alexametrics
Minggu, 25 Oct 2020
radarjombang
Home > Berita Daerah
icon featured
Berita Daerah

Saat Terpapar Covid-19, Sekdakab Akhmad Jazuli Sempat Tak Kuat Jalan

11 September 2020, 11: 25: 23 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

MESRA: Sekdakab Akhmad Jazuli bersama istri saat isolasi di RSUD Jombang.

MESRA: Sekdakab Akhmad Jazuli bersama istri saat isolasi di RSUD Jombang. (ISTIMEWA)

Share this      

JOMBANG - Konon, kunci sukses suami adalah istri. Termasuk kunci sembuhnya suami. Setidaknya, itulah yang diakui Sekdakab Akhmad Jazuli, 55, yang selama sakit, selalu setia ditemani sang istri tercinta.

“Kalau tidak didampingi istri, saya tidak tahu bagaimana menjalani isolasi,” kata Akhmad Jazuli, saat ditemui di ruang kerjanya di Pemkab Jombang, kemarin (9/9).

Maklum, pria kelahiran Mojokerto 5 Juli 1965 ini sangat rajin olahraga. Seminggu bisa dua kali bersepeda dengan jarak 5 hingga 30 kilometer. Dia juga menjabat presiden klub gowes Lodeh Cycling Club (LCC).

Namun begitu kena Covid-19, tenaganya habis sekali. “Jalan dari toilet ke bed saja saya tidak kuat. Bahkan untuk naik ke tempat tidur saja sudah menggos-menggos, nafas tidak kuat,” paparnya. Dia pun lantas minta pihak RSUD memberi undak-undakan agar lebih gampang naik ke ranjang.

Dalam kondisi seperti itu, petugas tidak terlalu berani mendekat. Petugas hanya datang saat mengantar makanan, obat atau melakukan pemeriksaan. “Untuk minum obat, diingatkan melalui suara karena kita terus dipantau CCTV,” papar Jazuli.

Dalam kondisi demikian, menurutnya, pasien yang sudah parah pasti akan kesulitan minum obat dan merawat dirinya sendiri di ruang isolasi. “Kalau pasien parah kemudian diisolasi sendirian, kayaknya sulit bertahan,” beber kakek satu cucu ini.

Untungnya, dia diisolasi dalam satu kamar bersama sang istri, Nuriyatin, 50. Sehingga ada yang menyiapkan obat yang hendak diminum. Mencuci pakaian hingga menyuapinya makan. “Saya sampai bilang ke istri, kamu itu benar-benar istri solihah,” ucap alumnus S3 Untag Surabaya ini.

Bapak dua anak ini lantas bercerita, mulai merasakan panas malam hari Selasa (14/7). Namun siangnya dia masih memaksakan kerja. “Waktu itu sudah terasa meriang. Saya pijatkan tapi tetap tidak hilang,” ungkapnya.

Kemudian Jumat (17/7) dia masih bisa menghadiri rapat dengan pimpinan DPRD. Kemudian Sabtu (18/7) membuka kongres PSSI. Sehari setelah itu (19/7), panasnya semakin tinggi disertai batuk, mual dan diare.

Senin (20/7) dilakukan rapid test dengan hasil nonreaktif. Saat itu keluhannya sudah bertambah dengan hilangnya nafsu makan. Malam harinya, tubuh Jazuli semakin panas dan fisik kian lemah disertai sesak nafas. “Selasa (21/7) Subuh saya minta dijemput ke RSUD,” jelasnya.

Tiba di RSUD, dia langsung diuji swab dengan hasil positif. “Panasnya sampai 39,” ujarnya. Foto paru-parunya terlihat sudah dipenuhi Covid-19. Saat itu juga, sang istri turut di uji swab. “Ketika tahu positif, istri saya justru malah senang bahkan sampai sujud syukur,” ucap pengasuh PP Al Khodijah dan Al Amin Kota Mojokerto ini.

Padahal istrinya tanpa gejala. “Ternyata dia bersyukur karena bisa diisolasi bersama sehingga bisa merawat saya. Dia takut kalau uji swab negatif nanti tidak bisa mendampingi saya isolasi,” urainya.

Selama isolasi, Nuriyatin total merawat pria yang pernah menjabat Kepala Dinas P dan K Kabupaten Mojokerto ini. “Karena selama ini terpisah jarak, masa isolasi 23 hari betul-betul kita manfaatkan untuk bersama,” tegasnya.

Nuriyatin sendiri juga berprinsip; merawat total suami sebagai ganti selama ini yang dirasa kurang maksimal dalam mendampingi. Maklum, Nuriyatin juga tercatat sebagai ASN di Inspektorat Kabupaten Mojokerto. Sementara Jazuli berdinas di Kabupaten Jombang.

“Alhamdulillah selama isolasi kita bisa terus salat jamaah berdua,” tambahnya. Awal diisolasi, Jazuli salat dengan duduk. “Karena kalau salat berdiri tidak kuat. Dari sujud kemudian berdiri rasanya pusing, nggeliyeng,” terangnya. Usai salat, doa yang dia minta hanya satu. “Semoga lekas sembuh dari Covid-19 dan bisa kumpul keluarga,” papar dia.

Selama isolasi, tiap hari Jazuli banyak membaca Alquran. “Tiap hari baca Yasin, Waqiah dan tabarok,” bebernya. Ketika kondisinya makin membaik, sehari dia membaca Alquran lima sampai enam juz. “Seminggu hatam,” paparnya. Dia pulang setelah hasil uji swab 12 Agustus menunjukkan negatif. “Saat itu bareng. Saya negatif, istri juga negatif,” urainya.

Sebelum pulang, dia mendoakan agar semua pasien korona sembuh. “Selama menjalani isolasi, setiap ada pasien pamit pulang pasti minta doa saya. Jadi tetap serasa di pesantren,” paparnya.

Berdasar pengalaman itulah menurut Jazuli, korona nyata ada. “Saya sudah merasakan. Maka tolong jangan diremehkan. Protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan. Tidak salaman, jaga jarak dan cuci tangan pakai sabun,” pungkas dia.

(jo/jif/mar/JPR)

 TOP