alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Guru dan Keluarga Terpapar Covid-19, Dua Sekolah Lockdown 10 Hari

13 September 2020, 09: 00: 09 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

ILUSTRASI: Covid-19.

ILUSTRASI: Covid-19. (Istimewa)

Share this      

JOMBANG – Dua sekolah di Jombang terpaksa di-lockdown  alias ditutup sementara selama 10 hari, mulai kemarin (11/9). Ini setelah ada beberapa anggota keluarga guru dan karyawan yang terkonfirmasi positif Covid-19. Dua sekolah itu SMPN 1 Kudu dan SDN Sumberejo Wonosalam.

Kepala SMPN 1 Kudu Siswoko, menjelaskan ada anggota keluarga dari guru dan karyawan yang meninggal karena positif Covid-19. ”Memang benar beberapa hari lalu ada kakaknya guru kami yang meninggal dan dinyatakan positif Covid-19,” ujarnya.

Sebenarnya, guru tersebut tidak tinggal satu rumah dengan saudaranya yang terkonfirmasi Covid-19. Namun sang guru tersebut selalu berinteraksi saat berada di rumah saudaranya itu. ”Kemudian saat dilakukan uji swab dan sang kakak meninggal terkonfirmasi Covid-19,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Siswoko, ada lagi anggota keluarga salah satu karyawan SMPN 1 Kudu yang juga meninggal dunia setelah terkonfirmasi Covid-19. ”Yang satunya ibu mertua dari rekan kita, beliau juga sama tidak tinggal serumah, tapi setiap hari berinteraksi dengan ibunya. Kemudian, rekan kami menjalani isolasi mandiri sekeluarga,” jelas dia.

Atas kejadian itu SMPN 1 Kudu memutuskan untuk lockdown  sementara selama 10 hari. Keputusan itu diambil sebagai upaya untuk memutus persebaran virus dari guru dan karyawan yang melakukan kontak erat. Sehingga semua guru dan karyawan menjalani work from home alias bekerja dari rumah. ”Pembelajaran daring tetap berjalan dan tidak ada kendala,” jelas Siswoko lagi.

Selain itu, pihaknya juga berencana melakukan penyemprotan disinfektan untuk membersihkan semua area sekolah. ”Memang itu akan kami lakukan untuk mencegah penularan di lingkungan sekolah,” tegasnya.

Sekolah kedua yang memutuskan lockdown adalah SDN Sumberjo 2 Wonosalam. Keputusan ini diambil setelah ada salah satu guru yang terkonfirmasi Covid-19. Guru ini tertular dari suaminya yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Mojokerto.

Koordinator Wilayah Kerja (Korwilker) Pendidikan Kecamatan Wonosalam Legihadi, membenarkan satu guru SD yang terkonfirmasi positif setelah uji swab Rabu (9/9). Guru tersebut sehari-hari mengajar di SDN Sumberjo 2 Wonosalam. Namun berdomisili di Kabupaten Mojokerto. ”Suaminya adalah nakes di Mojokerto. Kemungkinan ya tertular dari suami,” jelasnya.

Guna mencegah penularan Covid-19, SDN Sumberejo 2 ditutup sementara. ”Setelah kami koordinasikan dengan puskesmas, kami minta guru menjalani work from home. Tapi di sekolah tetap ada petugas yang piket,” tegas Hadi, sapaan akrabnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Jombang Agus Purnomo, tak menampik adanya dua sekolah yang di-lockdown sementara untuk memutus penyebaran Covid-19. ”Memang kami terima laporan dari SMPN 1 Kudu dan SDN Sumberejo 2 Wonosalam,” jelasnya.

Pihaknya mengaku sudah menindaklanjuti dengan menyarankan isolasi mandiri di rumah bagi guru dan karyawan yang keluarga terpapar Covid-19. ”Pembelajaran dan pemberian tugas dilakukan dari rumah. Dengan harapan dapat memutus mata rantai. Jangan sampai ada klaster baru di lingkungan pendidikan,” pungkas Agus.

Harus Diwaspadai Semua Pihak

SEMENTARA itu Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jombang dr Achmad Iskandar Dzulqornain menyebut sebaran kasus Covid-19 di Jombang memang belum stabil. Grafik angka temuan kasus masih naik turun sehingga  harus diwaspadai oleh semua pihak. 

”Jadi kesehatan harus benar-benar jadi prioritas bersama di saat pandemi seperti ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang. Mengaca hal ini menurutnya pembelajaran tatap muka harus menunggu perubahan zona wilayah. ”Boleh dilakukan kalau kondisi pandemi terkendali yang ditandai dengan berubahnya zona kuning, syukur-syukur hijau,” tambah dia.

Seandainya zona Kabupaten Jombang berubah kuning, menurutnya belum tentu dapat langsung melaksanakan kegiatan tatap muka bagi jenjang SD/SMP. ”Tentu harus diwaspadai dahulu, terutama mengenai sebaran kasus baru apakah sudah stabil atau belum,” terangnya.

Untuk itulah sebelum sekolah benar-benar dibuka, IDI  berharap Dinas P dan K mempersiapkan sarana prasana di sekolah yang dapat mencegah penularan Covid-19. Mulai tempat cuci tangan sampai bilik disinfektan. ”Melalui para guru yang berinteraksi dengan siswa, kami juga mengimbau agar ikut mengedukasi masyarakat untuk disiplin menjalankan protokol kesehatan,” papar dia.

Dijelaskan, usia remaja dengan kelompok umur 20 tahun ke bawah memang memiliki imunitas lebih tinggi daripada orang dewasa. Namun, jika usia tersebut  terpapar Covid-19, maka tingkat kandungan virus dalam tubuh anak usia remaja lebih tinggi tiga kali lipat dibandingkan dewasa. ”Sehingga kalau itu sampai menularkan ke orang dengan resiko tinggi, justru semakin bahaya,” pungkas Iskandar.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP