alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Dr. Munawaroh, M.Kes, Kartini Masa Kini yang Pimpin STKIP PGRI Jombang

14 September 2020, 17: 29: 40 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Dr. Munawaroh M.Kes, Ketua STKIP PGRI Jombang.

Dr. Munawaroh M.Kes, Ketua STKIP PGRI Jombang. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Ia adalah salah satu tokoh perempuan inspiratif yang mengabdikan dirinya di dunia pendidikan, hingga mencapai puncak tertinggi sebagai Ketua STKIP PGRI Jombang.

Dr. Munawaroh M.Kes namanya. Kisah hidupnya penuh perjuangan dan tak mudah, menginspirasi banyak perempuan. Munawaroh, lahir di Surabaya 25 November 1964 pada keluarga yang bisa dikatakan kurang mampu. Sejak kecil, ia besar dan tumbuh di kota pahlawan hingga menamatkan pendidikan SMA pada 1984.

Impian dan cita-cita yang besar untuk terus memperoleh pendidikan tinggi membuatnya ingin masuk pada salah satu perguruan tinggi keguruan di Urabaya kala itu. Meski dengan jalan yang tidak mudah.

“Saya sempat menganggur setelah lulus SMA itu, karena tidak memiliki biaya melanjutkan ke bangku kuliah. Bahkan saya harus membantu mencari nafkah keluarga dengan membuka les bimbingan belajar,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Hingga setahun kemudian, dengan berat hati ia memberanikan diri mendaftar ke IKIP Negeri Surabaya. Hingga diterima pada jurusan Pendidikan Ekonomi, dia merasa dilema dengan karena pesimistis bisa melanjutkan pendidikan sampai selesai.

“Tentu ada kekhawatiran, apakah saya mampu menyelesaikan kuliah dengan biaya sendiri atau tidak,” lanjutnya.

Namun keyakinannya terus mendorong maju. Sembari menjalankan usaha bimbel untuk siswa SD sampai SMA, Munawaroh terus melanjutkan kuliah hingga mampu melewati semester pertama.

“Alhamdulillah, usaha itu mulai menampakkan hasil, pada semester tiga dan empat, ekonomi keluarga saya mulai stabil dan saya mulai nyaman meneruskan kuliah,” sambung ibu satu anak ini.

Bahkan menjelas semester akhir, dirinya mulai tak lagi memikirkan biaya kuliah karena mendapat beasiswa TID. “Dapat beasiswa itu mulai semester lima sampai lulus 1989 dan diwisuda 1990,” lontarnya.

Perjalanannya menuju puncak pimpinan STKIP PGRI Jombang pun tak mudah. Setelah lulus dari IKIP Surabaya, ia sempat tercatat bekerja di salah satu perusahaan cat di Surabaya.

“Waktu itu cuma tiga bulan, di bagian administrasi, kalau dulu istilahnya pembukuan,” katanya. Kewajibannya sebagai penerima TID beasiswa, kembali membawanya mengabdi di dunia pendidikan.

Munawaroh akhirnya memilih STKIP PGRI Jombang sebagai pelabuhan, sejak 1989 hingga diangkat menjadi pegawai negeri di sekolah tinggi yang sama dua tahun kemudian.

“Awalnya sebagai dosen biasa, kemudian 1991 diangkat menjadi Sekjur sampai 1992 diangkat menjadi Ketua Prodi Pendidikan Ekonomi,” sambung Bu Mun, sapaan akrabnya.

Meski telah menjadi dosen, keinginanya memperoleh pendidikan setinggi mungkin masih ia upayakan. Ini dibuktikan dengan dua gelar yang disandang pada kurun waktu 1998-2009, yakni gelar Magister Kesehatan dari Universitas Airlangga Surabaya hingga gelar doktoral dari Universitas Negeri Malang pada program Pendidikan Ekonomi.

“Saya sempat mengambil jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat saat program S2 dengan peminatan Ilmu Perilaku dan promosi Kesehatan. Meskipun saat prgram doktoral di UM, kembali ke Pendidikan Ekonomi,” tegasnya.

Dua gelar tersebut juga membuat kariernya makin moncer. Terbukti pada puncaknya di tahun 2016, dia berhasil menapaki langkah sebagai ketua sekolah tinggi yang juga kampus unggulan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi ini.

“Sebelumnya 2014-2016 saya mengepalai BAK dulu. Ya, Alhadulillah, ini kan dari Allah juga yang mendengar dan membayar upaya dan jerih payah saya selama ini,” pungkas dia.

Kiat Kartini Masa Kini

SEBAGAI seorang pemimpin perguruan tinggi, Munawaroh tentu tak lupa dengan kodratnya sebagai wanita dan sebagai istri. Beberapa kiat dan trik diberikannya untuk tetap bisa menjaga ritme pekerjaan, dan keluarga agar tetap seimbang.

Ia meyakini jika di era ini, wanita tak lagi selalu jadi subordinat. Wanita bisa berperan lebih bahkan mampu setara secara hak dalam pekerjaan dengan pria.

“Sekarang sudah tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam menjabat instansi dan pemerintahan. Ini jaman penyetaraan gender, pria dan perempuan memiliki hak yang sama meskipun dengan tanpa meninggalkan kodrat sebagai wanita,” ucapnya.

Wanita, memang disebutnya punya nilai lebih dalam memimpin ketika dibandingkan dengan pria. Terlebih dengan kecenderungan sifat penyayang dan kesabaran yang dimiliki.

“Biasanya wanita itu telaten, kemudian disiplin dan sabar kemampuan multitasking hingga caranya memanage waktu, saya kira luar biasa. Nah ini ketika diterapkan dengan benar saat wanita memimpin, menurut saya ini akan jadi nilai plus,” sambungnya.

Ia kemudian mencontohkan kepimpinan STKIP PGRI Jombang yang saat ini memang dipegang empat wanita. Dirinya sebagai ketua, dan tiga pembantu ketua lain yakni Henny Sulistiyowati MHum sebagai pembantu ketua I, Dr. Nurwiani MSi sebagai pembantu ketua II dan Dr. Nanik Sri Setyani MSi sebagai pembantu ketua III.

“Ini alami proses semuanya, dan ternyata Allah mentakdirkan STKIP PGRI Jombang dipimpin wanita, ternyata kita bisa buktikan jika kampus ini bisa makin moncer dan sukses,” lanjutnya.

Meski demikian, kodratnya sebagai istri dan ibu dari putri semata wayangnya juga tak ia tinggalkan. Malah, Munawaroh punya trik khusus agar karir dan keluarga bisa beriringan. “Yang jelas ketika jam kerja, misalnya pukul 07.00 sampai pukul 17.00 karena kita bekerja, ya kita fokus ke pekerjaan. Setelah itu kita pulang ke rumah, semua atribut harus dilepas dan kita jadi milik keluarga, itu kuncinya,” sebutnya.

Bahkan pengasuhan model ini ternyata ia rasakan sendiri mampu membawa putrinya menapaki karir yang cemerlang di Jakarta. Dan diwaktu yang sama tak ada komplain dari almarhum suaminya dulu. “Anak saya sudah berhasil sekarang, itu bukti pola pengasuhan saya juga berhasil. Suami saya juga selalu mendukung dari sebelum beliau meninggal dunia,”  lontar Munawaroh.

Dua bukti tersebut menurutnya menunjukkan jika wanita kini memang tak lagi seharusnya dipandang sebagai mahluk kedua dalam kehidupan. “Wanita sebenarnya bisa untuk berperan dan ikut aktif mensuskseskan Bangsa Indonesia menyongsong era industri ini,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP