alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Makam Mbah Djahid Pembawa Beselit Jombang di Komplek Sayid Sulaiman

17 Oktober 2020, 13: 59: 08 WIB | editor : Rojiful Mamduh

MAKAM KELUARGA: Makam Mbah Imam Djahid pembawa beselit Jombang dimakamkan di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung.

MAKAM KELUARGA: Makam Mbah Imam Djahid pembawa beselit Jombang dimakamkan di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Terbentuknya Pemerintahan Kabupaten Jombang tidak bisa dilepaskan dari peran besar Mbah Imam Djahid. Ulama asal Kecamatan Sumobito ini menempuh perjalanan dari Jombang - Bogor untuk mengambil beselit pemecahan wilayah Kabupaten Jombang dengan Kabupaten Mojokerto pada masa pemerintah Hindia Belanda.

DENGAN langkah cukup tertatih, siang itu satu-persatu daun kering disapu Mahfud, 70, juru kunci makam Mbah Imam Djahid di Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung kemarin pagi (16/10/2020).

Ya, ia sudah lama menjadi juru kunci makam keluarga Mbah Imam Djahid asal Sumobito tersebut. ”Saya sudah lama, ada puluhan tahun di sini. Saya diminta Pak Khumaidi ayah dari pak Ali Fikri mantan Bupati Jombang,’’ ujar dia kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Letak makam Mbah Imam Djahid terletak satu kompleks dengan area makam Mbah Sayid Sulaiman. Namun demikian, makam Mbah Imam Djhid bisa dengan mudah ditemukan. Selain lokasinya yang strategis, hanya berjarak sekitar lima meter dari bangunan masjid, kompleks makam keluarga Mbah Imam Djahid juga dikelilingi dengan bangunan tembok.

Selain  makam Mbah Imam Djahid, di kompleks makam keluarga itu juga terdapat beberapa makam lain. Salah satunya makam H Abdul Latif bin Imam Djahid serta beberapa makam anggota keluarga lainnya.

Diwawancara terpisah, Nasrul Illah cicit Mbah Imam Djahid menjelaskan, kakeknya adalah seorang penghulu di Kecamatan Sumobito, yang kala itu masih menjadi satu bagian dengan Mojokerto. ”Kebetulan Mbah Imam adalah orang kepercayaan Bupati Mojokerto Raden Adipati Arya Kramadjaja Adinegara,’’ ujar dia.

Singkat cerita, wilayah Jombang dipecah dengan Mojokerto karena ada beberapa aspek sosial. Kala itu, Mbah Imam Djahid yang merupakan penasehat spiritual Bupati Mojokerto Raden Adipati Arya Kramadjajaadinegara mengusulkan terkait pemekaran wilayah Jombang dengan Mojokerto. ”Kemudian Bupati Mojokerto bertanya, siapa yang akan bertanggung jawab memimpin Jombang sebagai bupati? Kemudian, Mbah Imam Djahid mengusulkan Bupati Sidayu Gresik, yakni R.A.A. Soeroadiningrat untuk ditunjuk sebagai Bupati Jombang,’’ tambahnya.

Setelah itu turunlah beselit Hindia - Belanda pemecahan wilayah Kabupaten Mojokerto – Kabupaten Jombang pada 1910.

Mbah Imam Djahid mengambil beselit tersebut di Bogor dari Sekretaris Umum Gubernur Jenderal Hindia-Belanda STAAL pada 1910. ”Beliau mengambilnya sembari membawa pulang dua bibit pohon mangga yang kini ditanam di depan Masjid Besar Imam Zahid di Sumobito,’’ tambahnya

Dari beselit tertanggal 21 Oktober 1910 tersebut, awal kali Kabupaten Jombang terbagi menjadi tiga wedono (saat ini kecamatan). Di antaranya, Ploso, Mojoagung dan Bareng.

Dari tiga wedono itu, ada 13 desa di antaranya, Diwek, Tembelang, Gudo, Perak, Kabuh, Plandaan, Kudu, Sumobito, Kesamben, Peterongan, Wonosalam, Mojowarno dan Ngoro.  Seiring berjalannya waktu, kini ada 21 kecamatan dengan 302 desa dan empat kelurahan.

Lantas kenapa Mbah Imam Djahid dimakamkan di Mancilan, satu kompleks dengan Mbah Sayid Sulaiman, diceritakan, memang keluarga Mbah Imam Djahid memiliki sebidang tanah di Desa Mancilan. ”Mbah Sayid seorang penghulu asal Pasuruan. Beliau meninggal di Betek saat bertamu dan dimakamkan di sana,’’ pungkasnya. (jif)

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP