alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Pinto Widiarto, Gagal Jadi Guru, Malah Jadi Sekretaris DPRD Jombang

14 September 2020, 17: 33: 58 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pinto Widiarto Sekretaris DPRD Jombang

Pinto Widiarto Sekretaris DPRD Jombang (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Perjalanan karir Pinto Widiarto, Sekretaris DPRD Jombang, ini terbilang unik. Namanya, memang tak banyak diketahui. Namun di kalangan birokrasi maupun DPRD Jombang, Pinto ini ibarat CPU yang mengurus segala keperluan wakil rakyat.

Mulai dari agenda internal, rapat dengan eksekutif, anggaran dewan hingga tugas-tugas di kesekretariatan DPRD Jombang. Perjalanan menjadi seorang Sekretaris DPRD tidaklah singkat. Pinto kecil, lahir di Desa Ploso, 11 Juni 1962.

Anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sudarsono dan Pirmaningsih, ini mengenyam pendidikan pertama di SDN Ploso 1 lulus 1975. Namun masa kecilnya tak seperti anak-anak pada umumnya. Sebab sang ayah meninggal disaat dia membutuhkan peran seorang ayah. 

Kendati demikian, hal itu tak menyurutkan niatnya menuntut ilmu. Dia melanjutkan pendidikan SMP di SMP Wijana 1979. Pinto pun tergolong cukup cerdas. Terbukti beberapa kali ia langganan rangking teratas di sekolahnya.

Pada 1979, dia melanjutkan sekolah di SMAN 2 Jombang, saat itu namanya masih Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP). Saat itu dia satu angkatan dengan Bupati Jombang non aktif Nyono Suharli Wihandoko, meski beda jurusan.

Pinto jurusan IPS, sedangkan Nyono jurusan IPA. Masuk di SMAN 2 Jombang, Pinto bergabung dalam organisasi keagamaan. Belajar tentang leadership, organisasi dan belajar berinteraksi satu sama lain, Pinto berkeinginan menjadi seorang guru olahraga.

Diapun bertekad menggapai cita-citanya dengan masuk sekolah keguruan. Pada 1982, ia masuk IKIP Jogjakarta. Kesehariannya diisi dengan belajar dan mengikuti perkuliahan di IKIP.

Sayangnya, nasib berkata lain. Sejak semester pertama hingga semester empat, Pinto gagal memenuhi SKS di mata kuliah renang. Saat itu, renang merupakan mata kuliah prasyarat agar bisa lulus. Tak berhenti di semester empat, hingga semester enam juga demikian, dia gagal memenuhi mata kuliah wajib lainnya. Lantas diapun putus kuliah sebelum kena drop out (DO).

Pinto pun tak patah arang. Bagi dia kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Dia bertekad untuk mengejar S1-nya di universitas lain. Pada 1986 ia pindah kuliah ke Universitas Widya Mataram Jogjakarta dengan mengambil jurusan Sosiologi, dan akhirnya lulus pada 1990.

Setelah lulus, langsung ikut kakaknya di Jambi. Masa itu menjadi masa sulit karena saat bersamaan ibunya Pirmaningsih, meninggal dunia. Tiga tahun berselang, Pinto kembali ke kampung halaman untuk mengadu nasib. Pinto mengikuti beberapa kali tes pegawai di DPMD yang dulunya Pembangunan Desa (Bangdes) Jombang dan diterima.

Disinilah awal karirnya di dunia birokras. Tak berselang lama, dua tahun setelah itu, ia digeser ke sekretariatan dewan menjabat Kasubag Risalah di DPRD pada 1995-2003. Posisi itu dijalaninya  cukup lama, dan sempat menjadi Kabag persidangan hingga 2012.

Kemudian dia dimutasi ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jombang sebagai Sekretaris. Lalu sempat mengisi di Kabag Umum dan Protokol pada 2014 yang saat itu dia masih eselon IIIa.

Namun setahun kemudian, Pinto menjadi Sekretaris DPRD Jombang dengan naik jabatan menjadi eselon II b yang setara dengan kepala SKPD. Puluhan tahun menjadi aparatur sipil negara sejak di pemkab hingga DPRD Jombang, Pinto sedikit banyak mengetahui pergantian pucuk pimpinan baik di DPRD maupun Pemkab Jombang.

Telat Nikah, Miliki Tanggal Lahir Sama

PINTO Widiarto baru melepas masa lajang di usia ke-33. Dia menikah dengan Tjatur Sih Mahanani warga asli Desa/Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Meski bisa dibilang telat kawin, tapi ada yang spesial dari hubungan mereka. Yakni, tanggal lahir Pinto dengan istrinya sama, 11 Juni.

”Kalau saya 11 Juni 1962, istri 11 Juni 1968, jadi kalau kami ulang tahun bareng,” ujar Pinto. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai dua anak perempuan yang cantik. Mereka adalah Astri Puspitasari dan Kartika Widya Sari. Sama seperti dirinya dan istri yang lahir di tanggal sama, kedua anak perempuanya juga lahir di tanggal yang sama, 24 Maret.

”Yang pertama lahir 24 Maret 1997 dan yang kedua 24 Maret 1999, sehingga mereka kalau ulang tahun bareng,” tambahnya sambil tersenyum.

Untuk menjaga kebugaran tubuhnya, disisi lain, Pinto memiliki cara ringan sebenarnya, tapi bisa menjaga badan selalu fit. Bapak dua anak ini ternyata rajin jogging setiap pagi. Dia selalu memulai aktifitas pagi dengan jogging sejauh 2 kilometer.

Maklum bekerja di kantor tidak memiliki waktu luang untuk olahraga. Belum lagi pekerjaan menumpuk yang datang setiap hari. ”Sampai sekarang saya masih rutin melakukan jogging, rasanya pikiran fresh dan badan menjadi segar,” jelas dia.

Awalnya, kata Pinto ada waktu luang untuk tenis, namun seiring bertambah banyaknya pekerjaan menyita waktu untuk bermain tenis. ”Saya kalau jogging mulainya jam 04.30 pagi, setelah itu pulang 05.30 siap siap berangkat kantor,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia