alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Testimoni Kabag Pemerintahan Bambang Sriyadi Sembuh dari Covid-19

18 September 2020, 10: 32: 04 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

SEMBUH: Kabag Pemerintahan, Bambang Sriyadi, di ruang kerjanya, Selasa (15/9).

SEMBUH: Kabag Pemerintahan, Bambang Sriyadi, di ruang kerjanya, Selasa (15/9). (ROJIFUL MAMDUH/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Kabag Pemerintahan Bambang Sriyadi, 52, termasuk penderita Covid-19 dengan gejala ringan. Meski demikian, sembuhnya butuh waktu sebulan lebih.

JOMBANG - Bapak tiga anak yang sehari-hari tinggal di Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek ini mulai merasakan meriang 12 Juli lalu.

“Badan rasanya tidak enak meskipun tidak terlalu panas,” ucapnya saat ditemui di ruangannya, Selasa (15/9). Sampai dua hari, keluhan itu masih dia rasakan. Akhirnya, dia putuskan periksa ke praktik dokter umum dan diberi obat.

“Namun belum membaik juga,” ucapnya. Justru mulutnya kian terasa pahit dan tidak enak makan. “Mulai 15 Juli saya hanya makan nasi satu sendok,” ungkapnya. Untuk mengisi perut, dia makan pisang dan pepaya.

“Kopi sasetan yang biasanya enak juga terasa hambar,” terangnya. Padahal setiap hari dia selalu meminum kopi yang sama. Meski sudah merasa tidak enak badan, alumnus S1 IIP Jakarta dan S2 Undar ini masih tetap masuk kerja.

Bahkan pada 20 Juli masih sempat rapat ke Surabaya. Hanya tenis lapangan yang tidak dia lakukan. “Sabtu dan Minggu biasanya tenis lapangan di pendopo, saya tidak tenis,” bebernya.

Karena sudah lebih seminggu dan selera makan tak kunjung pulih, dia akhirnya memutuskan kembali periksa ke praktik dokter Rabu (22/7). “Saya juga minta di lab,” ungkapnya. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan dia positif Demam Berdarah Dengue. “Oh, hanya DB,” pikirnya.

Dia lantas ke RSUD Jombang dan ditanya apakah pernah ketemu penderita Covid-19 atau tidak. “Saya jawab pernah. Karena sering ketemu Pak Sekda Jazuli,” ucapnya. Hari itu, Jazuli sudah dinyatakan positif korona dan menjalani isolasi. 

Bambang lantas menjalani foto rontgen. “Hasilnya, di paru-paru saya sudah terlihat flek yang ditimbulkan Covid-19,” urainya. Dia pun diminta isolasi di RSUD. Besoknya, Kamis (23/9) dia menjalani swab dengan hasil positif.  Istrinya, Nurul Rorayanti, 43,yang sehari-hari berdinas di BKDPP juga di uji swab. “Hasilnya sama-sama positif,” kenang Bambang.

Keduanya pun menjalani isolasi di RSUD dalam satu kamar. “Saya dan istri sama. Tidak batuk, tidak sesak nafas, juga tidak panas tinggi. Hari kedua isolasi saya sempat diare,” paparnya. Gejala yang paling dia rasakan yakni tidak enak makan. Sejak seminggu sebelum isolasi, hingga seminggu setelah isolasi.

“Nafsu makan baru kembali saat Idul Adha. Gara-garanya, dikirimi nasi kuning dan stik daging oleh Pak Jufri asisten,” jelasnya. Selama isolasi itu dia sempat diinfus namun tanpa bantuan oksigen. Sang istri malah tidak diinfus karena memang sejak awal tanpa gejala sama sekali.

Selain mengonsumsi obat dari RSUD, Bambang mengaku selama isolasi juga minum minyak kayu putih dicampur air. “Masker juga selalu saya tetesi minyak kayu putih. Setiap kering, saya tetesi,” ceritanya.

Sementara si istri, minum juz bawang putih pagi, siang dan sore. Sekali minum dua tutup botolnya. “Saya ditawari tidak mau. Karena saya kira rasanya tidak enak,” ucapnya. Ternyata, istrinya negatif lebih dulu.

“Istri saya isolasi tujuh hari sudah negatif,” bebernya. Namun istrinya tidak langsung pulang karena ingin menunggui dirinya. “Pada hari ke-17, ketika infus saya dilepas, istri saya suruh pulang.”

Pada 12 Agustus, Bambang menjalani uji swab ke-4. Namun hasilnya tetap positif. Padahal dia sudah menjalani isolasi 22 hari. Pada 13 Agustus, dia akhirnya diperbolehkan pulang.

“Karena masih positif, saya harus isolasi 14 hari,” bebernya. Dia pun memutuskan isolasi di rumah mertua di Pulorejo Ngoro yang kosong. “Saya hanya ditemani anak pertama,  untuk belikan keperluan-keperluan,” terangnya.

Selama isolasi mandiri, dia mengonsumsi vitamin C ditambah juz bawang. Pada hari ke-35, tepatnya 25 Agustus, dia putuskan uji swab mandiri. “Alhamdulillah hasilnya negatif. Sehingga  27 Agustus sudah bisa masuk kantor,” papar dia.

Selama isolasi, Bambang selalu menjaga perasaan agar tidak panik. Dengan berpikir bahwa penderita yang lebih parah banyak. “Saya juga tidak kena Covid-19 sendirian,” bebernya. Dia juga pasrah total kepada Allah.

“Saya bahkan menganggap sakit ini rezeki,” tegasnya. Karena bisa salat tepat waktu. “Begitu dengar azan, langsung salat,” ungkapnya. Juga bisa banyak membaca Alquran. “Setiap hari baca surat-surat pendek di juz 30,” terangnya.

Dia juga selalu berusaha menjaga perasaan tetap gembira. Diantaranya dengan menghabiskan waktu isolasi untuk nonton youtube. “Selama isolasi di RSUD, di selasar ada televisi. Sama Pak Sekda diajak senam menirukan di televisi. Kita juga bisa guyon bersama,” pungkas dia.

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP