alexametrics
Senin, 26 Oct 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Lagi, Warga Temukan Benda Kuno di Galian C Rejoagung Ngoro

18 September 2020, 10: 07: 49 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Warga di Dusun Mlaten, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro kembali menemukan sejumlah benda kuno. Selain koin gepeng, ada pecahan porselin dan tembikar di sekitar lokasi penemuan awal.

Warga di Dusun Mlaten, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro kembali menemukan sejumlah benda kuno. Selain koin gepeng, ada pecahan porselin dan tembikar di sekitar lokasi penemuan awal. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Warga di Dusun Mlaten, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro kembali menemukan sejumlah benda kuno. Selain koin gepeng, ada pecahan porselin dan tembikar di sekitar lokasi penemuan awal.

Seperti yang terlihat di lahan milik Mujib, 50, kemarin. Di lahan yang berbatasan dengan Kabupaten Kediri ini penggali tanah menemukan struktur batu bata kuno.

Membentuk dinding dengan dimensi 2,74 meter dengan ketebalan 84 centimeter dan dan tinggi 44 centimeter. Dinding ini terbentuk atas delapan lapisan batu bata berukuran besar.

“Ditemukannya satu bulan terakhir, yang menemukan juga pekerja yang menggali tanah,” terang Mujib saat ditemui di rumahnya kemarin.

Selain struktur bata, sejumlah benda yang diduga peninggalan era kuno juga ditemukan di sekitarnya. Seperti gerabah dan pecahan porselin. Beberapa alat giling yang terbuat dari batu juga ditemukan terpendam. “Rata-rata di kedalaman satu sampai dua meter,” lanjutnya.

Sayang, banyak dari temuan ini kondisinya telah rusak. Pekerja akhirnya mengumpulkan temuan yang berserakan ini di beberapa karung yang diletakkan di dekat struktur. Sementara yang dalam kondisi masih bagus disimpan di rumah Mujib. Seperti beberapa koin kuno.

“Koin ini yang menemukan juga pekerja, saya diberi tahu dan saya simpan,” tambah dia. Koin itu ditemukan pada proses penggalian tanah. “Waktu ditemukan disimpan di mangkuk dari tanah,” lontarnya.

Selain koin, dua keramik juga ditemukan. Berbentuk mangkuk dan piring yang kondisinya sudah rusak. “Waktu ditemukan utuh, tapi kayaknya ada yang merusak dari pekerja, jadi pecah begini, sampai sekarang masih saya simpan,” ujarnya.

Temuan ini, menambah daftar temuan di lokasi yang sama Desember 2019 lalu. Ketika itu, pekerja tambang yang menggali tanah, menemukan sejumlah benda mulai dari watudakon, ambang pintu dan sejumlah benda lain yang terbuat dari batuan andesit.

Menguatkan Dugaan Permukiman Kuno

SEMENTARA itu Zakaria Kasimin Kepala BPCB Jawa Timur menyebut sejumlah temuan baru menguatkan hipotesis awal jika lokasi galian C tersebut bekas permukiman di masa lampau.

“Seperti dugaan sebelumnya, cukup luas bentangannya, lokasi memang di perbatasan,” terangnya. Hal ini bisa dilihat dari beberapa tipologi temuan di lokasi. Misalnya dari struktur bata yang masih tersisa. Struktur bata yang ditemukan itu dia sebut cenderung berbeda susunannya dengan bangunan suci.

“Bukan bata kosot seperti bangunan peribadatan. Ada spasi antara bata dengan bata lainnya, sambungannya menggunakan tanah, biasanya ini ciri permukiman,” lontarnya. Bukti lain, bisa dilihat dengan banyaknya temuan pecahan tembikar, pipisan, ulekan, wadah air, juga porselen serta uang kepeng.

Benda-benda ini, menunjukkan ada aktivitas kehidupan yang mengindikasikan ke arah bangunan permukiman. “Benda-benda ini barang rumah tangga, sehingga indikasinya juga semakin kuat,” tambah dia.

Terlebih, lokasi sebaran temuan yang mencakup luasan hingga lebih dari satu hektare, menguatkan dugaan jika di lokasi itu bukanlah bangunan tunggal. “Ini bentuknya mungkin kompleks, kita bisa lihat kan ada dua bangunan yang berdekatan, masih dimungkinkan juga ada bangunan lain yang masih terpendam,” tambahnya.

Saat disinggung perihal berdirinya bangunan ini dia mengindikasikan berasal di masa Kerajaan Majapahit. Hal ini didasarkan pada sejumlah temuan lepas dan temuan pendukung lain.

“Misalnya ada temuan yang dominan, keramik dari masa Dinasti Yuan, ada juga koin dari Dinasti Song meskipun minim, jadi kemugkinannya dari abad ke 13-14 masehi,” pungkas Zakaria.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP