alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Petani Jagung di Ngrandulor Gagal Panen

Akibat Serangan Hama Tikus

14 November 2020, 08: 15: 59 WIB | editor : Rojiful Mamduh

MERUGI: Petani jagung di Dusun Gempoldampet, Desa Ngrandulor, Kecamatan Peterongan gagal panen.

MERUGI: Petani jagung di Dusun Gempoldampet, Desa Ngrandulor, Kecamatan Peterongan gagal panen. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Sejumlah petani jagung di Dusun Gempoldampet, Desa Ngrandulor,  Kecamatan Peterongan merugi besar. Akibat serangan hama tikus, jagung petani tak bisa dipanen.

”Punya saya yang rusak ini ada sekitar 90 persen. Kerugian sekitar Rp 3 juta,’’ terang Rohman, 50, salah satu petani (13/11) kemarin. Pantauan di lokasi, satu persatu tanaman jagung yang sudah mendekati masa panen ditebang Rohman. Pasalnya, dia hampir seluruh buah jagungnya habis dicacah hama tikus.

”Jadi yang tersisa bonggolnya saja, jagungnya habis semua,” bebernya.

Rohman mengaku, sebelumnya telah melakukan berbagai upaya untuk menanggulangi serangan hama tikus. Mulai dari memasang jebakan listrik, racun tikus hingga gropyokan. Namun serangan hama tikus masih masif. ”Serangannya cepat sekali, saking banyaknya tikus,” bebernya.

Akhirnya dia pun menyerah. ”Akhirnya yang masih ada jagungnya saya jual tebasan. Dibayar Rp 100 ribu per banon 100 nya,’’ papar dia.

Sedangkan, untuk tanaman yang sudah diserang tikus dan hanya menyisakan tongkol jagung diberikan ke peternak secara gratis. ”Ya saya persilahkan mengambil tidak usah bayar. Karena tinggal bonggol dan tanamannya saja,’’ keluhnya.

Sebagian tanaman yang tersisa dia tebang, selanjutnya akan dibakar. Sekaligus persiapan tanam padi. ”Sudah jelas tak bisa dipanen. Ini saya kumpulkan untuk dibakar nanti sore,’’ imbuhnya.

Selain mengeluhkan hama tikus, petani juga mempertanyakan rumitnya mendapatkan pupuk subsidi. ”Pemerintah sekarang malah mempersulit semuanya. Bahkan beli pupuk subsidi sekarang harus pakai kartu tani,’’ pungkasnya.

Hal senada juga diakui Yanto, 49. Dia mengaku hampir rata-rata petani jagung di wilayahnya merugi tahun ini. ”Serangan tikus makin tak bisa dikendalikan mas, jadi yang masih bisa dipanen hanya 1 – 2 saja, sedangkan lainnya rusak seperti ini,’’ papar dia.

Dia berharap pemerintah mencarikan solusi kongkret mengatasi hama tikus. Disinggung mengenai tingkat efisiensi rumah burung hantu (rubuha), ia masih ragu. ”Kalau dipasang pagupon itu, saya kurang yakin karena sudah jarang ditemukan burung hantunya,’’ pungkasnya.

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP