alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Kota Santri
icon featured
Kota Santri

Hanya 13 SMA di Jombang yang Kantongi Izin Pembelajaran Tatap Muka

08 September 2020, 12: 09: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi.

Pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi. (WENNY ROSALINA/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG – Hanya 13 dari 46 SMA negeri dan swasta di Jombang yang diberi izin memulai kegiatan pembelajaran tatap muka terbatas, Senin kemarin (7/9). Uji coba itu dilakukan selama satu bulan ke depan dan terus dievaluasi sesuai perkembangan.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Jombang Trisilo Budi Prasetyo menjelaskan, hasil evaluasi berkala baru menyebut 13 SMA yang memenuhi syarat untuk memulai pembelajaran tatap muka terbatas.

”Kalau SMK sudah kami izinkan semua, namun semua belum mulai karena butuh persiapan sarana prarana. Tapi kalau SMA baik negeri dan swasta ada 13 lembaga,” ujarnya kemarin (7/9).

Dijelaskan, 13 lembaga itu SMAN Kesamben, SMAN Plandaan, SMAN Ploso, SMAN 3 Jombang, SMAN Bareng, SMAN Bandarkedungmulyo, SMAN Ngoro, SMAN Mojoagung, SMA Islam Mojopahit Mojowarno, SMA Trensains Tebuireng Ngoro, SMA Wahid Hasyim Tebuireng, SMA PGRI 1 Ploso, dan SMA PGRI Ngoro.

”Sedangkan lainnya menyusul sembari evaluasi,” terangnya.

Setiap minggu, lanjut Trisilo, akan dilakukan evaluasi secara bertahap. Pihaknya meminta 20 pengawas melakukan pemantaun ke 13 sekolah tersebut. Bila ada sekolah yang tidak menerapkan protokol kesehatan, maka izin pembelajaran tatap muka akan dicabut.

”Kalau diterapkan dengan baik kita lanjutkan, tapi kalau ada yang tidak menjalankan protokol Covid-19, maka sangsi izin akan kami cabut dan tidak diberi izin tatap muka terbatas minimal satu bulan,” papar dia.

Uji coba itu akan berjalan efektif selama satu bulan dengan penerapan protokol kesehatan. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Gugus Tugas PP Covid-19 Kabupaten Jombang serta IDI Jombang untuk melakukan evaluasi secara berkala itu. ”Kalau berjalan baik, Oktober nanti akan kami tambah,” jelasnya.

Bagi sekolah yang belum mendapat izin, maka dilarang mengadakan pembelajaran tatap muka di sekolah. ”Sebab secara syarat protokol mereka belum memenuhi, kalau dipaksakan nanti berisiko,” pungkas Trisilo.

Jurusan Tertentu Hanya 4-5 Siswa

SEMENTARA itu, siswa SMK yang mengambil kompetensi keahlian tertentu, tidak dihadirkan 10 persen. Seperti di SMKN 2 Jombang, khusus Tata Kecantikan, siswa yang masuk hanya empat sampai lima per kelas.

“Kita sesuaikan lagi dengan kondisi sekolah, khusus untuk kecantikan kita batasi empat sampai lima siswa per kelas,” kata Chotim Arrofiq Kepala SMKN 2 Jombang. Sebab, menurutnya satu siswa juga membawa satu orang lagi untuk praktik.

Sehingga kalau diisi 9 siswa, maka jumlah per kelas menjadi 18 orang. “Terlalu banyak, kita sesuaikan juga dengan kondisi sekolah, luas sekolah, dan kebutuhan, karena siswa yang masuk pasti praktik,” tambahnya.

Untuk kompetensi keahlian lain, seperti Tata Boga dan Tata Busana, satu kelas bisa diisi 9 siswa. “Kalau di SMK mobilitasnya tinggi, karena praktik, jadi ada beberapa aturan yang memang tidak bisa disamakan dengan yang hanya duduk dengan mendengarkan materi,” sambungnya.

Pembelajaran tatap muka di tempatnya diberlakukan tiga jam per shift. SMKN 2 Jombang membagi dua shift. Shift pertama mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Setelah siswa dipulangkan dan kelas dalam keadaan kosong, maka semua kelas akan disemprot desinfektan untuk memastikan aman dan steril. Sehingga siap digunakan siswa yang masuk shift berikutnya.

“Jeda dua jam, shift kedua masuk pukul 12.00 sampai 15.00 WIB, yang masuk ke sekolah semua praktik, yang di rumah materi melalui daring,” tambahnya. Menurut Chotim, jam tersebut masih sangat kurang.

Namun situasi pandemi, ia menyadari target kurikulum tidak mungkin tercapai. Yang terpenting kompetensi inti dan dasar sudah tersampaikan karena  kesehatan siswa menjadi hal utama. “Semua serba repot, harus ada penyesuaian,” pungkas dia.

(jo/ang/wen/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia