alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Iman dan Amal Saleh Cegah Sombong

17 Oktober 2020, 07: 58: 14 WIB | editor : Rojiful Mamduh

KH Syamsul Anam

KH Syamsul Anam (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Berita Terkait

SAAT khutbah di Masjid Junnatul Fuadah Polres Jombang, Jumat (16/10), KH Syamsul Anam Alhafid menjelaskan pentingnya memerangi sifat sombong. ’’Kesombongan akan menyebabkan kita jatuh. Baik di dunia maupun akhirat,’’ tuturnya. Kunci agar tidak terjatuh yakni iman dan amal saleh. ’’Iman dan amal saleh akan menyelamatkan kita di dunia hingga akhirat,’’ urainya mengutip QS Attin 6.

Sombong membuat kita keras hati dan tidak mau menerima nasehat. Makanya kita harus mau menerima nasehat dari siapapun. Termasuk dari anak kecil sekalipun. Ustad Syamsul Anam lalu cerima Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi. Suatu hari Imam Hanafi pernah berpapasan dengan seorang anak kecil yang berjalan mengenakan sepatu kayu.

”Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir,” kata Imam  Hanafi menasehati. Bocah miskin ini pun tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih. ”Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?” tanya si bocah. ”Nu’man.”

”Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a‘dham (imam agung) itu?” ”Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”

"Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara itu. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.” Ulama kaliber yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah

Ustad Anam menjelaskan, manusia sangat dimuliakan oleh Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Al Isra 70. Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. ’’Manusia dimuliakan  dengan dua hal, nafsu dan akal,’’ tegasnya. Ketika akal bisa mengendalikan nafsu, maka manusia menjadi mulia. Bahkan bisa lebih mulia dari malaikat. Sebaliknya, ketika nafsu mengendalikan akal, maka manusia turun ke posisi paling rendah bahkan lebih hina dari binatang. (jif)

(jo/jif/jif/JPR)

 TOP