alexametrics
Senin, 21 Sep 2020
radarjombang
Home > Tokoh
icon featured
Tokoh

Maniati, Sang Perintis Batik Khas Jombang

08 September 2020, 18: 35: 35 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Maniati, Sang Perintis Batik Khas Jombang

Maniati, Sang Perintis Batik Khas Jombang (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Ia adalah maestro batik Jombang. Seorang perintis batik Jombang yang terkenal dengan motif Candi Rimbi dan Ringin Contong. Maniati namanya. Dialah adalah orang pertama yang merintis batik khas Jombang, yang kini motifnya digunakan seluruh instansi baik negeri maupun swasta di Jombang. Bagi pegiat batik, namanya tidak asing lagi.

Maniati lahir di Jombang 1935 silam. Ibu tujuh anak ini berasal dari Dusun Pelem, Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupeten Jombang. Sekilas tentang pendidikannya, ia mengawali masa kecil dengan bersekolah di Sekolah Guru Bantu (SGB) 1940-an selama kurang lebih 6 tahun.

Kemudian, pernah mengenyam pendidikan di salah satu Sekolah Rakyat (SR) pada zaman penjajahan Jepang selama 4 tahun. Sejak kecil, Maniati mengaku suka menggambar.

Dari beberapa mata pelajaran yang dia dapat di sekolah, dia paling suka dengan menggambar motif batik. Kemudian, selepas mengenyam pendidikan di SR dan SGB, ia pernah mengadi sebagai guru di sejumlah sekolah tingkat dasar.

Pertama kali menjadi guru, Maniati mengabdi di SDN Kedungjati Kabuh. Beberapa tahun berikutnya, tempat mengajar Maniati berpindah pindah. Mulai di SDN Temuwulan Perak, SDN Tanggungan Gudo, SDN Godong Gudo dan SDN Jatipelem Diwek.

Saking banyaknya sekolah, ia sampai tak ingat berapa jumlah sekolah tempat mengajar. Apalagi, minimnya guru kala itu membuat Maniati bekerja eksta mengajar di beberapa tempat, 2-3 sekolah setiap hari.

Pengabdiannya sebagai guru dijalaninya kurang lebih 44 tahun. Kemudian, di tahun 1953, ia pertama kali memulai usaha batik. Kala itu, usahanya masih skala kecil dan mengajak beberapa orang di desanya bergabung belajar membatik.

Usahanya sempat pasang surut karena dia sibuk mengajar. Tekat dia menggeluti usaha batik makin kuat, saatnjelang pensiun 1998-2000.

Dia ingin fokus menggeluti usaha batik. Mulanya, batik tulis yang dihasilkan bermotif alam sekitar, seperti bunga, binatang dan budaya lokal. Misalnya batik Singo Wono, Peksi Hudroso dan batik motif lainnya.

Seiring berjalannya waktu, usaha batik Maniati mulai dikenal di berbagai daerah. Dia bersama anak-anaknya, terutama anak ke-6, Ririn Asih Pindari sering mengikuti pameran batik di berbagai daerah. Dalam kesempatan itu, dia juga mengenalkan batik khas Jombang.

Motif Candi Rimbi hingga Ringin Contong

AWAL mula usaha batik di Desa Jatipelem, sebenarnya dia diundang Dinas Perindustrian Jombang bersama anaknya, Ririn Asih Pindari, untuk mengikuti beberapa kursus dan pelatihan membatik di Pemprov Jatim. Hasil dari pelatihannya itu diterapkan ke dalam usahanya hingga berkembang sampai sekarang.

Di akhir 2000, Maniati meresmikan usaha batiknya dengan nama Sekar Jati Star. Kala itu, belum ada satupun rumah batik di tempat tinggalnyat. Bahkan, dia mengklaim, usaha batiknya muncul pertama di Jombang yang mampu mengembangkan usaha batik secara konsisten, serta memberdayakan warga setempat.

Pada awal pemerintahan Bupati Suyanto, Maniati mendapat tawaran dari Pemkab Jombang untuk membuat motif batik khas Jombang. Dipilihlah saat itu motif candi Rimbi.

Rencananya, motif dari batik tersebut digunakan seragam para pegawai di lingkup Pemkab Jombang. ”Pak bupati memberi gambar motif candi Rimbi ke saya. Lalu diminta untuk membuatkan motif batik,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Meski sempat ragu untuk membuatkan motif tersebut, namun berbekal tekat dan keuletan, dia mencoba membuat motif candir Rimbi. Agar hasilnya terlihat memiliki seni, dia menggunakan batik tulis. ”Saat itu pakai canting lalu saya buatkan,” kenangnya.

Batik khas Jombangan ternyata cukup diminati setelah dirinya mengikuti pameran batik di Museum Batik Pekalongan. Beberapa pengunjung menilai motif batik Candi Rimbi asal Jombang yang dinilai mereka cukup menarik.

Karena memadukan budaya lokal dengan ikon tempat bersejarah di Jombang. Hal itu tentu tidak dapat ditemui di daerah lain. ”Untuk hiasan yang ada di Batik Jombang memang saya buat sendiri. Selain untuk mengisi ruang yang kosong, hiasan ini untuk memperindah motif Candi Rimbi,” tandasnya.

Lambat laun, batik Jombangan kian berkembang. Tepatnya, 2013 saat masa pemerintahan Bupati Nyono Suharli Wihandoko, ia bersama anaknya membuat desain baru perpaduan motif Candi Rimbi dengan motif Ringin Contong. ”Itu kami ajukan ke pak Nyono lalu diterima, saat itu dipakai seragam PKK,” pungkas dia.

Batik Jombangan Go Internasional

SELAIN pernah mengikuti berbagai macam pameran batik di Indonesia. Batik Jombangan buatan Maniati ternyata sudah Go internasional. Itu setelah, batik buatannya pernah diikutkan dalam sebuah pameran di Tokyo Jepang dan Yordania Timur Tengah.

Maniati mengaku, yang menghadiri pameran di luar negeri bukan dirinya, melainkan anaknya Ririn Asih Pindari. Itu karena dia sudah tua sehingga secara fisik tidak mampu mengikuti kegiatan tersebut.

”Kalau saya sering mengikuti berbagai pameran di daerah undangan dinas atau Pemkab Jombang. Untuk pameran diluar negeri anak saya,” ujar perempuan usia 83 tersebut.

Meski demikian, dia merasa sangat bangga. Karena hasil kreasi batik Jombang sudah dikenal di luar negeri. Batik Jombangan, lanjut ibu tujuh anak ini juga pernah diikutkan dalam Indonesia Fashion Week (IFW) 2015 di Jakarta Convention Centre Senayan. Kala itu, para pengunjung pemaran dibuat kagum dari hasil kreasi Batik Jombang. ”Itu juga yang mengenalkan anak saya,” tegasnya.

Kini, karena keterbatasan usia, Maniati memilih istirahat dari dunia batik. Namun, usaha batiknya tetap berjalan dengan dikelola anak dan cucu. Bahkan, dia memberdayakan warga setempat untuk memproduksi batik cap maupun batik tulis.

Selanjutnya, batik tersebut dipasarkan melalui rumah batik miliknya. ”Kalau produksi kadang disini, kadang di rumah mereka (pekerja, Red) masing-masing. Lalu mereka menyetorkan kesini,” papar dia.

Selain itu, di rumah batiknya di Desa Jatipelem, juga sering dikunjungi siswa atau mahasiswa dari berbagai daerah untuk keperluan tugas sekolah maupun penelitian tentang Batik Jombang.

Terakhir, digunakan mahasiswa Unesa untuk penelitan skripsi. ”Kalau SMK/SMA di Jombang setiap tahun selalu datang. Mereka ingin mengukuti pelatihan membatik,” paparnya lagi.

Dia pun merasa senang dikunjungi siswa maupun mahasiswa. Karena menurutnya, batik adalah warisan budaya yang harus dijaga dan dikembangkan. ”Karena mereka adalah generasi bangsa. Sehingga kami sangat terbuka berbagi ilmu membatik kepada mereka,” pungkas Maniati.

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia