alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Melihat Geliat Budidaya Belimbing Bangkok Merah di Bandar Kedungmulyo

14 September 2020, 11: 45: 47 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Budidaya belimbing di Desa Kayen, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang.

Budidaya belimbing di Desa Kayen, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang. (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Belimbing, salah satu buah yang menjadi favorit banyak orang. Buah ini kaya manfaat. Selain itu, budidayanya juga mudah karena hampir bisa dipanen setiap hari. Seperti yang terlihat di Desa Kayen, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang.

“Ada puncak panen raya, tapi hampir setiap hari belimbing bisa dipanen,” ungkap Shoim, warga Desa Kayen yang membudidayakan buah belimbing.

Di kebun rumahnya sendiri, ratusan pohon belimbing bangkok merah ditanam berjajar. Mulai depan, samping hingga belakang rumah. Meski begitu, rumah Shoim tak begitu tampak dari jalan karena tertutup rimbunnya daun belimbing. Ya, Shoim memiliki 130 lebih pohon belimbing.

Sehari-hari sejak pagi, ia sudah berkecimpung dengan tanaman buah yang kaya serat dan vitamin C ini. Mulai dari memangkas dahan, membungkus buah belimbing, hingga memanen. Semua dilakukannya sendiri.

Menurutnya, budidaya buah belimbing memang terlihat mudah. Namun harus ulet. Sebab, butuh perawatan jeli dan harus memerhatikan masing-masing buah. Seperti membungkus setiap buah belimbing dengan plastik. “Kalau tidak dibungkus, buah tidak berkembang bagus, banyak hama,” tambahnya.

Membungkus belimbing diyakininya tidak hanya melindungi buah dari lalat buah dan ulat, tapi juga menjadikan kulit belimbing tampak kuning mengkilat. Bahkan teknik membungkus juga harus diperhatikan. Tali untuk membungkua harus rapat. Jika tidak, kulit belimbing tak mulus dan ada bercak lubang di bagian luar.

Pemberian pupuk juga harus dilakukan. Pupuk yang membuat rasa belimbing menjadi manis. Buahnya juga bisa berkembang optimal. “Bandingkan buah belimbing yang dipupuk dengan yang tidak dipupuk, rasanya akan berbeda,” tambahnya lagi.

Setiap hari, Shoim membungkus buah belimbing. Semua pohon belimbing yang ditanam sudah berbunga. Tak heran, kalau setiap hari ia juga panen. Buah belimbing yang tumbuh dalam bungkusan itu diambil. Kemudian, plastik dilepas dan dijemur untuk digunakan kembali pada buah yang lain. Setelah itu blimbing dikemas dalam wadah plastik per kilogram.

Menurutnya, buah belimbing yang dipanen setiap hari cukup banyak. Jumlahnya berkisar antara setengah sampai satu kwintal. Belimbing yang sudah dipanen itu dijual dengan harga Rp 10 ribu per kilogram. “Kalau yang ambil bakul harganya beda,” bebernya.

Namun tidak semua buah belimbing miliknya diambil tengkulak. Tak jarang segerombolan emak-emak datang ke rumahnya, untuk sekedar memetik langsung buah belimbing dari pohon. Ada juga beberapa kali yang sengaja datang berlibur di bawah pohon belimbing.

“Sering bawa tikar, ada yang sampai bawa bumbu rujak untuk rujakan di sini. Rata-rata orang Jombang, tapi orang Kediri, Nganjuk juga ada yang datang,” terangnya. Meski begitu, ia sengaja tidak memberi plakat wisata kebun belimbing. Sebab, ia khawatir kalau ada pengunjung yang datang saat buahnya sedang habis.

Dengan perawatan yang jeli, kini buah belimbing milik Shoim tampak sehat. Untuk melindungi belimbing dari ulat, ia rutin menyemprotkan obat ke daun. Ada juga dua sampai tiga botol yang menggantung di satu pohon. Botol berlubang itu berisi cairan yang fungsinya untuk menjebak lalat buah agar tak sampai menyerang belimbing.

Budidaya belimbing juga bisa menjadi mata pencahariannya. Pernah, dalam sebulan ia mengaku dapat penghasilan hingga Rp 11 juta dari buah belimbing. “Tapi itu tahun lalu, sepeninggal istri, pembukuan tidak terurus lagi,” pungkasnya.

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia