alexametrics
Minggu, 20 Sep 2020
radarjombang
Home > Jombang Banget
icon featured
Jombang Banget

Yeni Nuriyani dan Hobinya Membuat Tanaman Hias Artifisial dari Limbah

08 September 2020, 10: 43: 41 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Usaha rumahan tanaman hias dari limbah. Selain dibentuk menjadi bunga, bahan limbah juga diolah menjadi pohon.

Usaha rumahan tanaman hias dari limbah. Selain dibentuk menjadi bunga, bahan limbah juga diolah menjadi pohon. (AINUL HAFIDZ/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

Lima tahun terakhir, Yeni Nuriyani, warga Dusun/Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang menekuni usaha rumahan membuat tanaman hias dari limbah. Selain dibentuk menjadi bunga, bahan limbah juga diolah menjadi  pohon.

JOMBANG - Kala melintas di jalan Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek atau menuju wilayah Kecamatan Gudo, dari kejauhan nampak berbagai tanaman hias dipajang. Pepohonan setinggi orang dewasa. Selain itu ada bunga dan tanaman bonsai. Seluruhnya terbuat dari limbah.

Ya, kerajinan tanaman hias artifisial ini dilakukan Yeni Nuriyani. “Awalnya iseng-iseng membuat ukuran kecil, lama-lama banyak yang pesan,” katanya mengawali perbincangan dengan koran ini (5/9).

Menurut dia, proses pembuatan tanaman hias artifisial hampir sama dengan tanaman hias umumnya. Dia rakit sendiri, dan mempersiapkan bahan sendiri. Hanya saja, bahan yang digunakan lebih banyak dari limbah. “Hanya daun sama bunga saja yang beli di luar,” imbuh perempuan berusia 34 tahun ini.

Disebutkan, mulai dari pot hingga batang pohon atau pun batang bonsai, seluruhnya memanfaatkan limbah. Untuk pot misalnya, dari potongan triplek. Lalu dirangkai sedemikian rupa. “Permukaannya saya kasih lem dan semen, supaya lebih menarik saya kasih motif,” sambung Yeni.

Proses awal sebelum merangkai, kata dia, membuat pot terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama, sehari dia biasanya bisa membuat delapan pot dari limbah kayu triplek ini. Tentu, bergantung ketersediaan triplek. “Jadi semua tergantung bahan, sama ada tidaknya pesanan,” terangnya.

Untuk bahan berikutnya, batang pohon juga sama. Dari limbah, meski terkadang tetap membeli potongan kayu. Namun jumlah yang dibeli tidak banyak. “Kalau yang besar ini pakai kayu semua, ada yang kayu pohon asam, ada juga teh,” beber dia.

Kendati begitu, untuk rangkaian bonsai dia memanfaatkan limbah plastik. Yaitu baskom sisa berkat hajatan yang dia lebur dengan dilelehkan terlebih dahulu. “Kerangkanya ini dari kawat, setelah sudah meleleh dililitkan ke kawat. Sehingga bisa dirangkai sesuai pola,” terang Yeni.

Setelah pot dan batang pohon siap, baru kemudian pemasangan daun atau bunga. “Ini yang beli dari pabrik, sudah jadi tinggal masang saja,” sambung dia lagi. Dalam sehari, biasanya dia bisa membuat delapan tanaman hias berbagai bentuk. “Yang penting bahannya sudah siap semua bisa buat banyak,” papar dia.

Sejauh ini pemasaran kerajinan tanaman hias miliknya justru lebih banyak dipasarkan keluar Jombang. Pelanggannya rata-rata dari Kediri. “Kalau Jombang ini malah jarang, pernah sekali tapi nggak saya lanjutin. Pernah kirim ke Tulungagung dan Lamongan,” bebernya.

Untuk harganya menyesuaikan bentuk dan ukuran tanaman hias. “Yang murah ini Rp 20.000 bunga meja, tidak ada batangnya. Sedangkan yang mahal ini sampai Rp 500 ribu,” pungkasnya sambil menunjuk tanaman hias siap jual.

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia