alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Tak Ada Reklamasi di Bekas Penambangan Liar Megaluh

18 September 2020, 17: 53: 54 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Aktivitas penambangan ilegal di sekitar sungai Brantas wilayah Desa/Kecamatan Megaluh.

Aktivitas penambangan ilegal di sekitar sungai Brantas wilayah Desa/Kecamatan Megaluh. (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Aktivitas penambangan ilegal di sekitar sungai Brantas wilayah Desa/Kecamatan Megaluh memang sudah berhenti. Namun sampai kini belum ada kejelasan proses hukumnya. Termasuk mengenai dampak kerusakan lingkungan.

Kepala Desa Megaluh M. Zainudin Arif mengatakan, aktivitas penambangan berhenti usai diprotes warga. ”Sekarang sudah tidak aktif, sudah dipasang papan larangan,” terangnya.

Karena dampak kerusakan lingkungan cukup parah, pihaknya ingin pihak yang terkait dengan penambangan bertanggungjawab. “Kalau bisa harapan kami dikembalikan lagi seperti awal. Jadi bisa dimanfaatkan warga sekitar lagi. Hanya itu saja,” kata Zainudin.

Diakuinya, area bantaran sungai selama ini lebih banyak dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Mulai jagung, hingga palawija. “Kalau dikeruk tidak bisa ditanami. Andai kata dikembalikan lagi nanti bisa dimanfaatkan,” imbuh dia.

Menurut dia, sampai saat ini pihaknya hanya bisa menunggu tindak lanjut. Baik dari pemkab maupun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. ”Dari BBWS juga belum ada yang ke sini,” sambung Zainudin.

Bukan tidak mungkin, bekas tambang akan memberi dampak negatif. Tidak hanya ke kondisi tanggul atau sungai, namun juga keamanan dan keselamatan warga setempat. “Waktu saya ke sana itu belum seluas sekarang, masih kecil,” pungkas Zainudin.

Sebelumnya, hasil pendataan awal yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang menyebutkan luas lahan yang sudah digali mencapai setengah hektare.

“Jadi yang sudah diambil sekira setengah hektare atau 5.000 meter persegi,” terang M Amin Kurniawan, Kabid Konservasi Lingkungan.

Karena material pasirnya dikeruk, saat ini kondisi permukaan lahan sekitar sungai Brantas membentuk kubangan-kubangan cukup dalam.

“Kalau secara terus menerus dikeruk, longsoran bisa cepat dan akan menggerus tanggul. Dampaknya ini bisa ke dua desa yang berbeda. Tidak hanya di Nganjuk, Jombang juga terdampak,” ungkap Amin.

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP