alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Dian Sukarno, Budayawan, Seniman, dan Penelusur Sejarah Asal Jombang

08 September 2020, 18: 57: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Dian Sukarno (kiri) semasa aktif sebagai reporter radio.

Dian Sukarno (kiri) semasa aktif sebagai reporter radio. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Ia adalah seorang budayawan, seniman sekaligus penelusur sejarah. Lebih dari 10 tahun ia melakukan penelusuran sejarah desa-desa di Jombang, terkumpul lebih dari 450 sejarah yang berhasil diungkap. Dian Sukarno nama populernya, lebih populer dari nama aslinya yaitu Wiji Mulyo Maradianto.

Dian merupakan nama akhiran dan Sukarno adalah nama ayahnya. Dian kecil, lahir di Jombang 1 Agustus 1972. Anak kelima dari enam bersaudara pasangan Sukarno dan Muntamah. Semasa kecil, Dian menghabiskan waktunya di Dusun Kemuning, Desa Tanggungan, Kecamatan Gudo. 

Riwayat pendidikan dimulai dari SDN Tanggungan Gudo lulus 1985 dan melanjutkan pendidikan ke SMPN 1 Perak. Dian berasal dari keluarga sederhana, ayah dan ibunya bekerja sebagai petani. Usai lulus SMP, Dian melanjutkan sekolah ke STM (SMKN 3 Jombang) yang berada di Jl Dr Soetomo.

Semasa sekolah, ia getol berorganisasi. Terbukti beberapa ekstrakulikuler dia ikuti seperti pramuka, karang taruna, pengurus lingkungan dan aktif di dunia seni tari.

Dian mengaku berkecimpung di organisasi hampir 10 tahun, hingga akhirnya dia menikah dengan gadis pujaannya Lukiati. Usai menikah, Dian melanjutkan kuliah di pendidikan guru di Unhasy. Namun belum sampai lulus, ia memilih tidak melanjutkan sekolah, karena bekerja di salah satu radio swasta di Jombang.

Sebagai reporter di radio swasta di Jombang empat tahun, dia  kemudian berlabuh di radio lain di Jakarta hingga 2014.  Usai memutuskan keluar dari dunia jurnalistik, Dian memilih menekuni dunia seni budaya. Sebelumnya, dia juga aktif sebagai penari di salah satu grub campursari di Jombang.

Dengan bekal jaringan yang luas, Dian memberanikan diri  membuka sanggar tari di Jombang dengan mengundang kenalannya, baik dari pegiat seni, LSM, maupun aktivis untuk meminta izin sekaligus minta masukan untuk mendirikan sanggar tari Lung Ayu.

Dari situlah awal mula perjalanan sanggar tarinya dimulai. Mendirikan sanggar tari ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Sanggar tarinya sempat berpindah tempat, dari semula di Jalan Kusuma Bangsa (rumah kontrakan),  pindah ke Sengon, hingga sekarang ke Dusun Subentoro, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto.

Terinspirasi Ucapan Gus Mus

DIAN Sukarno dalam menelusuri sejarah Jombang awalnya terinspirasi ucapan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang yang juga Rais Syuriah PBNU, saat peresmian Jl Gus Dur beberapa tahun silam di Jombang.

Kala itu, Gus Mus mewanti-wanti Bupati Suyanto agar meneliti air yang ada di Jombang. Sebab, di Jombang banyak melahirkan tokoh baik nasional maupun internasional. Mulai dari Presiden KH Abdurahman Wahid, KH Bisri Syansuri (tokoh Pendiri NU) maupun KH Hasyim Asy’ari yang juga pendiri NU.

”Saat itu saya merasa terganggu ketika ada orang mengatakan, di Jombang apa yang dibanggakan? karena itu tidak sesuai ucapan Gus Mus,” ungkapnya.

Dari ucapan Gus Mus itulah, Dian mulai bertekad ingin membuktikan bahwa di Jombang ada ribuan sejarah yang belum terungkap.

Dari 306 desa/kelurahan yang ada di Jombang dia meyakini ada sekitar empat sampai lima legenda dari satu desa. Bahkan, sejak melakukan penelusuran sejarah lebih dari 10 tahun silam, sudah ada 450 legenda yang dia ungkap. ”Target saya ada 1.500 legenda,” ujarnya.

Semua desa di Jombang menurutnya memiliki sejarah. Semisal Desa Bareng itu berasal dari Bar dari kata jembar yang berarti luas dan reng dari kata ereng-ereng. Nah, jika dikaitkan, menurut legenda maupun cerita rakyat, Bareng merupakan desa yang luas namun letaknya di ereng-ereng (kaki Gunung Anjasmara, Red).

Sejak saat itu, dia sering kali nglutus alias blusukan ke daerah yang belum sering dikunjungi orang lain. Hingga akhirnya pada 2007, buku edisi pertama berjudul kumpulan cerita rakyat Jombang berhasil terbit. ”Total hingga sekarang sudah ada 8 buku yang sudah saya tulis,” lanjutnya.

Buku ke-2 hasil tulisan Dian misalnya, berjudul biografi para Bupati Jombang terbit 2011. Lalu buku ke-3 berjudul legenda Jombang (tiga bahasa) yang juga terbit 2011. Lalu, buku ke-4 berjudul Candradimuka, yakni sebuah buku tentang sejarah Presiden Soekarno yang terbit 2013 dan buku ke-5 pulung kepresidenan terbit 2014.

”Saya ingin tidak hanya anak cucu kita yang menikmati sejarah ini, namun orang di Jombang agar tahu bahwa di Jombang memiliki banyak sejarah,” pungkasnya.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia