alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Nurul Abidah, Daiyah Kondang Jawa Timur Asli Jombang

17 September 2020, 15: 50: 09 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Nurul Abidah, adalah salah satu dai kondang Jawa Timur asli Jombang.

Nurul Abidah, adalah salah satu dai kondang Jawa Timur asli Jombang. (Dok Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Nurul Abidah, adalah salah satu dai kondang Jawa Timur asli Jombang. Ia lahir di Jombang, 5 Desember 1974 silam. Nurul Abidah merupakan putri sulung dari pasangan H Irham dan Hj Khusnul Khotimah.

Nurul Abidah menghabiskan masa kecilnya di Dusun/Desa/Kecamatan Perak. Sejak usia dini ia sudah mengenyam pendidikan di madrasah. Nurul Abidah belajar di RA Perak, lalu melanjutkan di MI Gadingmangu dan MI Pagerwojo.

”Jadi saya sekolah dua kali pagi dan sore, alhamdulillah bisa lulus dua-duanya secara bersamaan,” ujar Nyai Nurul Abidah kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Setelah lulus MI, ia pun belajar di MTs Tambakberas sambil mondok di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas tepatnya asrama Fathimiyah. Di sana ia banyak belajar untuk pidato dan ceramah.

Berbagai lomba pidato pun diikutinya, hasilnya pun selalu juara. ”Jadi dulu saya latihan ceramahnya di depan teman-teman pondok di kamar, saya suka pura-pura jadi bu nyai,” celetuknya sambil tertawa.

Selepas mondok di Tambakberas, Nurul Abidah pun kembali menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo, Kediri. ”Saya memang lebih suka mondok salaf tapi tetap ikut ujian formal, Alhamdulillah kedua orang tua saya mendukung dan tidak pernah memaksa harus sekolah atau mondok,” ungkapnya. Jelang lulus mondok, Nurul Abidah dilamar pemuda yang kini jadi suaminya yaitu H Muhtarom.

”Itu juga atas saran Pak Kiai waktu itu, orang tua juga mendukung, jadi saya menikah usia 19 tahun pada 1993. Tapi setelah menikah, saya kembali mondok sekitar 6 bulan. Setelah lulus saya langsung boyong,” jelasnya.

Nurul Abidah pun mengikuti suami tinggal di Pasuruan. Kini ia dikaruniai 4 anak terdiri dari tiga putra dan satu putri. Tak hanya itu, disana ia juga menjadi pengasuh Pondok Pesantren Putri Samsul Arifin di Desa Pukul Kecamatan Keraton Kabupaten Pasuruan. Terdapat sekitar 200 santri putri yang dibimbingnya bersama suami.

Tiada Hari Tanpa Berdakwah

SEMENTARA itu, Hj Nurul Abidah mulai aktif berdakwah sejak menjadi pengantin baru. Sebelum sekondang saat ini, Nurul Abidah memang sudah malang-melintang berdakwah hampir setiap hari disana.

”Alhamdulillah suami saya sangat mendukung. Beliau tidak pernah melarang saya, justru mendorong saya untuk berdakwah. Katanya kasihan mereka yang sudah mengundang,” lontar Nurul Abidah.

Menurutnya restu dari suami menjadi salah satu kunci kesuksesannya dalam berdakwah. Meski sibuk hal itu tidak melalaikan kewajibannya sebagai isteri dan kepala rumah tangga. ”Kebetulan anak-anak mondok semua, jadi tidak begitu berat,” sambungnya.

Kini setiap hari ia selalu berdakwah, dalam sehari ia bisa menghadiri tiga hingga tujuh majlis. Tidak ada hari tanpa berdakwah baginya.

Tidak hanya berbagai kota di Jawa Timur, undangan dakwah juga datang dari berbagai daerah di Indonesia mulai Sumatera hingga Bali. ”Kalau capek itu wajar, tapi Alhamdulillah Allah selalu memberikan kesehatan sehingga bisa menyampaikan ayat-ayat Allah,” tuturnya.

Sepanjang tahun undangan berdakwah pun terus mengalir, ia pun selalu hadir sepanjang waktu tidak bersamaan. Namun diakuinya terdapat beberapa bulan yang ramai undangan seperti maulud dan rajab.

Bahkan jadwalnya untuk berdakwah pun selalu penuh hingga beberapa bulan ke depan. Sejauh apapun lokasinya, ia pun berusaha untuk selalu datang memenuhi undangan tersebut.

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP