alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Joko Triono, Dulu Sopir, Lalu Ketua DPRD Jombang, Sekarang Pengusaha

17 September 2020, 16: 37: 35 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Joko Triono

Joko Triono (Dok Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Ia adalah salah satu wakil rakyat yang menjabat selama tiga periode berturut-turut. Kariernya dirintis dari bawah, hingga akhirnya menapaki puncak di posisi Ketua DPRD Jombang.

Dia adalah Joko Triono, asli kelahiran Bojonegoro yang sejak kecil bercita-cita menjadi anggota dewan. Perjuangan JT, sapaan akrabnya, sangat panjang untuk menggapai cita-cita.

Asam manis kehidupan sudah dilalui dengan suka cita nestapa. Bahkan dia sempat bekerja menjadi sopir angkutan umum.

Pria kelahiran 12 September 1966 bercerita, pada waktu ia duduk di bangku SMA, terbilang anak yang cukup nakal. Bahkan, JT sempat dikeluarkan dari sekolah saat dirinya masih berada kelas 2 di SMAN 2 Bojonegoro.

Sebab, ia tidak pernah masuk sekolah. ”Saya dulu suka gastrack jadi tidak pernah masuk, sehingga saya dipindahkan orang tua ke SMA PGRI di Kedungadem Bojonegoro,” kenangnya sambil tertawa.

Setelah lulus SMA, dia tidak langsung melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Kala itu yang ada dalam pikirannya, membantu pekerjaan orangtuanya.

Lantaran suka menyetir, dia kemudian membantu orang tuanya untuk mengirim gabah ke Jombang. Berulangkali mengirim padi ke Jombang itulah kemudian memunculkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Undar.

”Karena ingin melanjutkan cita-cita menjadi anggota dewan, maka saya mengambil jurusan sosial politik,” imbuhnya.

Dari perkuliahan yang dijalaninya di Jombang, ia kemudian mendapatkan gadis impian yang jadi jodohnya sampai sekarang. Sehingga pada 1988 dia menikahi Endang Sulistyaningsing, wanita asal Plandaan.

Menjalani kehidupan berumah tangga dengan statusnya yang masih menjadi mahasiswa, tentu cukup berat. Dia kemudian bekerja menjadi sopir angkutan umum.

Pada saat itu, dirinya mendapat trayek jurusan Jombang-Pare dan Jombang-Babat. ”Kan kebetulan dulu depan Undar masih terminal, jadi saya menjadi sopir angkutan umum. Teman saya sangat banyak,” bebernya.

Setelah lulus kuliah, dirinya dilarang menjadi sopir dan pada  1991 mulai melakukan bisnis jual-beli beras. Saat bersamaan ia kemudian aktif di partai politik.

Pada 1998, awal kejayaan muncul, setelah ia sudah cukup mempunyai modal dan mendaftarkan diri menjadi anggota DPRD Provinsi lewat PDI Perjuangan.

”Kebetulan waktu itu masih baru, jadi belum mendapat nomor urut, kemudian diberi saran teman untuk pindah ke Madura dengan catatan nomor urut 2,” ceritanya. Dari situ, dia mengaku banyak pengalaman. Seperti melakukan kapanye di depan umum.

”Saat itu masih plegak-pleguk waktu kampanye, bahkan kampanye dengan Bu Mega, keringat dingin keluar sejagung-jagung. Sehingga hanya meneriakkan Merdeka-merdeka,” aku JT.

Hanya saja, perjuangannya saat itu masih belum membuahkan hasil. Lantas dirinya kembali ke Jombang dan pada 2004 berjuang mengikuti bursa pencalonan lagi.

Hingga akhirnya perjuangannya tak sia-sia, dan bahkan menjadi ketua Fraksi PDIP saat itu. ”Pada 2005 saya menjadi ketua Komisi A, kemudian 2014 hingga 2019 dipercaya partai untuk menjadi Ketua DPRD Jombang,” katanya.

Kini, saat tak lagi menjadi wakil rakyat, Joko sibuk sebagai pengusaha pemotongan kayu. Ia juga kerap menghabiskan waktu untuk bermain olahraga tenis. “Sekarang lebih banyak untuk diri sendiri dan keluarga,” pungkasnya.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP