alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Diserang Hama, Produktivitas Petani Jamur Tiram Pulorejo Ngoro Menurun

26 Oktober 2020, 14: 03: 35 WIB | editor : Rojiful Mamduh

Produktivitas petani jamur tiram Pulorejo Ngoro menurun

Produktivitas petani jamur tiram Pulorejo Ngoro menurun (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Di pergantian musim seperti ini, petani jamur tiram berjibaku agar bisa tetap panen setiap harinya. Salah satunya dirasakan petani di Dusun Katerban, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro.

MUSIM kemarau ke musim hujan juga menjadi momen tertentu bagi pembudi daya jamur. Salah satunya dirasakan Abdul Rosyad Dusun Katerban, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro. Dia harus benar-benar teliti merawat jamur tiram agar bisa tetap panen.

Ini disebabkan suhu di setiap kandang harus terjaga. Mengingat musim seperti ini suhunya tak lagi kondusif seperti musim hujan. Apalagi, kala musim tak tentu, dia harus benar-benar siaga.

Tak heran bertandang ke kandang miliknya, puluhan baglog berada di empat lokasi yang berbeda. Media tanam untuk menumbuhkan jamur itu kondisinya di satu kandang dengan kandang yang lain berbeda.

Ada yang sudah berwarna putih, ada juga yang masih cokelat. Ada pula yang separo cokelat dan putih. Maklum, di setiap kandang usia baglog berbeda. Ini dilakukan agar produktivitas jamur tidak berhenti. ’’Ini yang usianya sudah empat bulan,’’ kata Rosyad kepada Jawa Pos Radar Jombang Minggu (18/10/2020) lalu.

Sembari menunjukkan salah satu kandang, dia mengatakan, di musim seperti saat ini, dia harus lebih telaten merawat tanaman jamur. Suhu di setiap kandang harus benar-benar terjaga. ’’Untuk jamur standarnya suhu di bawah 30 derajat, sedangkan di dataran rendah seperti ini tidak bisa. Rata-rata 32-34 derajat, musim kemarau bisa sampai 35 derajat,’’ sebut dia.

Ini menjadi tantangan setiap petani. Seperti layaknya merawat bayi yang baru lahir, suhu setiap kandang harus dipastikan. ’’Akhirnya dikondisikan mengatur kelembaban dengan penyiraman. Seperti ini bisa disiram dua kali sehari, jadi tergantung suhunya,’’ imbuh Rosyad.

Banyak cara mengetahui kondisi dalam kandang. Bisa melalui temperatur yang dimiliki, atau karena saking lamanya menjadi petani, dia tahu sendiri jamur miliknya butuh penyiraman dan tidaknya. ’’Ketika masuk kandang ini ongkep dan panas, itu salah satu cirinya butuh disiram. Karena kalau jamur sehat masuk kandang ini nyaman, tidak gerah dan terasa panas. Artinya suhu sudah terpenuhi,’’ papar dia.

Kala musim hujan lanjut dia, tak butuh penyiraman atau menjaga suhu setiap kandang. Tidak hanya itu masih menurut dia, moment seperti ini hama pengganggu jamur pun berkeliaran. Mulai dari ulat hiingga gurem.

Belum penyakit yang menyerang setiap baglog. ’’Karena tidak boleh diobati, akhirnya pakai lem perangkap. Seperti lem lengket untuk lalat,’’ beber dia.

Tentu kondisi seperti ini pengaruh ke produktivitas jamur. Jika biasanya dalam sehari bisa memanen hingga 60 kilogram, kini turun separo. ’’Jadi karena faktor musim dan hama ini pengaruh ke hasilnya. Musim hujan sehari bisa 60 kilogram, kalau sekarang sekitar 30 kilogram,’’ sebut dia seraya mengatakan total ada 30.000 baglog miliknya.

Sedangkan harga lanjut dia saat ini cenderung stabil. Jamur tiram miliknya lebih banyak dipasarkan ke Surabaya dan sekitarnya. ’’Sebagian kita olah atau produksi sendiri,’’ pungkas dia. (fid/naz/jif)

(jo/fid/jif/JPR)

 TOP