alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Politik & Pemerintahan
icon featured
Politik & Pemerintahan

Hadiri Sedekah Desa, Wabup Sumrambah Sentil Warga Tak Bermasker

20 September 2020, 08: 03: 41 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

BERKERUMUN: Wabup Sumrambah menyaksikan ratusan warga yang menghadiri sedekah desa di makam umum Dusun Paras, Desa Turiiinggir, Kecamatan Megaluh, kemarin.

BERKERUMUN: Wabup Sumrambah menyaksikan ratusan warga yang menghadiri sedekah desa di makam umum Dusun Paras, Desa Turiiinggir, Kecamatan Megaluh, kemarin. (ROJIFUL MAMDUH//JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Ratusan warga tumplek blek di makam Dusun Paras, Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang kemarin. Mereka mengikuti sedekah desa yang digelar rutin setiap Jumat Pahing bulan Suro. Namun sayang, banyak warga yang tidak mengenakan masker. Wabup Sumrambah yang hadir sempat menyindir mereka secara halus.

“Seneng nggeh bisa menghadiri sedekah desa. Tapi sayang kok masih ada yang tidak pakai masker,” ucapnya. Sumrambah lantas menyampaikan manfaat masker secara guyon. “Masker itu membuat ibu-ibu lebih irit lo. Tidak perlu pakai lipstik dan bedak,” kelakarnya disambut tawa ibu-ibu. “Bapak-bapak juga senang karena lebih hemat,” tambahnya.

Sumrambah menjelaskan, saat ini di Jombang sudah diberlakukan Perbup 57 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol. Warga yang tidak memakai masker di luar rumah maupun di tempat umum akan dikenai denda Rp 100 ribu.

Perangkat desa sejatinya sudah mengantisipasi masker. Sekitar 500 meter sebelum masuk lokasi sedekah desa, pengunjung yang tidak memakai masker diberi masker gratis. Serta diumumkan di speaker agar dipakai. Namun tetap saja di lokasi ada yang tidak memakai masker.

Sedekah desa tidak hanya diikuti warga Turipinggir. Melainkan juga dari desa lain bahkan dari luar kecamatan. “Saya datang untuk ikut mbanthak atau rebutan makanan sedekah hasil bumi warga Dusun Paras,” sahut Surya, salah seorang warga Desa/Kecamatan Megaluh.

Hal yang sama disampaikan Asrofi, warga Karangpon, Alang-Alang Caruban, Jogoroto. “Saya datang kesini untuk ikut ngalap berkah sedekah desa,” sahut dia. Sebelum sedekah desa direbutkan, lebih dulu didoakan Ngateman, 92, tokoh dusun setempat. Di lokasi sedekah desa, selain makam warga juga ada dua makam tua. Yakni Mbah Brindil dan Mbah Sandi. Keduanya diyakini sebagai pembabat Dusun Paras.

Menurut Ngateman, sedekah desa harus dilakukan Jumat pahing bulan suro. “Dulu pernah tidak Jumat pahing, akhirnya dalam sehari ada 11 warga yang meninggal dunia,” bebernya. Saat sedekah desa, mikropon juga tidak boleh ditaruh sembarangan. “Kalau ditaruh di atas makam, tidak bisa bunyi,” jelasnya.

Dalang yang diundang pentas dalam sedekah desa juga harus khusus. Dalang Bambang Plandaan, yang kemarin dipakai sudah langganan 10 tahun. “Tahun lalu, sempat ganti dalang. Akhirnya banyak warga yang sakit dan meninggal,” sahut Witono, tokoh setempat.

Makam tersebut juga menjadi jujugan warga yang punya hajatan. “Setiap warga punya hajat, pasti kirim tumpeng ke makam,” pungkas Paiti,53, warga Paras.

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP