mencari ikan. ”Sayang kalau dibiarkan mangkrak. Kalau tidak diperbaiki, lebih baik kolamnya diuruk lagi dan dijadikan sawah. Itu lebih bermanfaat,” terang Sutarman.

Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang memastikan embung berteknologi geomembran di utara Brantas dibangun Pemprov Jawa Timur.

Namun setelah terbangun, urusan pemeliharaan embung menjadi tanggung jawab pemerintah desa serta OPD lain.

Kabid Sumber Daya Air Imam Bustomi menyatakan, sedikitnya ada empat embung geomembran yang dibangun pemprov di wilayah utara Brantas.

Keempat embung tersebut berada di Desa Ngampel, Kecamatan Ngusikan, Desa Gedongombo dan Desa Jatibanjar, Kecamatan Ploso, dan Desa Tanjungwadung, Kecamatan Kabuh.

”Setiap embung waktu pembangunannya tidak sama, tapi dimulai 2012 lalu. Pembangunan embung dilakukan jika di desa tersebut ada lahan yang tersedia, artinya lahan yang menjadi tempat embung adalah milik desa,” kata Bustomi.

Sesuai perencanaan, embung bisa dibangun jika memenuhi syarat ketersediaan lahan. Sementara lahan yang dimaksud adalah milik desa lokasi pembangunan embung.

Dirinya juga tak menampik bila kondisi embung sudah mengalami kerusakan, dan tak mampu menampung air hujan dengan maksimal.

”Ada tiga embung yang sudah dilaporkan berlubang. Dibangun pemprov di atas tanah milik desa untuk memperkuat irigasi, namun pemeliharaan bukan tanggung jawab kami,” lanjutnya.

Terkait rusaknya lapisan penampung air, Bustomi memperkirakan bisa terjadi karena kontur tanah yang bergerak.

”Geomembran adalah sistem penampungan air dalam waktu lama, artinya jika dalam kondisi normal volume air bisa utuh. Tapi jika tanahnya bergerak, maka lapisan geomembran juga akan ikut bergerak, imbasnya bisa terjadi bocor,” tambah Bustomi.

Ia menambahkan, faktor lain terjadinya kebocoran juga bisa karena ulang oknum warga. ”Mungkin ada yang sengaja merusak, karena itu desa harus memberikan pengawasan agar embung tidak semakin rusak,” pungkasnya.

(jo/mar/jif/JPR)

 TOP