alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Sukardi, Difabel asal Kayangan Diwek yang Produksi Kerajinan Bambu

20 September 2020, 07: 57: 42 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

TETAP KREATIF: Sukardi, 35, membuat kerajinan berbahan dasar bambu di rumahnya Dusun Kayen, Desa Kayangan, Diwek

TETAP KREATIF: Sukardi, 35, membuat kerajinan berbahan dasar bambu di rumahnya Dusun Kayen, Desa Kayangan, Diwek (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Keterbatasan fisik bukan halangan Sukardi, perajin difabel asal Dusun Kayen, Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang untuk terus produktif. Pria 35 tahun ini bahkan mampu berdikari dengan produk kerajinan bambu.

JOMBANG - Hampir 19 tahun ini, Sukardi berjalan menggunakan kursi roda. Kakinya mengalami kelumpuhan menyusul kecelakaan kerja yang dialaminya 2001 silam.

Di tengah keterbatasannya itu, Sukardi tak ingin patah semangat menjalani hidup. Dia pun memotivasi dirinya agar tetap bisa survive. Hingga, Sukardi memutuskan menekuni kerajinan dari bahan bambu.

Ya, membuat kerajinan dari bahan bambu merupakan hobi Sukardi semasa remaja. Kini pria difabel ini kian eksis berkat keuletannya menekuni kerajinan berbahan ramah lingkungan ini.

 Ditemui Jawa Pos Radar Jombang di rumah kontakrannya, Desa Kayangan, Kecamatan Diwek. Sukardi menceritakan sekilas tentang musibah kecelakaan kerja yang membuat dirinya lumpuh.

Kejadian nahas itu dialaminya saat salah satu kawasan industri di wilayah Kalimantan. ”Saya kecelakaan kerja pada 2001. Kemudian, selama 6 tahun saya tidak bisa apa-apa. Saya hanya bisa tidur di ranjang,” kenangnya.

Tak ingin menjadi beban orang tua, Sukardi berjuang keras. Meski berada di atas kursi roda, Sukardi Tak mau hidup hanya berpangku tangan.

”Saya pernah jualan pulsa, ternak ayam hingga bekerja serabutan, pokonya yang bisa menghasilkan uang. Kemudian saya menikah, dan pindah ke Jombang setahun terakhir,” jelas dia.

Di Jombang pun demikian, Sukardi yang dibantu istrinya Widiawati, 46, tetap menekuni kerajinan berbahan dasar bambu.

Berbagai macam produk kerajinan bambu berhasil diciptakan hasil olah tangan Sukardi. ”Ada tempat pensil, miniatur burung hantu, vespa, bunga hias, lampu hias atau lampu belajar,” imbuhnya.

Saking banyaknya, di sejumlah titik ruangan rumah Sukardi banyak dipenuhi produk kerajinan bambu. ”Kadang kalau saya buntu tidak ada ide, istri saya yang membantu membuatkan pola,” papar dia.

Seiring produknya semakin dikenal, Sukardi pun kebanjiran order. Bahkan tak sedikit produk kerajinan Sukardi dikirim hingga ke Yogyakarta, Jawa Tengah. Di sana, Sukardi memiliki teman yang setia membantu memasarkan produknya.

Selain dikirim ke Yogyakarta, Sukardi juga menjual lewat media sosial. ”Namun paling banyak dikirim ke Yogyakarta,” jelas dia.

Harga kerajinan bambu milik Sukardi bermacam macam. Mulai yang termurah Rp 25 ribu hingga yang termahal Rp 250 ribu.

Kategori harga itu ditentukan dari besar kecil ukuran kerajinan hingga tingkat kerumitan pembuatan kerajinan. ”Contoh yang murah ada tempat pensil, sedangkan yang mahal misalnya miniatur ini,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP