alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Haji Afandi ‘Kaji Pandi’, Tokoh Dermawan Laskar Hizbullah Jombang

08 September 2020, 18: 44: 50 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Haji Afandi ‘Kaji Pandi’

Haji Afandi ‘Kaji Pandi’ (ACHMAD RIZA W/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Tokoh satu ini adalah salah satu konglomerat yang pernah dimiliki Jombang semasa hidupnya. Lebih dari sekadar saudagar, petani dan peternak sukses ini juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan dan sejumlah kegiatan sosial pemerintahan di Jombang.

Ia bernama asli Afandi, namun akrab disapa dengan Haji Affandi. Bahkan, banyak juga yang kerap menyapanya dengan Kaji Pandi. Dilahirkan sekitar 1910-an, di dusun kecil yang dulunya bernama Semampir (sekarang Dusun Jagalan, Desa Kepatihan), ayahnya bernama Hasyim dan ibunya bernama Siti.

Keduanya memang sudah dikenal sebagai keluarga saudagar kaya raya. Tak banyak cerita yang dapat digali terkiat masa kecil Kaji Pandi hingga ia dewasa. Kekayaan yang dimiliki memang melegenda.

Ratusan hektar sawah yang tersebar di beberapa desa dan kecamatan hingga puluhan sapi, kuda hingga penjagalan atau rumah potong hewan, seolah menjadi bukti kuat ekonomi yang dimiliki.

“Kalau sawah itu dari Desa Banjardowo sampai di Peterongan, bahkan Sumobito itu ada. Belum sapi, kudanya saja 40 ekor, punya rumah potong sapi,” terang salah satu putrinya, Badiah.

Namun dengan kekayaannya, Kaji Pandi mampu menggunakan dengan cukup bijak. Selain rutin menggelar kegiatan sosial serta aktif beramal, kekayaannya juga menuntun dia dekat dengan penguasa, terutama di level politik pemerintahan hingga agama.

“Kalau berpengaruh ya pasti, hampir semua bupati di zaman itu pasti dekat sama abah. Bahkan abah juga dekat dengan empat kiai besar di pondok pesantren. Jadi dulu istilahnya, kalau empat pesantren ini menjaga Jombang dari luar. Abah ini yang menjaga di dalam, karena lokasinya dalam kota,” lanjutnya.

Selain aktif dalam kegiatan sosial, Kaji Pandi juga dikenal sebagai orang yang merintis sejumlah organisasi. Sebut saja Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) di Jombang, Persatuan Sepak Bola Hisbul Wathon (PSHW) serta beberapa organisasi kemasyarakatan lain.

Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, Kaji Pandi tercatat dalam rentetan nama-nama orang berpengaruh yang bergerak pada laskar Hizbullah Jombang. Iia sempat menjadi bagian perlengkapan serta donatur yang sangat berharga pada pergerakan pejuang.

“Beliau (Kaji Pandi, Red) orang yang langsung diajak mbah Wahab (KH Abdul Wahab Chasbulloh) saat diperintah KH Hasyim Asy’ari mendirikan Laskar Hizbullah Jombang. Tentu pertimbangan aset dan kemampuan pendanaan yang utama,” terang Moch Faisol, penulis buku Jejak laskar Hizbullah Jombang.

Selain didapuk menjadi anggota pada divisi perlengkapan, ia juga menjadi bagian penting dari pelatihan perjuangan. Karena kompleks rumahnya sempat dijadikan benteng dan markas tentara Hizbullah bersamaan dengan kompleks rumah dinas PG Djombang baru yang memang berdekatan.

“Selain itu, sumbangan Kaji Pandi cukup besar untuk menjamin ketersediaan perlengkapan, logistik dan segala keperluan Laskar Hizbullah Jombang selama menjalani pemusatan latihan mulai Agustus hingga Oktober 1945,” lanjutnya.

Memiliki 9 anak dari tiga istri, Kaji Pandi akhirnya meninggal dunia pada 1989 dan dimakamkan di makam keluarga di Dusun Jagalan Desa Kepatihan Kecamata/Kabupaten Jombang.

Berbagi Tiada Henti

BAGI Kaji Pandi, memiliki harta lebih ternyata tak membuatnya kikir. Upaya mendermakan harta yang dimilikinya dilakukan dengan banyak cara. Mulai langsung, sejumlah sumbangan kepada banyak pihak hingga sejumlah tanah wakaf.

Ini yang dikatakan kali pertama putrinya, Badiah saat ditanya soal apa yang khas dari abahnya. Menurut dia, abahnya orang yang tak pernah menolak permintaan bantuan apapun.

“Ya setiap ada yang minta pasti dikasih sama abah, yang penting jujur dan penggunaannya jelas. Bahkan kadang-kadang tanpa minta pun kalau abah melihat kasihan, pasti langsung diberi,” terangnya.

Dia kemudian bercerita perihal bantuan yang diberikan kaji Pandi kepada sekolah yang ditempati salah satu cucunya. Saat itu, sekolah nampak kumuh dan rusak di seluruh bagian.

“Waktu abah kesana langsung ngomong, sekolah kok koyok ngene, mbok yo diapik i, kono njupuk sapi nang omah terus dol en, tapi nek gak mbok gawe tak orat arit temen sekolahanmu. Itu caranya abah, jadi dia pasti mau membantu tapi harus jelas penggunaannya,” ucapnya menirukan sang abah.

Kaji Pandi disebut Badiah punya agenda rutin setiap hari di rumah. Dengan mengendarai bendi kesayangan, ia biasa berkeliling Jombang. Tak sekadar berkeliling, ia juga biasa membagikan uang kepada orang-orang yang ditemui.

“Jadi kalau muter-muter pakai bendi abah pasti bawa uang di karung, uang koin. Kalau nanti ketemu anak-anak dibagi-bagikan begitu,” sambungnya.

Karena itu, Kaji Pandi cukup disegani. “Walau kaya, hartanya dibagi-bagikan untuk orang lain. Jadi tidak heran kalau sangat dekat dengan orang yang kelas bawah sampai kelas atas,” pungkas dia.

Berkuda Hingga Sepak Bola

Kaji Pandi ternyata juga salah satu penghobi olahraga. Dua olahraga yang ditekuninya, sepak bola dan berkuda. Cerita ini disampaikan cucunya yang ditemui Jawa Pos Radar Jombang, Abdul Hamid Muzakki, kemarin. Ia menyebut kakeknya memang penggemar berat olahraga terutama berkuda.

“Kalau kuda memang sudah hobi beliau sejak muda,” terang Mamik sapaan akrabnya. Meski penghobi, Kaji pandi disebut bukan seorang penunggang kuda, namun lebih pada pengoleksi kuda. Tak sembarang kuda yang ia pelihara, khusus kuda pacu yang siap dilombakan. Selain beberapa kuda lain yang biasa digunakan andong untuk bepergian.

“Dulu ada sampai 40 kuda, khusus pacu, sebelah rumah ini dulu memang kandang kuda, jadi latihannya disini. Bahkan saya yang sangat dekat sama abah yai (Sapaan akrabnya kepada Kaji Pandi, Red) karena kebetulan saya juga hobi berkuda. Saya salah satu joki kuda beliau,” lanjutnya.

Selain rutin mengikuti setiap pacuan kuda di berbagai wilayah di Indonesia, ia sempat merintis persatuan olah raga berkuda pertama di Jombang bahkan Jawa Timur. “Namanya Pordasi, Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh indonesia untuk cabang Jawa Timur, ya abah yai salah satu perintisnya,” sambung dia lagi.

Selain berkuda, hobi yang sangat digemari Kaji Pandi olahraga sepak bola. Tak sekadar main bola, dengan modal dana yang dimiliki, ia membuat klub sepak bola yang diberi nama Persatuan Sepak Bola Hisbul Wathon (PSHW). “Memang untuk dua olahraga itu sangat suka, jadi tidak tanggung-tanggung,” imbuh Mamik.

Bahkan dari dua olahraga ini ratusan piala sempat bertengger di rumahnya kala itu. Meski kini ratusan piala itu sudah hilang, namun jejaknya dapat ditemukan dalam salah satu bingkai foto lawas. “Di foto itu abah yai sama istrinya sedang duduk di depan sebuah meja, di belakangnya itu penuh piala,  hasil kuda sama bola,” pungkasnya.

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia