alexametrics
Selasa, 01 Dec 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Di Bareng, Rumah Burung Hantu Belum Efektif Atasi Hama Tikus

26 Oktober 2020, 13: 39: 36 WIB | editor : Rojiful Mamduh

ILUSTRASI: Rumah burung hantu (rubuha)

ILUSTRASI: Rumah burung hantu (rubuha) (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Pengadaan rumah burung hantu (rubuha) oleh Dinas Pertanian Jombang belum efektif mengatasi hama tikus. Setidaknya, inilah yang dirasakan petani di Kecamatan Bareng. ’’Meski di area sawah sudah didirikan rubuha, namun serangan hama tikus masih cukup masif,’’ kata Lukman, petani di Dusun Jlopo, Desa Tebel, Kecamatan Bareng (25/10/2020).

Di sawahnya sudah tiga tahun ada rubuha. Namun serangan tikus tetap saja terjadi. ’’Kalau dibilang ada pengaruh ya memang ada, tapi rubuha belum memecahkan solusi untuk penanganan tikus,” ujarnya.

Burung hantu yang menempati pagupon, jumlahnya tidak sebanding dengan populasi tikus. ”Kalau masuknya sih masuk, tapi kalau untuk mengatasi hama tikus masih belum dirasakan petani,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, satu burung hantu dalam satu hari diperkirakan bisa memangsa sekitar tiga ekor tikus. Akan tetapi jumlah tikus di sawah mencapai puluhan bahkan ratusan.

Terlebih lagi, tikus berkembang biak cukup cepat dan banyak. ”Ya sama kayak manusia, kalau sudah kenyang tidak makan lagi, paling satu hari cuma tiga tikus,” bebernya.

Hal senada disampaikan Yunani, petani lainnya.  Dia mengaku pesimistis keberadaan rubuha di wilayahnya sanggup mengatasi hama tikus. ”Kalau hanya mengandalkan rubuha saja tidak efektif, apalagi jumlahnya juga minim,” katanya.

Dia pun berharap, dinas bisa mencari solusi lain yang lebih tepat guna mengatasi hama tikus yang di beberapa kecamatan sudah menjadi wilayah endemis bertahun-tahun. ”Termasuk  di Bareng juga endemis saya kira,” bebernya.

Selain persoalan hama, dia pun meminta pemerintah juga memikirkan program perlindungan terhadap petani. ”Petani sekarang susah, lawan hama, pupuk juga sulit, kadang pas mendekati panen harga anjlok. Ini juga harusnya jadi perhatian dinas,” bebernya.

Dia berharap, dinas lebih fokus untuk penanganan tikus. Misal dengan memberikan bantuan obat-obatan atau melakukan gropyokan atau bantuan bibit unggul yang sekiranya tidak diserang tikus. ”Yang terpenting jangan baru ada serangan baru ada tindakan. Bahkan, setelah diserang saja tidak ada bantuan untuk petani,” pungkasnya.(yan/naz/jif)

(jo/yan/jif/JPR)

 TOP