alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Cerita KH Nurhadi Mau Dijuluki ‘Mbah Bolong’ karena Selamanya Santri

17 September 2020, 16: 04: 43 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Nurhadi atau Mbah Bolong, kala upacara Hari Santri Nasional.

KH Nurhadi atau Mbah Bolong, kala upacara Hari Santri Nasional. (ISTIMEWA)

Share this      

JOMBANG - Usia KH Nurhadi yang akrab disapa Mbah Bolong baru kepala empat. Namun ketokohan pria kelahiran Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang ini sudah luar biasa. Jamaahnya sangat banyak dimana-mana.

Rutinan Seribu Rebana setiap Sabtu malam Minggu Wage yang dia asuh selalu dihadiri puluhan ribu jamaah. Santrinya di PP Fallahul Muhibbin Watugaluh, Diwek juga ratusan. Apalagi setelah mendirikan SMP Islam dan SMK Islam Mbah Bolong.

“Saya yakin diberi Allah kemuliaan seperti ini karena doa mbah-mbah saya,” ungkapnya. Suami Hj Fitrotul Himmah ini adalah putra pertama dari tiga bersaudara pasangan H Nurul Yakin dan Nur Hasanah. “Bapak saya penjual bakso. Mbah saya menjalankan dokar,” tuturnya.

Namanya Mbah Syafii. “Mbah Syafii ini selalu berpesan kepada anak-anaknya agar cucunya dimasukkan pondok. Mbah Syafii ini sangat cinta kiai. Walaupun sudah sakit, beliau rela ngesot demi salat jamaah di masjid,” kata bapak empat anak ini.

Kakek buyutnya yang bernama Mbah Ibrahim sangat agamis. “Saat itu Mbah Ibrahim sudah haji. Padahal di zamannya, orang yang haji masih sangat sedikit sekali,” bebernya.

Tirakat dan doa orang tua serta leluhur itulah yang dia yakini mampu merubah perjalanan hidupnya 180 derajat. Dari awalnya ketika sekolah di SDN Gedangan juara joget satu kampung.

Ketika sekolah di SMP Muhammadiyah 3 Mentoro juara teater dengan peran sebagai tuyul. Lalu ketika sekolah Madrasah Aliyah I’dadiyah sambil mondok di PP Bahrul Ulum Tambakberas, juara lomba pidato se-Kabupaten Jombang.

Sejak itu dia sering diundang ceramah hingga sekarang. “Untung saya dipondokkan. Kalau tetap di rumah, bisa jadi orang tidak mengundang saya ceramah. Tapi ngundang joget,” ujarnya lantas tertawa. Ceramahnya digandrungi karena bahasanya sederhana dan kocak. Bawaan orangnya memang suka bercanda.

Pada awal menjadi dai, dia sering menyampaikan kisah Mbah Sonhaji santri Sunan Ampel yang berjuluk Mbah Bolong. Karena bisa melihat Makkah dari Ampel melalui lubang. Terlalu sering menyampaikan kisah Mbah Bolong, dia pun akhirnya dijuluki Mbah Bolong.

“Saya mau dijuluki Mbah Bolong karena Mbah Sonhaji Mbah Bolong itu selamanya santri Sunan Ampel. Beliau tidak pernah dipanggil kiai. Sampai mati ya tetap santri,” jelasnya.

Nah, dia pun demikian. “Sampai kapanpun saya ingin tetap jadi santri. Selamanya santri,” tegasnya. Makanya dia masih rutin mengikuti pengajian KH Djamaludin Ahmad di Tambakberas.

Dirikan Majelis Salawatan hingga Ceramah di Lapas

SEJAK nyantri di PP Al Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas yang diasuh KH Djamaludin Ahmad, KH Nur Hadi Mbah Bolong sudah bercita-cita mengajak anak-anak muda salawatan.

“Karena yang bisa menjadikan anak-anak muda baik hanyalah cinta Nabi dan cinta kiai. Cinta nabi dengan salawatan. Cinta kiai dengan ngaji,” tandasnya.

Setiap Jumat Pon di pondoknya diadakan pembacaan salawat burdah bersama anak-anak TPQ sekitar. “Burdah ini wiridannya KH Wahab Chasbullah,” ungkapnya.

Lalu muncul tawaran kerjasama dari Jawa Pos Radar Mojokerto untuk mengadakan peringatan seratus hari wafatnya Gus Dur. Acara yang dihelat di Alun-Alun Jombang 2010 itu menampilkan salawat kolosal yang diberi nama Seribu Rebana.

Kegiatan itu sukses sehingga grup-grup salawat yang terlibat minta agar dibuat rutinan setiap Sabtu malam Minggu wage. “Jadilan rutinan Seribu Rebana yang semuanya gratis,” tegasnya.

Hampir bersamaan, pada 2010, muncul tantangan dari kepala Lembaga Pemasyarakatan (LP) agar Mbah Bolong mengisi salawatan dan ceramah gratis di penjara. Ceramah di hadapan orang baik itu biasa. Kalau ceramah di depan penghuni penjara lalu ada yang tobat beneran, luar biasa.

“Ditantang seperti itu, akhirnya saya terima,” jelasnya. Bahkan dijadikan hitungan para penghuni yang mau bebas. Ketika ditanya kapan bebas, penghuni menjawab kurang dua kali, tiga kali atau berapa kali pengajian Mbah Bolong.

Awal 2016, dia kembali mengajak para pelajar yang tergabung dalam IPNU IPPNU untuk turun ke sekolah-sekolah salawatan bertajuk Jumat Bahagia. Sampai sekarang jalan. Para dai termasuk dirinya mengisi bergantian.

“Banyaknya kasus narkoba dan lainnya di kalangan remaja tidak boleh didiamkan. Kita semua harus mengambil peran sebisanya,” pesannya.

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP