alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Raden Baud Abdul Djamil Adikusuma, Bapak Karate Indonesia Asal Jombang

17 September 2020, 15: 57: 25 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Raden Baud Abdul Djamil Adikusuma (tengah) semasa hidup.

Raden Baud Abdul Djamil Adikusuma (tengah) semasa hidup. (ISTIMEWA)

Share this      

JOMBANG – Prof Dr Raden Baud Abdul Djamil Adikusuma, adalah pendiri Persatuan Olah Raga Karate Indonesia (PORKI) sebelum berubah menjadi Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI).

Raden Baud anak ke dua dari sembilan bersaudara, pasangan Raden Muhammad Mu’in Adikusuma dan Raden Ajeng Mudina warga asli Sambongdukuh Jombang. Meski besar di Jombang, ditambah leluhurnya juga berada di kota ini, ia justru lahir di Ngimbang Lamongan 1928 silam.

Baud kecil, mengeyam pendidikan di SD Sambongdukuh, kesehariannya juga belajar ilmu agama di Ponpes Mambaul Maarif Denanyar dan menjadi salah satu santri KH Bisri Sansuri kala itu.

Setelah lulus dari SD Sambondukuh, Baud melanjutkan pendidikannya di SMP Normal (Normal School) yang bertempat di SMAN 3 Jombang (sekarang). SMP Normal kini berubah menjadi SMPN 1 Jombang.

Setelah lulus dari SMP Normal, Raden Baud melanjutkan SMA di Jakarta dan pada 1955 dia dikirim Presiden Soekarno belajar ke Jepang. Baud berangkat bersama sejumlah siswa lainnya.

Baud akhirnya pulang ke Indonesia pada 1960, dia juga membawa pulang ilmu beladiri karate dari Jepang. Saat itulah, awal mula karate dikenalkan di Indonesia.

Raden Otto Karnoto Adikusumo, adik kandung Prof Baud menceritakan, pada 1960 itu Presiden Soekarno pun langsung meminta Baud mengajarkan ilmu karate kepada tentara dan instansi militer di Indonesia. Dia diminta keliling Indonesia menyebarkan ilmu karate.

”Tepat pada 1964, Raden Baud mendirikan  Persaturan Olahraga Karate-Do Indonesia (PORKI) yang diresmikan 10 Maret 1964 di Jakarta,” ujarnya ditemui di rumahnya Jl Bali, Geneng, Jombatan Kecamatan/Kabupaten Jombang beberapa waktu lalu. Saat itulah beladiri karate secara resmi mempunyai induk olahraga beladiri.

Setahun setelah  itu, pada 1965, Baud bekerja di Lembaga Administrasi Negara (LAN). Pada saat itu, ilmu beladiri karate ternyata cukup digemari, hingga akhirnya pada 1972 terjadi pertemuan besar yang disebut kongres untuk membahas penyamaan penguruan karate di Indonesia.

Kongres diadakan untuk menyikapi munculnya berbagai macam organisasi pengurus karate yang menyebabkan terjadinya ketidakcocokan antara para tokoh pendiri karate.

Setidaknya ada 24 perguruan kala itu, namun setelah dilakukan seleksi tersisa delapan perguruan resmi yang diakui PORKI. ”Kemudian pada 1972 hasil Kongres ke IV PORKI, terbentuklah satu wadah organisasi karate yang diberi nama Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI),” pungkasnya.

Sosok Motivator Karate Indonesia

MENDENGAR nama Prof Baud, sudah seperti ayah di kalangan karateka. Bagi Kwat Prayitno Ketua Harian FORKI Jombang, sosok Prof Baud bukan hanya pendiri FORKI melainkan sosok motivator bagi seluruh Karateka di Indonesia.

”Beliau adalah seniornya Karate di Indonesia,” ujar Kwat. Dia mengatakan, sosok yang dikenal dengan sebutan Bapak Karate Indonesia ini ternyata sering berkunjung ke Jombang.

Prof Baud suka dengan karate di Jombang yang makin banyak penggemarnya. ”Beberapa tahun sebelum Prof Baud meninggal pada 20 Desember 2014, beliau sering ke Jombang,” tambahnya.

Saat berkunjung ke Jombang dia selalu memberikan semangat dan motivasi bagi penerus karateka di tanah air. Dia memantau, memberi masukan dan tentunya menitipkan semangat perjuangan karate agar terus dikembangkan ke anak cucu dan generasi penerus bangsa.

”Memang kalau di Jombang mampir ke kita, karena memang kelompok kita yang karateka-nya banyak,” sambung dia.

Prof Baud meninggal diusianya yang ke-80. Meski demikian, semangat dan perjuangannya akan selalu dikenang dan diimplementasikan seluruh karateka. ”Beliau sangat luar biasa dalam memberikan dorongan semangat. Karakternya berbeda dari yang lain, kepemimpinan maupun konsistennya tidak akan pernah tertandingi oleh senior senior karate di Indonesia,” paparnya.

Kwat menjelaskan, Prof Baud tidak hanya berkiprah di dunia olahraga beladiri Karate saja. Melainkan di dunia administrasi ketatanegaraan juga disandang.

Sejak era Presiden Soekarno sampai era Preisiden Soeharto tahun 1998, Prof Baud dipercaya menjadi penasehat presiden dan sejumlah menteri di era itu. ”Pada 1965 itu beliau di Sekretaris Negara, era Bung Karno, bahkan beliau juga menjadi staf ahli menteri pada waktu itu,” tandasnya.

Sosok Prof Baud tidak hanya dikenal di Indonesia sebagai pendiri FORKI, bahkan di kancah internasional ternyata namanya cukup disegani.

Kwat menceritakan, pada 2010 seorang Sinakawa Sensei menemui Prof Baud dan meberikan penghargaan Dan X. ”Dan pada saat itu beliau menganggap Prof Baud senior, ini menunjukan bagaimana beliau dikenal di tingkat internasional,” pungkasnya.

Kecintaannya dalam dunia karate tidak perlu diragukan lagi. Selain pendiri Persatuan Olah Raga Karate Indonesia (PORKI), Prof Raden Baud juga dikenal sebagai pendiri Perguruan Indonesia Karate-Do disingkat INKADO.

Kwat Prayitno, yang juga Dewan Guru PB Inkanas pusat menjelaskan, perguruan Inkado lahir pada 18 Maret 1972. Perguruan itu bertempat di Jakarta, sejarah lahirnya perguruan tersebut terinisiasi demi terwujudnya cita-cita bangsa Indonesia khususnya dalam bidang ilmu bela diri karate. ”Dan pendirinya juga beliau (Prof Raden Baud),” ujar Kwat.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP