alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Ekselsa, Kopi Asli Wonosalam yang Kini Mulai Jalani Panen Pertama

14 September 2020, 09: 44: 35 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kopi ekselsa atau asisah. September ini, adalah bulan pertama panen kopi beraroma nangka ini.

Kopi ekselsa atau asisah. September ini, adalah bulan pertama panen kopi beraroma nangka ini. (ACHMAD RW/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG punya salah satu varietas kopi yang punya rasa khas. Sebagian orang sering menyebutnya kopi ekselsa atau asisah. September ini, adalah bulan pertama panen kopi beraroma nangka ini.

Beberapa hari lalu, Jawa Pos Radar Jombang melihat langsung aktivitas petani di Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam. Saat itu mereka sibuk di kebun kopi. Di lahan yang berada di ketinggian 600 mdpl, pemilik lahan memetik biji kopi yang sudah layak panen.

“Ini salah satu panen pertama. Memang mulai bulan September, sampai nanti paling banyak atau panen raya di bulan November,” terang Tumian, salah satu petani. Untuk kopi asisah miliknya, Tumian menyebut tak ada kesulitan berarti yang harus dihadapi.

Pohon kopi asisah cenderung tumbuh rendah, sehingga mudah diraih tangan. Namun, tak seluruh biji kopi bisa dipanen sekaligus. Untuk mendapat kopi dengan kualitas istimewa, ia harus benar-benar rinci memilih biji kopi yang dipetik.

“Hanya yang merah saja yang boleh dipetik kalau mau kualitas bagus. Kalau tidak begitu ya dirontokkan semua, tapi hasil kopinya tidak seenak kalau yang merah saja,” lanjutnya.

Untuk panen tahun ini, Tumian menyebut hasilnya cukup menggembirakan. Dari lahan seluas satu hektare, pada hari itu ia mendapat hingga lima kuintal kopi. “Hasilnya ini sudah lumayan. November nanti, jumlahnya bisa lebih banyak lagi,” lontarnya.

Setelah dipetik, kopi-kopi dengan buah pilihan ini dikumpulkan di kranjang dan tempat lainnya untuk dijemur sampai kering. Setelah itu baru digiling, dan dijual ke konsumen. “Kalau penjualannya, ada yang minta masih ada kulitnya. Ada juga yang sudah dikupas kulitnya, atau ose istilahnya,” tambahnya.

Untuk harga, kopi yang masih dengan kulitnya dibandrol Rp 4 ribu perkilo. Sementara jika sudah berbentuk ose atau green bean, harganya bisa mencapai Rp 40 ribu perkilo. “Kalau sudah diroasting dan jadi bubuk, bisa 120 ribu perkilo,” tambah Tumian.

Bentuk Pohon dan Rasanya Khas

BEBERAPA petani di Dusun Mendiro, sudah puluhan tahun menanam kopi jenis asisah. Bukan tanpa alasan, kopi jenis ini disebut lebih mudah dan menguntungkan. “Saya sendiri sudah 10 tahun menanam kopi ini, karena perawatannya memang mudah,” terang Tumian.

Menurutnya, pohon kopi asisah, kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem. Sehingga perawatannya tak membutuhkan kerja ekstra. Sementara untuk pemupukan, ia mengaku cukup pakai pupuk kandang disertai pupuk organik campuran yang diraciknya sendiri.

“Jadi memang tidak rewel kopi jenis ini,” lanjutnya. Sedangkan untuk karakteristik buahnya, kopi asisah cenderung berbentuk lebih kecil jika dibandingkan dengan kopi robusta. Buahnya, memiliki kulit dan daging lebih tebal.

“Bijinya memang lebih kecil, apalagi kalau dibandingkan dengan robusta,” tambahnya. Namun kopi jenis ini, memiliki karakteristik yang khas pada rasa. Jika diseduh, kopi asisah memiliki aroma khas buah nangka. Aroma ini tak mudah ditemukan di banyak kopi jenis lainnya.

“Selain itu, di mulut juga ada sensasi rasa asamnya. Banyak yang suka karena rasa dan aromanya itu,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP