alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

KH Zuhalkusumo, Perintis Organisasi Muhammadiyah Jombang

08 September 2020, 19: 00: 48 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Zuhalkusumo

KH Zuhalkusumo (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Ia adalah seorang perintis Muhammadiyah di Kabupaten Jombang. Sosoknya juga dikenal cukup familiar di kalangan ulama, baik di NU ataupun pejabat.

Dia adalah KH Zuhalkusumo. Lahir di Kauman Yogyakarta 1916 silam, ia merupakan anak ke-3 Ki Bagus Hadikusuma, seorang tokoh pahlawan nasional yang juga tokoh BPUPKI.

Riwayat pendidikan KH Zuhalkusumo dimulai ketika lulus dari kweekschool muhammadiyah 1933. Kemudian dia dikirim ke Semarang untuk menjadi guru Muhamadiyah.

Kemudian awal 1938, KH Zuhalkusumo pindah ke Jombang untuk menjadi guru Muhammadiyah. Selain menjadi guru, ia juga menjadi pembina organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah serta sering memberi ceramah terbuka dalam beberapa kegiatan pengajian yang ada di Jombang.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya Zuhalkusumo jatuh hati kepada seorang kader Aisyiyah asli Jombang bernama Nasichah. Hubungan rumah tangga mereka dikaruniai 7 orang anak sebelum akhirnya Nasichah meninggal dunia.

Beberapa tahun kemudian, Zuhal kembali menikah dengan perempuan asal Probolinggo bernama Fatimah. Mereka dikarunia tiga orang anak yang kini masing masing tinggal di Jombang, Jogjakarta dan Purwokerto.

Sedangkan, beberapa anak Zuhal dari isteri pertama juga ada yang menetap di Jombang dan Klaten Jawa Tengah. Selain dikenal menjadi guru dan pembina Muhammadiyah, Zuhal juga pernah menjadi ketua pimpinan daerah Muhammadiyah Jombang.

Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah di Jombang menjadi berkembang dan terkenal. Meski demikian, hubungannya dengan tokoh Nahdlatul Ulama juga sangat baik. Zuhal dikenal memiliki hubungan baik dengan Yusuf Hasyim (Ponpes Tebuireng), Abdul Khaliq Hasyim dan Abdul Karim Hasyim.

Dalam Pemilu 1955 lalu, dia terpilih menjadi anggota DPRD Jombang dan menjadi ketua DPRD Jombang lewat Partai Masyumi. Lalu tahun 1965 dia dipindah ke Jogjakarta oleh menteri agama.

Sejak saat itu dia menjadi anggota PP Muhammadiyah. Dia juga menjadi Kepala Perwakilan Departemen Agama Daerah istimewa Yogyakarta hingga 1972. 

Setahun kemudian, Zuhalkusumo mulai sering terganggu penyakit darah tinggi dan sering keluar masuk rumah sakit. Namun demikian, dia masih sering menjadi penceramah di beberapa kegiatan pengajian. Beberapa tahun setelah itu, tepatnya 1975, KH Zuhalkusumo meninggal dunia di usai 59 tahun.

Kembangkan Muhammadiyah dengan Ceramah

DALAM mengenalkan sekaligus mengembangkan Muhammadiyah di Jombang, KH Zuhalkusumo dikenal memiliki cara yang santun. Selain ceramah dan dakwah di kegiatan pengajian, ia juga berdialog dengan memadukan kearifan lokal masyarakat sekitar.

”Beliau memang sering ceramah dalam kegiatan pengajian,” ujar Djufroh, 68 anak ke-6 KH Zuhalkusumo, ditemui dirumahnya di Jombang, kepada Jawa Pos Radar Jombang beberapa waktu lalu.

Selain berceramah, Zuhalkusumo juga menggunakan pendekatan secara langsung, sering berdialog dengan memadukan kearifan lokal masyarkat zaman dahulu. ”Misalnya orang orang zaman dahulu itu suka skak, mereka sambil skak bapak sering berdialog sambil mengenalkan Muhammadiyah,” tambahnya.

Selain itu, semasa hidup Zuhalkusumo dikenal rendah hati dan tidak neko-neko. Padahal ia pernah menjabat ketua DPRD Jombang dan Kepala Kemenag Jombang sebelum dipindah ke Yogyakarta. ”Dulu itu tinggal di Jl KH Wahid Hasyim, kebiasaan kalau sopir tidak datang tepat pukul 07.00 maka dia berangkat dulu pakai sepeda ontel,” tuturnya.

Bahkan, selama menjadi ketua DPRD Jombang juga tidak pernah menerima fasilitas rumah dinas. Djufroh pun tidak mengetahui kenapa sang ayah memilih tetap sederhana dalam kehidupannya, meski menjabat sebagai ketua dewan.

Menurutnya, Zuhalkusumo adalah sosok yang sederhana dan jujur. Hal itu membuat sang bapak disukai beberapa sahabat, rekan maupun pengikut. Bahkan, sebelum Zuhalkusumo meninggal, berpesan secara khusus kepada seluruh anaknya.

”Dulu bapak pesannya gini, saya tidak punya warisan apa-apa. Kalian sesama saudara harus hidup rukun dan saling membantu,” kenangnya menirukan pesan Zuhalkusumo semasa hidup.

Dari Guru Hingga Ketua Muktamar

KIPRAH dan perjuangan KH Zuhalkusumo dalam membesarkan nama Muhammadiyah tidak berhenti di Kabupaten Jombang. Setelah dipindah Menteri Agama, kiprah KH Zuhalkusumo terus berlanjut di kancah nasional, beberapa tahun menjadi ketua muktamar Muhammadiyah  secara berturut turut.

”Jadi beliau itu pindah dari Jombang tahun 1965. Dipindahkan menjadi Kepala Perwakilan Departemen Agama Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak saat itulah beliau menjadi anggota PP Muhammadiyah,” tambah Djufroh kembali.

Sejak menjadi anggota PP Muhammadiyah, KH Zuhalkusumo seringkali berperan aktif di berbagai kegiatan. Mulai internal organisasi PP Muhammadiyah hingga kegiatan eksternal lain.

”Meski sudah sibuk dengan posisinya sebagai kepala Kanwil Kemenag dan anggota PP Muhammadiyah, beliau tidak pernah menolak jika diminta menjadi penceramah di pengajian,” jelas dia.

Djufroh menceritakan, dalam karir perjalanan ayahnya. Zuhalkusumo sering menjadi panitia hingga ketua muktamar Muhammadiyah.

”Misalnya menjadi wakil ketua panitia pusat Muktamar Muhammadiyah ke 37 di Jogjakarta 1968, lalu pada Muktamar di Ujung Pandang dia juga menjadi wakil ketua. Lalu pada Muktamar ke 39 di Padang dia menjadi ketua, itu karena beliau konsisten dalam memperjuangkan Muhammadiyah,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia