alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Diserang Hama, Pupuk Sulit, Harga Anjlok, Petani Tembakau Merana

25 September 2020, 11: 54: 35 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Aktivitas petani tembakau di Desa Kedungdowo, Kecamatan Ploso.

Aktivitas petani tembakau di Desa Kedungdowo, Kecamatan Ploso. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Nasib petani tembakau di utara Brantas semakin merana. Tidak hanya bingung menghadapi serangan hama wereng dan tikus, mereka juga ikut merasakan sulitnya mendapat pupuk subsidi. Kondisi semakin parah karena tembakau mengalami penurunan harga jual.

Kasmadi, salah satu petani di Desa Kedungdowo, Kecamatan Ploso menyebut harga tembakau saat ini turun hingga 20 persen. Daun tembakau bagian bawah hanya terjual Rp 13 ribu per kilo.

Padahal sebelumnya, harga jual bisa mencapai Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu per kilo. ”Untuk daun bagian atas dari harga Rp 29 ribu per kilo, kini hanya Rp 18 ribu per kilo,” katanya.

Meski begitu, dia tidak mengetahui pasti apa yang menjadi penyebab turunnya harga tembakau sekarang. Hanya diperkirakan, harga tembakau yang turun dipengaruhi situasi pandemi Covid-19.  

Keluhan sama juga dirasakan Triyono petani tembakau lainnya, yang mengaku tidak hanya harga tembakau yang anjlok. Petani juga merasakan kesulitan mencari pupuk bersubsidi.

Apalagi mekanisme pembelian pupuk subsidi sekarang sangat rumit. ”Sekarang cari pupuk subsidi sangat susah, ada aturan baru,” lanjut dia.

Bahkan dalam pantauannya, keberadaan pupuk di kios juga dalam keadaan kosong. ”Pupuk di kios tidak ada, sementara cari di luar juga tidak boleh,” katanya.

Karena itulah di momen hari tani nasional dirinya berharap pemerintah lebih memerhatikan nasib petani. ”Pembelian pupuk dipermudah, dan harga tembakau tidak anjlok saat panen. Kan ini musim panen,” pungkas Triyono.

Petani Jagung Khawatir Merugi

SEMENTARA itu, petani jagung di Mojowarno khawatir mengalami rugi besar. Sebab hingga sekarang, selain kesulitan mendapat pupuk bersubsidi, serangan hama ulat juga tak kunjung selesai. 

“Kalau di sini hama ulat yang banyak. Kalau tikus sudah tidak parah,” keluh Hasan, salah satu petani di Dusun Mulyorejo, Desa Grobogan, Kecamatan Mojowarno, Kamis kemarin (24/9). Serangan hama ulat menurutnya masih awet sampai sekarang.

Meski tanaman jagung sudah berusia satu bulan lebih hama ulat masih menggerogoti tanaman. Dikatakan, tanaman jagung sudah mulai tumbuh namun ulat masih saja menyerang. Hal inilah yang membuat dirinya merasa khawatir bakal berdampak pada pertumbuhan jagung.

“Jadi ulatnya menyerang daun, ada di dalam. Padahal jagung sudah mulai tumbuh, kalau nggak segera diatasi, mungkin kena jagung,” imbuh dia.

Ditunjukkan, bekas tanaman yang terserang kondisi daun rusak. Di dalamnya masih nampak ulat berukuran kecil berwarna kehitaman. “Ini kemarin sudah saya semprot, setelah ini pasti naik ke atas,” papar dia sembari menyebut luas sawahnya berkisar 2 hektare.

Melihat kondisi itulah dirinya merasa khawatir panen kali ini bakal turun. Bahkan serangan hama masih berlanjut yang bisa mengakibatkan gagal panen. “Makanya kemarin saya semprot obat, sudah tiga kali. Kalau tidak begini, rusak semua,” terangnya.

Nur Khasan petani lainnya juga mengakui serangan ulat yang belum bisa teratasi sampai sekarang. “Sudah disemprot masih belum mati, muncul lagi,” sahut Khasan.

Padahal, tanaman jagungnya sudah berusia hampir dua bulan. Jagung pun sudah mulai muncul. Sayangnya, serangan hama ulat masih banyak. “Saya sendiri bingung, baru sekarang ulat nyerang sampai parah begini,” terangnya sembari menunjukkan daun jagung yang dimakan ulat.

Karena itulah dia berharap ada penanganan serius dari dinas terkait. “Petani sekarang susah, sudah kena hama, cari pupuk sulit, hasilnya tidak seberapa,” pungkas dia.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP