alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

KH Sulthon Abdul Hadi, Kiai yang Mahir Berbahasa Inggris

08 September 2020, 18: 42: 05 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Sulthon Abdul Hadi

KH Sulthon Abdul Hadi (mualliminenamtahun.net)

Share this      

JOMBANG – Kiai ini dikenal sabar, itiqomah, baik dalam menjalani kehidupan maupun mengimplementasikan ilmunya. Dia adalah KH Sulthon Abdul Hadi, yang cukup disegani di PP Bahrul Ulum Tambakberas.

Pengasuh ribath Al-hikmah Bahrul Ulum ini lahir di Jepara Jawa Tengah 30 Desember 1949. Sang Pencipta memanggilnya di usia ke-68, pada 22 November 2018.

KH Shulton Abdul Hadi adalah anak dari pasangan kiai Abdul Hadi dan Hj Solihah di Jepara. Sejak kecil, dia mengenyam pendidikan di Ponpes Matholi'ul Falah Kajen. Meski tak pernah mengenyam pendidikan formal, kiai Sulthon mahir berbahasa inggris baik secara lisan dan maupun tulisan.

Di Kabupaten Jombang sendiri, KH Sulthon merupakan seorang pendatang. Sekitar 1980-an, dia menikah dengan Nyai Mutmainah Abdul Fattah anak dari KH Abdul Fattah di Ponpes Tambakberas.

Setelah beberapa tahun menikah keduanya belum dikaruniai anak. Kemudian, atas permintaan dari Nyai Mutmainah, KH Shulton diminta untuk menikah lagi agar mendapat keturunan.

Barulah, pada 1990 dia menikah dengan Nyai Masruroh, 60 asal Mojokerto. Dari istrinya yang kedua itu KH Shulton dikaruniai empat anak terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan.

Nyai Mutmainah meninggal dunia 23 Juni 2018 lalu. Sejak istri pertama meninggal, kiai Sulthon sakit-sakitan. Sekitar 100 hari kematin sang istri, kemudian KH Sulthon menyusul karena sakit yang dideritanya.

KH Sulthon mengalami komplikasi dan dirawat selama dua bulan di RS Saiful Anwar Malang. KH sulthon dimakamkan tepat di sebelah makam Nyai Mutmainah, di makam keluarga kompleks PP Bahrul Ulum.

Semasa hidupnya, KH Sulton dikenal penyabar dan penyanyang. Dimata seorang istri, dia adalah sosok yang tidak pernah marah kepada anak-anaknya.

”Beliau tidak pernah marah, hal yang saya ingat betul meski anaknya membuat kesalahan justru saya yang ditegur dan selalu mengajarkan agar saya tidak pernah memarahi anak,” ujar Nyai Masruroh, 60 ditemui kemarin.

Semasa hidup KH Sulton, dirinya juga sangat menyayangi santri-santrinya. Dia tidak pernah membentak apalagi memarahi. ”Beliau adalah sosok yang sabar dan penyanyang baik kepada keluarga dan santri,” tegasnya.

Ditemui terpisah, KH Wafiyul Ahdi (Gus Wafi), keponakan kiai Sulthon yang juga ketua yayasan Bahrul Ulum mengatakan, kiai Sulthon adalah sosok kiai yang alim dan istiqomah. ”Belaiu begitu sabar dan istiqomah dalam mendampingi dan mengajar para santri ,” ujar dia.

Tidak hanya itu, kepandaiannya berbahasa Inggris, membuat kiai Sulthon dikenal sebagai salah satu kiai humoris. Dia memilliki metode penyampaian materi yang tidak bikin bosan. Karena sering menyelipkan beberapa ungkapan umum (idioms) saat mengajar. ”Sehingga santri ini tidak jenuh,” pungkasnya.

Sosok Kiai Intelektual

SOSOK kiai Sulthon Abdul Hadi tidak hanya dikenal di kalangan santri PP Bahrul Ulum. Nama kiai Sulthon juga dikenal sebagai sosok kiai intelektual di dunia politik. Dia menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro DPC PKB Jombang tiga periode (2006-2011, 2011- 2016 dan 2016-2021).

”Kami sebagai keluarga PKB sudah berinteraksi dengan kiai Sulthon sejak 20 tahun lamanya. Sejak saya menjadi sekretaris, bendahara hingga sekarang ketua DPC,” ujar Masud Zurei, Ketua DPC PKB Jombang.

Menurutnya, kiai Sulthon adalah panutan. Selain dikenal alim, ia juga seorang intelektual karena tipe orang yang menggunakan kecerdasan untuk bekerja,  baik menjawab persoalan dari suatu masalah maupun kebijakan yang harus diambil. ”Selama ini beliau panutan kami, sebelum melangkah selalu meminta saran dan arahan beliau,” jelas dia.

Apalagi, kiai Sulthon sosok yang cakap dan komunikatif. Semua kader merasa nyaman dengan kehadiran istri Nyai Mutmainah tersebut. ”Sosok beliau menurut saya kiai yang besahaja dan bijak dalam mengambil keputusan,” paparnya.

Tingkat keilmuan kiai Sulthon sudah tidak diragukan lagi. Selain pandai agama, juga lancar berbahasa inggris. ”Saya tidak menyangka, bicara Bahasa Inggrisnya begitu native dan faseh sekali untuk seorang kiai sepuh. Selain itu, pengetahuan umum beliau juga sangat bagus,” jelas Masud.

Untuk itulah begitu mendapat kabar meninggal dunia, ia merasa kehilangan. ”Kami tidak akan pernah melupakan jasa-jasa beliau dalam membesarkan PKB,” tandasnya.

Semangat dan Motivasinya Tetap Hidup

WAFATNYA KH Sulthon Abdul Hadi membawa duka bagi keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras. Meski demikian, semangat dan motivasinya tetap hidup bagi para santri maupun alumni santri PP Bahrul Ulum.

Hal tersebut disampaikan Hj Mundjidah Wahab, Pengasuh Lathifiyyah 2 dan Wahabiyyah Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Dia mengatakan, semasa hidup KH Sulthon dikenal sebagai kiai yang telaten, ulet dan sering memotivasi para santri.

“Kiai Sulthon memang dalam memberi motivasi kepada masyarakat maupun generasi muda sangat bagus,” ujar dia.

Perempuan yang juga menjabat Bupati Jombang ini menambahkan, tidak hanya kepada para santri bahkan kepada masyarakat luar juga demikian.

”Kiprah beliau sudah dikenal sangat lama, beliau juga seorang tokoh masyarakat khususnya menjadi ketua dewan syuro PKB,” jelasnya.

Di mata Mundjidah, KH Sulthon dikenal tidak hanya mengajarkan agama kepada santri-santrinya. Tapi juga dikenal sebagai sosok kiai yang sering memberi masukan dan arahan. Kepedualiannya itulah yang membuat KH Suthon cukup dikenal.

”Beliau adalah sosok kiai sekaligus panutan bagi para santri di Ponpes Tambakberas, meski sudah wafat namun semangat dan motivasinya tetap hidup,” pungkasnya

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia