alexametrics
Jumat, 25 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Budidaya Bunga Aglonema Mulai Ramai di Jombang, Harganya Jutaan Rupiah

11 September 2020, 11: 22: 21 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Bunga sri rejeki alias aglonema sedang naik daun. Tanaman itu menjadi salah satu incaran pecinta tanaman hias di masa pandemi. Maklum, perawatannya tidak rumit dan bernilai ekonomi cukup tinggi.

Bunga sri rejeki alias aglonema sedang naik daun. Tanaman itu menjadi salah satu incaran pecinta tanaman hias di masa pandemi. Maklum, perawatannya tidak rumit dan bernilai ekonomi cukup tinggi. (AZMY ENDIYANA Z/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Bunga sri rejeki alias aglonema sedang naik daun. Tanaman itu menjadi salah satu incaran pecinta tanaman hias di masa pandemi. Maklum, perawatannya tidak rumit dan bernilai ekonomi cukup tinggi.

JOMBANG - Sekilas tak ada yang membedakan antara aglonema dulu dengan sekarang. Tumbuhan dari suku talas-talasan yang disebut bunga sri rejeki ini dominan daun. Berbentuk panjang dan berujung runcing.

Pada jenis aglonema lisptik misalnya, bentuk mirip sekali dengan lipstik. Merona sangat cantik. Batangnya pun berwarna merah menyala. Maka tak heran jika jenis aglonema yang satu ini dijuluki Red Gold. 

Menurut Taufik Darmawan, merebaknya pehobi tanaman menjadi kesempatan mendatangkan pundi-pundi rupiah. Tak heran, di halaman rumahnya, berjejer rapi puluhan bunga aglonema. Jenisnya bermacam-macam.

Ia menduga, pandemi korona sebagai pemicu karena ada kebijakan sosial dan physical distancing yang membuat banyak orang memanfaatkan waktu luang untuk merawat tanaman atau mempercantik pekarangan di rumah.

Bisa ditebak, ujung-ujungnya tanaman jenis ini menjadi salah satu buruan pecinta tanaman. “Kejayaan aglonema kembali lagi setelah lima tahun lalu,” ujarnya.

Pria berusia 37 tahun ini mengaku, awalnya hanya sekedar hobi lama berkebun. Boming aglonema membuat ia tetap produktif di tengah pandemi karena sektor konstruksi yang dijalaninya sedang lesu.

Sehingga dia kini lebih fokus budidaya tanaman hias, khususnya aglonema.

Tanaman hias koleksinya itu dijadikan bibit untuk memperbanyak tanaman. Itu pun masih dianggap tidak cukup. Maklum, butuh waktu cukup lama untuk budi daya tanaman musiman ini.

Ada puluhan jenis aglonema koleksi yang dikembangkannya, mulai harga puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Belum termasuk jenis tanaman hias lain yang memiliki warna dan bentuk beragam.

Ia menyebut, tanaman yang bisa dijadikan bahan budidaya umumnya berumur lebih dari satu tahun. Caranya dengan memotong batang sesuai dengn kebutuhan.

Cara ini dianggap lebih cepat. Meski sebenarnya ada cara lain, yaitu dengan menunggu tanaman hias tersebut bertunas. “Tapi cara ini lebih lama,” bebernya.

Bukan tanpa risiko. Dengan teknik cacah potong batang ini Taufik harus siap jika ada batang yang tidak bisa tumbuh maksimal. Begitu pun ketika sudah bertunas.

Belum lagi kendala lain yang dihadapi seperti serangan hama tanaman. “Kalau hama cabuk aman, yang gawat itu kalau kena jamur, bisa busuk dan mati,” terang dia.

Bapak dua anak ini memiliki dua tempat yang digunakan untuk menampung tanaman hias. Yakni di area displai dan area pembudidayaan.

Dia pun cukup menggunakan paranet untuk membuat suasana penyimpanan tanaman hias ini adem bagi pengunjung. Lebih dari itu,  paranet juga berfungsi lain yakni bisa memunculkan warna tanaman.

Meski sama-sama melindungi dari sengatan matahari, kerapatan paranet ini ternyata disesuaikan dengan jenis tanaman di bawahnya.

“Jadi setiap tanaman itu memiliki kebutuhan panas berbeda,” terangnya. Dari berbagai jenis aglonema yang ditanam, jenis Red Anjamani menurutnya paling diburu dan memiliki harga cukup tinggi. Karena mempunyai warna merah mencolok.

”Kalau sehari tidak tentu, yang jelas masih puluhan pot bisa terjual. Saya juga masih terus menambah koleksi agar peminat masih banyak. Ini saya lagi memburu yang jenis red tiger. Itu sangat sulit dicari,” pungkasnya.

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP