alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Dua Kali Tanam Tetap Diserang, Petani Mojoagung Keluhkan Hama Tikus

15 September 2020, 12: 19: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Serangan hama tikus terus masif menyerang lahan petani di Jombang. Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Mojoagung dan Sumobito mengeluhkan tanaman jagungnya rusak akibat serangan hama pengerat ini.

Serangan hama tikus terus masif menyerang lahan petani di Jombang. Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Mojoagung dan Sumobito mengeluhkan tanaman jagungnya rusak akibat serangan hama pengerat ini. (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Serangan hama tikus terus masif menyerang lahan petani di Jombang. Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Mojoagung dan Sumobito mengeluhkan tanaman jagungnya rusak akibat serangan hama pengerat ini.

”Ini saya sudah dua kali gejik (nanam jagung, red) tapi masih saja diserang,” terang Khoiri, salah satu petani.

Dia menambahkan, sejak awal persiapan tanam, dirinya sudah mengeluarkan banyak biaya. ”Mulai menyiapkan lahan, beli benih, upah pekerja dan biaya lainya,” terangnya.

Diawal tanam, tanaman jagungnya tumbuh normal. Namun, tidak lama setelah itu, hama tikus mulai merusak tanaman jagung yang baru muncul daunnya tersebut. ”Rusak parah, daunnya habis dicacah tikus,” bebernya.

Tak ingin lahannya menganggur, dia pun kembali mengeluarkan biaya guna proses tanam ulang. ”Saya belikan benih lagi, bayar orang lagi untuk tanam,” bebernya.

Bukannya berhenti, lagi-lagi tikus menyerang. Bahkan serangan galombang kedua ini lebih parah. ”Jadi benih yang baru ditanam juga dicongkel dari tanah, terus dimakan,” bebernya.

Setelahnya, dia pun mengaku menyerah dan membiarkan sisa tanaman di lahannya. ”Sudah keluar biaya mahal, benih per kilo masih Rp 70 ribu, belum lagi bayar pekerja. Sekarang saya biarkan, nanti tanaman jagung yang masih bisa tumbuh saya rawat,” imbuhnya.

Tidak hanya dirinya, sejumlah lahan petani lainnya juga banyak yang diserang hama tikus. ”Selain saya banyak yang diserang, beberapa juga tanam ulang, sebagian ada yang cuma disulami,” bebernya.

Terpisah, Roziq, salah satu petani di Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito juga mengeluhkan nasib tanaman jagungnya rusak diserang hama tikus. ”Sekarang petani banyak yang bingung karena hama,” bebernya.

Pantauan di lokasi, tidak hanya di wilayah Betek, serangan hama tikus juga masif menyerang lahan petani di wilayah Kecamatan Sumobito.

Terlihat sebagian tanaman jagung petani  tumbuh tidak normal. Tidak sedikit pula lahan yang gundul akibat petani enggan menyulam benih baru.

Di lokasi juga terlihat di sebagian titiknya terpasang rubuha. ”Itu katanya untuk ngusir tikus, belum lama dipasang,” sambung Kotib, petani lainnya.

Anggarkan Rubuha Rp 1 Miliar

SEMENTARA itu, menyikapi masifnya serangan hama tikus, Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang sudah menganggarkan Rp 1 miliar untuk pembangunan rumah burung hantu (Rubuha).

”Ini untuk penyeimbangan ekosistem antara burung hantu dan tikus,” ujar Priadi, Kepala Disperta Kabupaten Jombang kemarin.

Diakuinya, serangan hama masih masif. Ini lantaran tidak seimbangnya ekosistem pemburu alami hama tikus. ”Kita pasang 78 titik rubuha, khususnya daerah yang rawan serangan hama tikus,” katanya.

Dirinya juga mengungkapkan, serangan hama tikus yang masif di wilayah Kecamatan Sumobito dan Kesamben. Sehingga, kecamatan itu juga menjadi prioritas. ”Serangan tikus di Jombang saat ini mencapai 1.088 hektare,” bebernya.

Priadi juga menambahkan, tidak hanya pengadaan rubuha. Akan tetapi, pada P-APBD ini pemkab juga menganggarkan untuk obat-obat pembasmi hama tikus, wereng dan ulat. ”Untuk obat-obatan kurang lebih Rp 700 juta,” tegasnya.

(jo/fid/yan/mar/JPR)

 TOP