alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Agus Winarno Olah Serabut Kelapa Jadi Media Tanam Hidroponik

15 September 2020, 12: 08: 05 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Limbah serabut kelapa yang tidak berguna, ternyata bisa diolah menjadi barang bernilai rupiah. Salah satunya, digunakan sebagai media tanam hidroponik yang menjadi pengganti media tanah.

Limbah serabut kelapa yang tidak berguna, ternyata bisa diolah menjadi barang bernilai rupiah. Salah satunya, digunakan sebagai media tanam hidroponik yang menjadi pengganti media tanah. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Limbah serabut kelapa yang tidak berguna, ternyata bisa diolah menjadi barang bernilai rupiah. Salah satunya, digunakan sebagai media tanam hidroponik yang menjadi pengganti media tanah.

JOMBANG - Bagi masyarakat yang gemar bercocoktanam, maka tak asing dengan cocopeat atau serbuk serabut kelapa. Cocopeat ini dimanfaatkan sebagai media tanam hidroponik sebagai pengganti media tanah.

Media tanam ini dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk serta dapat menetralkan keasaman.

Di tangan Agus Winarno, 51, warga Dusun Kedungbentul, Desa Kedungturi, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, cocopeat berhasil dikembangkan.

Awalnya, dia membuat cocopeat setelah melihat limbah kulit kelapa yang tidak terpakai di tetangganya. Sang pemilik kebingungan karena limbah kulit kelapa itu tidak bisa dibuang.

”Akhirnya saya coba membuat cocopeat untuk media tanam bonsai kelapa. Ternyata cukup bermanfaat,” katanya, sembari memisahkan serabut dari batok kelapa dengan menggunakan mesin dinamo.

Setelah terpisah, serabut-serabut itu dikumpulkan menjadi satu dan dianyam menggunakan tali rafia. Dengan cekatan serabut yang berserakan itu menjadi pola menjadi pot-pot berukuran kecil (cocopeat, Red).

Selanjutnya, ia membuat pot dan berhasil. Setelah itu dirinya juga membuat coco fiber yang juga bermanfaat untuk media tanam. Keistimewaannya, dapat menyimpan air lebih lama.

”Tidak harus disiram setiap hari. Bahkan saya uji selama satu minggu tidak disiram pun ternyata masih basah di bawahnya,” jelasnya. Untuk permintaan, Agus mengaku cukup banyak  untuk produksi campuran pupuk organik. ”Saya produksi sekitar 8 bulan,” tambahnya.

Selain dari Jombang sendiri, ada juga permintaan dari Gresik dan Sidoarjo yang datang langsung ke Jombang.

Soal produksi, Agus menggunakan dengan mesin kecil. Dalam sehari, produksi cocopeat hanya tiga karung. Sedangkan untuk coco fiber, sehari dua karung besar.

”Untuk bahan baku limbah kulit kelapa, saya membeli. Satu karung besar saya beli Rp 5 ribu. Itu kalau diproses dan diuangkan, menjadi sekitar Rp 500 ribu,” tandasnya.

Dalam mengerjakan produksinya, ia dibantu dua orang. Satu orang untuk bagian penguraian, penggilingan, dan satu orang lagi bagian perakitan.

Permintaan cocopeat di tempatnya cenderung meningkat karena sekarang banyak orang yang hobi bercocoktanam bunga dan sejenisnya di pot. Penghasilan Agus dalam satu bulan dengan penjualan pot ini rata-rata sekitar Rp 4 juta.

”Itu belum termasuk penjualan dari cocopeat dan coco fiber. Kalau total secara keseluruhan, dalam satu bulan saya dapat menghasilkan Rp 7-8 juta,” pungkasnya bangga.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP