alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

KH Zulfikar As’ad, Kiai dan Dokter Muda dari Rejoso Peterongan

14 September 2020, 17: 26: 16 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Zulfikar As’ad

KH Zulfikar As’ad (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Tokoh satu ini adalah kiai muda yang jadi salah satu pimpinan pondok pesantren besar di Jombang. Aktif di berbagai organisasi baik lokal hingga nasional. Ia juga seorang dosen dan praktisi kesehatan.

Namanya KH Zulfikar As’ad, lahir 26 Februari 1964, dan merupakan putra KH As’ad Umar salah satu pengasuh PP Darul Ulum Peterongan. “Saya memang asli Jombang. Saya putra kedua dari delapan bersaudara,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Lahir sebagai anak kiai besar dan berpengaruh, Gus Ufik sapaan akrabnya, semenjak kecil memang mendapat pendidikan di pesantren. Meski demikian, ayahandanya mengimbangi dengan pendidikan umum yang mumpuni. Dia tercatat bersekolah di sekolah umum meski sebagai putra kiai.

“Saya dulu nggaro istilahnya, jadi sekolah di umum dari SD sampai SMA, tapi juga sore belajar di madrasah diniyah pondok. Karena buat ayah saya, pendidikan umum juga sangat perlu, kalau pendidikan dan pengetahuan agama kan memang sudah wajib hukumnya, jadi akan tetap seimbang,” lanjutnya.

Dia juga meneruskan pendidikan perguruan tinggi ke UGM Jogjakarta dengan mengambil jurusan kedokteran. Tak puas dengan itu, ia kemudian meneruskan studi mengambil pendidikan Magister di kampus yang sama. “S-2 saya mengambil menejemen rumah sakit memang, karena saya memang ingin mendalami managemen tidak cuma praktik kedokteran saja,” imbuhnya.

Gus Ufik juga tercatat menempuh pendidikan Doktoral Ilmu kesehatan di Unair Surabaya yang masuk dengan Sandwich program di salah satu universitas di Australia. Meski lulus sebagai dokter umum, ia lebih memilih mengabdikan diri di banyak organisasi keagamaan, sosial, olahraga hingga kemasyarakatan. Ada puluhan organisasi dinaunginya, baik tingkat lokal hingga nasional.

Sebut saja sebagai Wakil Ketua Lembaga Kesehatan PBNU, Ketua Umum ARSINU, hingga menjadi anggota Majelis Pondok Pesantren Darul Ulum. Sebagai Direktur dan komisaris beberapa rumah sakit di Jombang hingga Ketua Umum Wushu Indonesia Jombang.

“Kalau wushu memang sudah dua periode ini, sudah 10 tahun, saya memang suka olahraga dan wushu menurut saya salah satu olahraga yang menarik,” ucap Wakil Rektor Unipdu Jombang ini.

Tak saja aktif di organisasi profesi, dirinya juga menjadi salah satu pengasuh Asrama As’adiyah Pondok pesantren Darul Ulum. “Dengan organisasi sebanyak itu saya harus bisa membagi waktu, kuncinya itu,” pungkas suami Nyai Hj. Afifah Zulfikar ini.

Jadi Pemain Bola Hingga Crosser

SALAH satu yang membuat Gus Ufik memilih menjadi dokter dan aktif di kegiatan yang berbau kesehatan menurutnya, adalah kegemaran berolahraga. Ayah lima anak ini mengaku suka olahraga sejak kecil. Sejumlah olahraga mahir dimainkannya.

“Kalau ditanya suka olahraga tentu suka sekali, hampir semua olahraga. Tapi sejak kecil yang aktif sepak bola, badminton, voli, tenis juga sering dulu. Kalau sekarang ya senam aerobik yang masih rutin,” ucap dia saat ditemui di kediamannya kemarin.

Pria yang terlihat kalem ini juga pernah mendalami olahraga extrim seperti motorcross. Gus Ufik mengaku pernah mencoba olahraga motor khas lelaki ini di usianya yang masih remaja. “Pernah dulu waktu SMA tapi tidak lama, cuma dua tahun kalau tidak salah, dari kelas 1 sampai kelas 2,” kenangnya.

Selain membutuhkan modal yang tak sedikit, restu orang tua tak didapatkannya. “Dulu sembunyi-sembunyi, tidak boleh sama ayah. Karena itu tidak berlanjut, hanya di level Jombang saja, modalnya juga besar kalau buat motor begitu ya,” lanjutnya.

Namun, olahraga yang paling dikenang dan bertahan dilakukannya adalah sepak bola. Gus ufik menyebut pernah punya kenangan manis hingga bertanding level nasional. “Waktu itu main mewakili kampus di pertandingan antar fakultas kedokteran,” ucapnya.

Kala itu, dirinya bermain langsung di Istora Senayan Jakarta. “ Beberapa ada yang jadi pemain nasional, dan kita sering mengenang pertandingan itu bareng-bareng,” imbuh dia. Meski giatnya berolahraga tak seintensif dulu karena kesibukan yang menyita waktu, Gus ufik cukup bangga masih bisa memimpin sebuah organisasi olahraga di Jombang  selama 10 tahun berturut-turut.

“Awalnya dulu diminta langsung Pak Widjono untuk ikut membantu organisasi tetap berjalan dan ternyata Alhamdulillah saya masih bisa konsisten,” lontarnya. Memang, wushu merupakan olahraga yang menarik dan mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

“Wushu itu olahraga yang mengajarkan ketenangan, bagimanapun kondisi emosi saat itu, saat menghadapi musuh harus bisa dingin, artinya harus tetap tenang. Jadi menurut saya memang sangat menarik dipelajari,” pungkas Gus Ufik.

Memilih Tak Buka Praktik

BAGI KH Zulfikar As’ad, pengabdian dalam profesi bisa dilakukan banyak hal. Ini dibuktikannya dengan tak membuka praktik meski statusnya dokter. Ia punya alasan tersendiri mengenai hal ini.

Gus Ufik memang pernah membuka praktik dokter saat dia  bekerja di salah satu dokter puskesmas di Tulungagung. Namun tak terlalu lama karena beberapa hal.

“Disana masih di desa, waktu itu saya buka praktik kecil-kecilan tanpa penentuan tarif, artinya saya kerjakan sosial saja. Ternyata diprotes sama perawat lain yang membuka praktik, karena mereka sudah membuka tarif layanan, akhirnya saya tutup,” ucapnya.

Sampai kini Gus Ufik tetap tak membuka praktik kedokteran. Saat ditanya alasannya, ia menyebut prinsip pilihan berbeda. “Buka praktik itu kan duduk menunggu orang sakit datang, nah saya kepinginnya tidak begitu, saya ingin bisa langsung menjangkau mereka dan tidak menunggu orang sakit datang.” lanjutnya.

Selain itu, pilihan untuk mengambil jurusan Managemen yang lebih ditekuninya juga membantu menyehatkan. “Sakit itu  bukan untuk orang saja, lembaga juga ada yang sakit sehingga butuh disehatkan, menurut saya juga penting, dan sifatnya lebih umum. Toh juga masih di dunia kesehatan,” sambungnya.

Meski demikian, dia masih sering ditanya seputar kedokteran hingga masalah kesehatan. “Tentu saya jawab sesuai pengetahuan saya sebagai dolter umum, kalau masalahnya sudah sangat mendetail, akan saya sarankan berkonsultasi kepada dokter spesialis. Saya dulu ambilnya dokter umum saja,” tutupnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia