alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri
Kental Nuansa Tionghoa

Musala Al Ikhlas Jarak Kulon Jogoroto

Dibangun Keluarga Mualaf

20 November 2020, 08: 05: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Musala Al Ikhlas Jarak Kulon Jogoroto, kental dengan nuansa Tionghoa

Musala Al Ikhlas Jarak Kulon Jogoroto, kental dengan nuansa Tionghoa (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Musala Al Ikhlas yang terletak di Desa Jarak Kulon, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, cukup unik. Bangunan musala bernuansa Tionghoa dengan warna khas merah. Musala ini dibangun seorang mualaf 2002 silam.

”Yang membangun keluarga saya, warga Tionghoa yang menjadi muslim,” ungkap Fatimatuz Zahro, istri Poo Seng Beg atau Iwandianto yang kini memiliki nama muslim Ikhwan Ali.

Musala yang berada di Jl Raya Jogoroto-Mojowarno ini berdiri kokoh di halaman rumah. Karena bernuansa merah dan bentuknya yang tidak umum, keberadaan musala ini tampak mencolok.  

Nuansa Tionghoa terlihat dari warna merah yang mendominasi, ditambah aksen emas yang mengelilingi bangunan. Terdapat dua lapis atap. Lapis pertama berwarna merah dengan lengkungan pada setiap sudutnya. Atap lapis kedua berwarna hijau dengan bentuk serupa namun lebih kecil. Meski bangunannya tidak umum, namun di musala ini terdapat kubah kecil di posisi paling atas.

Di bagian depan, terdapat hiasan kaligrafi bertuliskan bismillahirrohmanirrohiim berwarna merah dan emas. Pada bagian atas, ada lafal Allah dengan warna yang sama.

Sementara di bagian dalam, cukup sederhana, hanya berbentuk kotak yang dipisahkan dengan pembatas antara barisan laki-laki dan perempuan. Terdapat pula sebuah beduk yang tidak terlalu besar dengan warna merah dan ukiran khas Tionghoa.

Musala ini dibangun keluarga Tionghoa 2002 silam. Fatimah bercerita, saat itu yang mempunyai inisiatif membangun musala adalah suaminya, Ikhwan Ali.

Sebelumnya ia tinggal di Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno. Menikah 1970 dan baru pindah ke rumah barunya di Desa Jarak Kulon, dengan syarat ada musala yang berdiri di depan rumah. ”Setelah musala berdiri, akhirnya saya sekeluarga pindah ke sini, saat itu bangunan musala masih biasa, belum seperti ini,” tambahnya.

Ikhwan sendiri bagian dari warga Tionghoa yang beragama Konghucu. Pada usia 16 tahun, Ikhwan yang lahir 1970 memutuskan menjadi mualaf menjadi seorang muslim.

”Sebetulnya dari kecil papa (Ikhwan) sudah menekuni kegiatan muslim, karena tinggal di Desa Kwaron yang mayoritas muslim, terbawa lingkungan, ya ikut mengaji, ikut salat, bahkan juga sunat, di sekolah Wijana juga mengajak teman-temannya salat, tapi identitas agama masih Konghucu,” ulas dia.

Setelah musala berdiri, 2015 mertua Fatimah juga masuk Islam. Langkah mualaf ini kemudian diikuti mertua dan saudara-saudaranya. ”Alhamdulillah sekarang semuanya sudah muslim. Adik-adik juga mendapatkan pasangan muslim, jadi sekarang keluarga muslim semua,” tambah dia.

Barulah kemudian 2017 musala dirombak total. Untuk mempersatukan Tionghoa dan agama yang mereka anut, dibangunlah musala dengan nuansa Tionghoa. ”Sebetulnya musala bentuk seperti ini untuk mengenang, bahwa kita adalah orang Tionghoa,” pungkas ibu lima anak ini.

(jo/wen/jif/JPR)

 TOP