alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri
Sukarmi, Juru Kunci Makam Bupati Pertama

Sering Ketemu Peziarah yang Mengambil Sekar Layon

15 Oktober 2020, 11: 50: 20 WIB | editor : Rojiful Mamduh

TURUN TEMURUN: Sukarmi, 54, penjaga makam bupati pertama Jombang R.A.A. Soeroadiningrat membersihkan makam kemarin siang.

TURUN TEMURUN: Sukarmi, 54, penjaga makam bupati pertama Jombang R.A.A. Soeroadiningrat membersihkan makam kemarin siang. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Pekan depan, Pemkab Jombang tepat berusia 110 tahun (21 Oktober 1910 - 21 Oktober 2020). Makam bupati pertama Jombang R.A.A. Soeroadiningrat sampai saat ini tetap terawat. Di balik itu ada sosok keluarga yang menjaga makam tanpa pamrih. Itu mereka lakukan karena kepercayaan turun-temurun dari keluarga.

DIUSIANYA yang sudah mencapai setengah abad lebih, Sukarmi masih terlihat cekatan saat membersihkan dedaunan yang rontok di area makam Kanjeng Sepuh R.A.A. Soeroadiningrat di kompleks Taman Makam Pahlawan Jombang.

Ya, sejak puluhan tahun lamanya, keluarga Sukarmi dan Harsono suaminya, sudah dipercaya untuk menjaga makam Bupati Jombang pertama.

Setiap sore, Sukarmi dan suaminya membersihkan area makam. Kegiatan itu rutin mereka lakukan sejak masih muda. ”Sudah 30 tahun lebih saya menjaga makam ini bersama suami,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, Rabu (14/10/2020).

Keluarga Sukarmi adalah satu-satunya pemegang kunci makam bupati pertama. Kakeknya bernama Mbah Bero sudah dipercaya mengabdi di dalem keluarga Bupati R.A.A. Soeroadiningrat di Jl Dokter Soetomo nomor 15, yang kini ditempati Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang. ”Kakek saya setiap pagi selalu ke ndalem Kanjeng Sepuh. Ya untuk menyapu, mengisi air hingga membersihkan tanaman,’’ papar dia.

Hal itu berlangsung turun-temurun hingga kakeknya meninggal. Kemudian, orang tuanya bernama Sahat dan Tukiran melanjutkan amanah untuk menjaga makam Bupati Kanjeng Sepuh. ”Setelah bapak saya meninggal dan ibu saya sakit, saat ini saya dan suami yang menjaga,’’ tambahnya.

Setiap hari, ia bersama suaminya menyapu dan membersihkan makam Kanjeng Sepuh. Diakuinya, pada malam- malam tertentu, makam Kanjeng Sepuh ramai dengan warga melakukan ziarah atau sekedar berjaga semalam suntuk. ”Banyak yang ke sini untuk melekan. Ya sebagian ada yang ingin cari petunjuk kepada Yang Maha Esa melalui Kanjeng Sepuh,’’ papar dia.

Beberapa peziarah, lanjutnya, seringkali mengambil sekar layon, alias bunga sekar yang sudah mengering dari makam Kanjeng Sepuh.

Dari cerita para peziarah, sekar layon dipercaya membawa kasiat untuk mengobati penyakit. ”Bahkan ada orang dari Surabaya yang sering datang ke sini untuk mengambil sekar layon,’’ tandasnya.

Sukarmi mengatakan, meski sudah puluhan tahun menjaga makam Kanjeng Sepuh, dia melakukannya secara ikhlas. Tidak ada uang insentif bulanan yang diberikan Pemkab Jombang. ”Kalau dulu pernah dapat bingkisan. Memang tidak banyak, namun kami merasa bersyukur,’’ pungkasnya. (jif)

(jo/ang/jif/JPR)

 TOP