alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Musim Kemarau Tiba, Warga Ngrimbi Jombang Mulai Kesulitan Air

22 September 2020, 09: 58: 44 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Warga Dusun Wonorejo, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini sudah dirasakan sebulan terakhir.

Warga Dusun Wonorejo, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini sudah dirasakan sebulan terakhir. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Warga Dusun Wonorejo, Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini sudah dirasakan sebulan terakhir.

“Setiap tahun memang kesulitan air seperti ini,” ujar Basuni, salah seorang warga kepada koran ini kemarin. Dia menyebut, untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari seperti memasak, warga harus mengantri di sumur bor yang dibangun pemerintah 2019 lalu.

Sedangkan untuk mencuci dan mandi, sebagian warga memilih di sungai. “Ini kan pipanya tidak bisa mengalir ke semua warga. Jadi mengambil air disini (sumur bor, Red). Warga lain juga begitu,” tambahnya. Biasanya, lanjut Basuni, warga ramai-ramai mengambil air saat menjelang subuh atau sore hari.

Kendati demikan sumber air juga tidak bisa bertahan lama. “Setelah diambil beberapa jam, air sudah tidak keluar lagi. Harus menunggu sekitar dua jam, baru ada airnya lagi,” terangnya.

Hal serupa diungkapkan Rika, warga lain yang mengaku  kesulitan air dirasakannya sejak 2014 lalu. “Ya kalau musim kemarau seperti ini memang sulit air,” keluhnya.

Selain mencari air bersih di proyek sumur bor yang dibangun pemkab. Pihak pemerintah desa juga mengirim bantuan air dua hari sekali. “Bantuan air juga mulai datang dari BPBD, baru kemarin,” tambah dia.

Dia menilai, proyek sumur bor belum maksimal kemanfaatannya. Karena masyarakat masih kesulitan mendapatkan air bersih. “Ya, semoga ada perhatian lagi agar ke depan sumber air bisa lebih mudah didapat,” pungkas Rika.

Proyek Sumur Bor Tak Optimal

SEMENTARA itu, Sucipto Sekretaris Desa Ngrimbi menyampaikan, krisis air bersih di desanya  lebih  dipengaruhi proyek sumur bor penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas) yang belum optimal. “Memang dari dulu setiap musim kemarau selalu kekurangan air,” ujarnya kemarin.

Sebelumnya, warga harus mengambil air bersih yang cukup jauh dari Desa Wonokerto, Kecamatan Wonosalam. Kemudian, tahun kemarin pemerintah desa mengajukan proyek Pamsimas agar bisa mencukupi kebutuhan air masyarakat.

“Karena tidak enak ambil di desa sebelah karena bisanya Desa Wonokerto juga kesulitan air, kita mengajukan Pamsimas dan pemkab menyetujui,” katanya.

Sehingga, 2019 proyek Pamsimas selesai dibangun. “Saat uji coba air lancar bahkan dinyalakan satu hari penuh. Berselang beberapa hari setelah diresmikan, air malah habis,” tambahnya.

Ia menyampaikan, di Dusun Wonorejo tersebut ada 48 KK atau 180 jiwa yang setiap hari memerlukan air bersih. Hanya saja, sumur bor belum maksimal sehingga kebutuhan air bersih terhambat, “Jadi air tidak lancar, setelah dimatikan setengah jam, air ada lagi. Seperti surut di sumur bornya,” tambahnya.

Untuk mencukupi kebutuhan warga ini pihak pemerintah desa mengirim air bersih dari Dusun Kopen dua hari sekali. “Setiap dua hari sekali kami mengirim 4.000 liter. Kayaknya sudah mencukupi air bersih untuk masyarakat,” terang dia.

Selain itu, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan BPBD untuk meminta bantuan air bersih. “Kemarin BPBD juga sudah mengirim dua tangki air,” tegasnya seraya berharap ada bantuan yang lebih maksimal.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP